Bestprofit | The Fed Potong Bunga, Dolar Melemah
Bestprofit (11/12) – Pada hari Rabu, dolar AS mengalami pelemahan signifikan terhadap hampir semua mata uang utama, termasuk euro, franc Swiss, dan yen Jepang. Penyebab utama pergerakan ini adalah keputusan terbaru dari Federal Reserve (The Fed), yang memangkas suku bunga acuan seperti yang sudah diperkirakan pasar, tetapi sekaligus memberi sinyal bahwa mereka mungkin akan berhenti sementara dalam kebijakan penurunan suku bunga pada pertemuan berikutnya di Januari. Keputusan ini mencerminkan keinginan The Fed untuk mengambil “istirahat sejenak” dan menilai data ekonomi selanjutnya sebelum melanjutkan kebijakan pelonggaran.
Bestprofit | Dolar Tertekan Menanti Kejutan Inflasi
The Fed Mengumumkan Pemangkasan Suku Bunga
Langkah yang diambil oleh The Fed pada pertemuan tersebut bukanlah kejutan besar. Seperti yang telah banyak diperkirakan oleh pasar, bank sentral AS memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (0,25%), membawa suku bunga ke kisaran 3,50% – 3,75%. Pemangkasan suku bunga ini dilakukan untuk mendukung perekonomian di tengah ketidakpastian global dan domestik yang terus berlanjut.
Namun, yang menjadi perhatian pasar adalah sinyal yang diberikan The Fed mengenai kebijakan moneter ke depan. Dalam konferensi pers pasca-pengumuman, Ketua The Fed, Jerome Powell, dengan jelas menyatakan bahwa langkah selanjutnya tidak akan berupa kenaikan suku bunga. Bahkan, menurut Powell, skenario kenaikan suku bunga sama sekali bukanlah “rencana dasar” mereka. Hal ini memberikan pesan yang jelas kepada pasar bahwa The Fed tidak berniat untuk meningkatkan suku bunga dalam waktu dekat.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Pandangan Internal The Fed yang Berbeda
Meskipun pemangkasan suku bunga ini disetujui oleh sebagian besar pejabat The Fed, keputusan ini tidak sepenuhnya bulat. Beberapa pejabat, termasuk Austan Goolsbee dari Fed Chicago dan Jeffrey Schmid dari Fed Kansas City, ingin mempertahankan suku bunga pada level yang ada tanpa ada pemangkasan lebih lanjut. Sementara itu, Stephen Miran dari Fed New York mendorong pemotongan yang lebih agresif, yaitu sebesar 50 basis poin.
Perbedaan pandangan di dalam internal The Fed ini mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi AS saat ini. Meskipun ada kekhawatiran terkait inflasi dan ketahanan pasar tenaga kerja, The Fed harus berhati-hati dalam mengambil langkah lebih lanjut agar tidak memperburuk kondisi ekonomi.
Proyeksi The Fed: Pemangkasan Suku Bunga Terbatas
Dalam proyeksi terbarunya, The Fed hanya memperkirakan satu kali lagi pemotongan suku bunga sebesar 0,25% pada tahun 2026, mirip dengan proyeksi yang mereka buat pada bulan September. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun The Fed mengambil langkah untuk mengurangi suku bunga, mereka tidak berniat untuk melonggarkan kebijakan secara agresif. Secara resmi, The Fed ingin memberikan pesan yang jelas kepada pasar: mereka tidak akan terburu-buru dalam menurunkan suku bunga lebih jauh.
Namun, meskipun proyeksi ini terkesan konservatif, pasar memiliki pandangan yang berbeda. Kontrak berjangka suku bunga (Fed funds futures) masih memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga hingga tahun 2026, yang akan membawa suku bunga ke sekitar 3,0%. Perbedaan pandangan ini menciptakan ketegangan antara narasi The Fed yang cenderung berhati-hati dan ekspektasi pasar yang lebih optimis mengenai kemungkinan pelonggaran lebih lanjut.
