BPF Malang

Image

Bestprofit | Dolar AS Masih Tertekan Pasca The Fed

Bestprofit (15/12) – Dolar AS masih menunjukkan pergerakan lesu di pasar keuangan global setelah keputusan The Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dalam pertemuan terakhirnya. Keputusan tersebut memberikan dampak besar terhadap pergerakan nilai tukar dolar, dengan Indeks Dolar AS (DXY) yang menunjukkan penurunan signifikan dan cenderung melemah sepanjang minggu. Pelaku pasar melihat langkah dovish dari The Fed sebagai sinyal bahwa bank sentral AS akan terus memberikan dukungan untuk mendorong pemulihan ekonomi, meskipun potensi pemangkasan lebih lanjut dapat mengurangi daya tarik dolar sebagai aset berimbal hasil tinggi.

Secara keseluruhan, keputusan ini mencerminkan perubahan sikap kebijakan The Fed yang lebih berhati-hati terhadap perkembangan ekonomi. Sementara pemangkasan suku bunga ini dirancang untuk mendukung perekonomian, hal itu juga berpotensi melemahkan daya tarik dolar dalam jangka panjang. Aliran dana dari dolar AS menuju aset lain seperti emas, perak, dan mata uang berisiko lainnya menjadi salah satu dampaknya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kebijakan Dovish The Fed Mengurangi Daya Tarik Dolar

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 bps memberikan sinyal yang jelas bahwa bank sentral AS mengambil langkah dovish. Langkah ini membuat daya tarik dolar AS sebagai aset berimbal hasil tinggi berkurang. Pemangkasan suku bunga mengurangi return yang diperoleh dari memegang dolar, sehingga beberapa investor mulai mencari peluang di aset lainnya yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti logam mulia atau mata uang berisiko.

Investor yang sebelumnya tertarik pada dolar karena yield yang lebih tinggi kini cenderung beralih ke pasar yang lebih menguntungkan. Emas dan perak, yang dikenal sebagai aset safe haven, mendapatkan perhatian lebih besar, karena mereka tidak dipengaruhi oleh perubahan suku bunga dan dapat menawarkan stabilitas di tengah ketidakpastian pasar. Begitu juga dengan mata uang negara berkembang yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga AS, yang cenderung mendapat aliran dana yang lebih besar karena mereka menawarkan potensi kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Bestprofit | The Fed Potong Bunga, Dolar Melemah

Tekanan pada Dolar AS dan Dampaknya pada Pasar Keuangan

Setelah keputusan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dolar AS terlihat bergerak dalam tren yang lebih lemah. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekumpulan mata uang utama lainnya, menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. DXY bertahan di area bawah, dan tekanan lebih lanjut pada dolar bisa diperkirakan, terutama dengan adanya ekspektasi pasar akan pemangkasan suku bunga lebih lanjut.

Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan memberi sinyal bahwa The Fed masih berfokus pada mendukung pertumbuhan ekonomi, meskipun hal ini bisa menyebabkan risiko inflasi di masa depan. Pasar keuangan sering kali menilai langkah-langkah kebijakan moneter tersebut dari dua sisi: satu sisi mendukung pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain dapat menurunkan daya tarik dolar yang menjadi aset refugio.

Secara lebih luas, pelemahan dolar ini membuka peluang bagi pasar aset lain, terutama yang bersifat lebih berisiko, untuk mendapatkan perhatian lebih besar dari investor global. Di pasar mata uang, misalnya, euro, poundsterling, dan yen, mulai menunjukkan tren penguatan, sementara di pasar komoditas, harga emas dan perak melanjutkan reli bullish mereka.

Rebound Tipis Dolar AS di Sesi AS: Koreksi Kecil atau Awal Pemulihan?

Meski pergerakan dolar AS cenderung melemah setelah pengumuman pemangkasan suku bunga, pada sesi perdagangan Amerika Serikat (AS), dolar sempat mencoba untuk rebound tipis. Rebound ini didorong oleh beberapa faktor teknikal, termasuk kenaikan imbal hasil obligasi AS dan adanya aksi ambil untung di pasar emas dan perak.

Naiknya imbal hasil obligasi AS di tengah ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak akan langsung melanjutkan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat memberikan sedikit dukungan terhadap dolar. Kenaikan yield ini memberikan daya tarik bagi investor yang mencari return lebih tinggi, terutama di pasar obligasi AS yang masih relatif aman. Meski begitu, pergerakan ini tampaknya lebih bersifat koreksi jangka pendek, mengingat tren jangka panjang yang cenderung melemah.

Bagi banyak investor, rebound ini lebih dipandang sebagai kesempatan untuk kembali melakukan aksi jual pada dolar, mengingat ekspektasi jangka panjang bahwa The Fed akan tetap menjaga kebijakan moneter yang dovish untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Pandangan Pasar terhadap Kebijakan The Fed: Tren Dovish yang Berlanjut

Meski dolar sempat mengalami sedikit rebound, pasar masih memperkirakan bahwa The Fed akan terus mengambil langkah dovish di masa depan. Pemangkasan suku bunga yang dilakukan baru-baru ini kemungkinan hanya permulaan dari kebijakan moneter yang lebih longgar, yang bertujuan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi AS. Pasar semakin yakin bahwa The Fed tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan jika kondisi ekonomi AS menunjukkan perbaikan.

Ekspektasi untuk pemangkasan suku bunga lanjutan menjadi faktor utama yang mengarah pada pelemahan dolar AS. Secara historis, suku bunga yang lebih rendah mengurangi daya tarik dolar karena return yang lebih rendah bagi investor asing. Oleh karena itu, aliran dana dari dolar menuju aset lain, seperti emas dan perak, menjadi lebih dominan, terutama karena logam mulia berfungsi sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, dengan kebijakan The Fed yang lebih dovish, pasar juga mulai mempertimbangkan potensi risiko inflasi yang dapat muncul akibat tingkat suku bunga yang terlalu rendah dalam jangka panjang. Hal ini semakin memperburuk outlook bagi dolar.

Mata Uang Lain dan Logam Mulia Berpeluang Terus Menguat

Di tengah pelemahan dolar AS, beberapa mata uang utama dan logam mulia menunjukkan potensi penguatan. Mata uang seperti euro dan yen berpeluang menguat karena ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter dovish The Fed akan meningkatkan aliran dana keluar dari dolar.

Sementara itu, emas dan perak, yang telah lama dianggap sebagai aset safe haven, terus menunjukkan performa yang solid. Kenaikan harga emas dan perak didorong oleh meningkatnya ketidakpastian pasar serta kebutuhan diversifikasi portofolio oleh investor. Dengan suku bunga rendah yang diperkirakan akan tetap bertahan untuk waktu yang lebih lama, permintaan terhadap logam mulia diperkirakan akan terus kuat, mendukung harga untuk tetap berada dalam tren bullish.

Kesimpulan: Dolar Tertekan, Namun Peluang Penguatan Mata Uang dan Logam Mulia Terus Terbuka

Dolar AS menghadapi tantangan besar setelah keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga. Meski ada koreksi tipis pada sesi perdagangan AS, tren jangka panjang dolar masih cenderung melemah. Kebijakan dovish The Fed, ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut, dan berkurangnya daya tarik dolar sebagai aset berimbal hasil tinggi berpotensi menyebabkan pelemahan lebih lanjut bagi dolar.

Namun, ini membuka peluang besar bagi mata uang lainnya dan logam mulia untuk terus menguat. Emas dan perak, sebagai dua aset safe haven, akan terus menarik perhatian investor yang ingin melindungi nilai portofolio mereka dari ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Demikian pula, mata uang utama lainnya kemungkinan akan melanjutkan penguatan mereka selama tren melemahnya dolar berlanjut.

Secara keseluruhan, pasar keuangan global masih dalam fase transisi, di mana investor harus memperhatikan dengan cermat perkembangan kebijakan moneter The Fed dan dampaknya terhadap mata uang serta komoditas.