Reaksi Pasar Valuta Asing
Setelah pengumuman dari The Fed, pasar valuta asing merespons dengan cepat. Dolar AS langsung melemah, dengan penurunan sekitar 0,8% terhadap franc Swiss, turun ke level 0,8000. Dolar juga melemah 0,6% terhadap yen Jepang, yang berada di sekitar level 155,92. Euro menguat ke sekitar $1,1691, naik 0,6%, sementara indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, turun sekitar 0,6% menjadi 98,66.
Reaksi pasar yang tajam ini menunjukkan adanya kesenjangan antara data ekonomi dan narasi kebijakan The Fed. Di satu sisi, data ekonomi AS masih menunjukkan hasil yang campuran, dengan beberapa indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi, sementara di sisi lain, narasi yang dibangun oleh The Fed menunjukkan kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi yang dipengaruhi oleh tarif. Hal ini membuat dolar kurang menarik bagi investor, mendorong pelarian ke mata uang lain seperti euro dan franc Swiss.
Kelemahan Pasar Tenaga Kerja: Sinyal untuk Pelonggaran Lebih Lanjut
Salah satu faktor utama yang ditekankan dalam pernyataan The Fed adalah kelemahan pasar tenaga kerja. Meskipun pasar tenaga kerja AS tetap kuat dibandingkan dengan banyak negara lain, ada tanda-tanda pelambatan dalam beberapa sektor tertentu. Dalam proyeksi kebijakan mereka, The Fed mencatat bahwa ketidakpastian di pasar tenaga kerja dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk melakukan pemangkasan lebih lanjut.
Menurut Michael Rosen, seorang analis pasar, pernyataan The Fed yang menyoroti kelemahan pasar tenaga kerja sebagai alasan utama pemotongan suku bunga kali ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa pintu pelonggaran tambahan masih terbuka. Meskipun proyeksi resmi menunjukkan satu pemotongan lagi pada tahun 2026, pasar melihat ruang untuk kemungkinan pemangkasan lebih lanjut jika pasar tenaga kerja terus melemah atau jika inflasi tidak turun sesuai harapan.
Sentimen Pasar dan Peluang Dolar ke Depan
Sentimen pasar terhadap dolar AS saat ini cenderung lebih pesimis. Pelaku pasar menganggap bahwa kebijakan The Fed yang lebih berhati-hati dan perhatian terhadap pasar tenaga kerja menandakan bahwa dolar AS akan menghadapi tekanan lebih lanjut dalam jangka pendek. Reaksi tajam pasar valuta asing menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai The Fed akan lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru untuk melakukan pemangkasan lebih lanjut, meskipun proyeksi pasar menunjukkan kemungkinan pelonggaran yang lebih agresif.
Peluang bagi dolar AS untuk menguat kembali akan bergantung pada bagaimana data ekonomi selanjutnya, terutama terkait pasar tenaga kerja dan inflasi, berkembang. Jika data menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat dan inflasi terus menurun, The Fed mungkin akan mempertimbangkan untuk menahan suku bunga pada level yang ada atau bahkan menaikkannya sedikit. Sebaliknya, jika data ekonomi menunjukkan kelemahan lebih lanjut, pasar mungkin akan mengharapkan The Fed untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran yang lebih agresif.
Kesimpulan: Dolar di Tengah Ketidakpastian
Pelemahan dolar AS setelah pengumuman pemangkasan suku bunga oleh The Fed mencerminkan ketidakpastian yang melanda pasar. Meskipun langkah pemangkasan suku bunga tidak mengejutkan, sinyal dari The Fed bahwa mereka mungkin berhenti sementara dalam penurunan suku bunga memberikan dampak besar pada sentimen pasar. Pasar valuta asing bereaksi cepat, dengan dolar yang melemah terhadap mata uang utama lainnya.
Kebijakan The Fed yang lebih berhati-hati, ditambah dengan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja, menciptakan ketidakpastian di pasar forex dan aset berisiko. Meskipun proyeksi resmi menunjukkan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru dalam menurunkan suku bunga lebih lanjut, pasar tetap berharap akan ada pelonggaran lebih lanjut. Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data ekonomi yang akan datang untuk menentukan arah kebijakan moneter The Fed dan bagaimana hal ini akan mempengaruhi nilai dolar AS.















