BPF Malang

Image

Bestprofit | Dolar Loyo Jelang Data Jobs, Yen Menggigit

Bestprofit (16/12) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada awal sesi perdagangan Asia hari Selasa. Mata uang greenback tersebut turun mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir, seiring pelaku pasar bersikap hati-hati dan menunggu rilis serangkaian data ekonomi penting. Fokus utama tertuju pada laporan tenaga kerja Amerika Serikat bulan November yang sempat tertunda akibat shutdown pemerintah.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, tercatat turun sekitar 0,2% ke level 98,261. Posisi ini mendekati level terendah sejak 17 Oktober, menandakan tekanan berkelanjutan pada dolar di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global.

Bestprofit | Dolar AS Masih Tertekan Pasca The Fed

Data Ketenagakerjaan AS Jadi Sorotan Utama

Laporan tenaga kerja AS untuk periode Oktober–November menjadi perhatian besar pasar karena rilisnya sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Kondisi ini membuat pelaku pasar kehilangan salah satu indikator paling penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS dalam beberapa bulan terakhir.

Analis HSBC menilai data ketenagakerjaan ini krusial untuk “menutup cerita” mengenai kondisi pasar tenaga kerja selama masa shutdown. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang apakah perlambatan ekonomi AS benar-benar terjadi atau hanya bersifat sementara.

Bagi investor, laporan tenaga kerja bukan sekadar angka statistik. Data ini sering menjadi penentu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), yang pada akhirnya berdampak langsung pada pergerakan dolar, obligasi, hingga aset berisiko.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pasar Masih Menakar Arah Kebijakan The Fed

Di tengah melemahnya dolar, pasar keuangan global masih berusaha membaca langkah selanjutnya dari The Fed. Berdasarkan kontrak Fed funds, probabilitas suku bunga ditahan pada rapat 28 Januari mencapai sekitar 75,6%. Angka ini menunjukkan mayoritas pelaku pasar percaya The Fed akan tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru mengubah kebijakan moneternya.

Namun demikian, arah kebijakan jangka menengah masih sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk, terutama inflasi dan ketenagakerjaan. Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan signifikan, spekulasi pemangkasan suku bunga bisa kembali menguat dan semakin menekan dolar AS.

Sebaliknya, data yang solid berpotensi menahan pelemahan dolar, meskipun ruang penguatan tampak terbatas di tengah sikap bank sentral yang cenderung lebih dovish secara global.

Pekan Sibuk Bank Sentral Dunia

Minggu ini menjadi salah satu periode terpadat bagi pasar global, dengan sejumlah bank sentral utama dijadwalkan menggelar rapat kebijakan. Dinamika kebijakan moneter lintas negara turut memberikan tekanan tambahan pada pergerakan mata uang utama.

Bank of Japan (BoJ) menjadi sorotan utama. Pasar memperkirakan bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% pada pertemuan hari Jumat. Jika terealisasi, langkah ini akan mempertegas perubahan arah kebijakan BoJ yang selama bertahun-tahun mempertahankan suku bunga ultra-rendah.

Di sisi lain, Bank of England (BoE) justru diperkirakan mengambil langkah sebaliknya dengan memangkas suku bunga 25 basis poin ke level 3,75%. Keputusan ini mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Inggris yang masih dibayangi tekanan biaya hidup dan melemahnya aktivitas bisnis.

Sementara itu, European Central Bank (ECB) dan sejumlah bank sentral Eropa lainnya diperkirakan akan menahan suku bunga, menunggu kejelasan lebih lanjut terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Dolar Tertekan Terhadap Yen Menjelang Keputusan BoJ

Terhadap mata uang Jepang, dolar AS melemah tipis ke level 155,07 yen. Pelemahan ini terjadi menjelang keputusan suku bunga BoJ yang dinilai krusial oleh pasar.

Ekspektasi kenaikan suku bunga di Jepang memberikan dukungan pada yen, meskipun pergerakannya masih terbatas karena investor menunggu kepastian kebijakan. Jika BoJ benar-benar menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal hawkish, yen berpotensi menguat lebih jauh terhadap dolar.

Namun, pasar juga mewaspadai potensi volatilitas tinggi, mengingat perubahan kebijakan BoJ sering kali memicu pergerakan tajam di pasar valuta asing global.

Euro dan Pound Bergerak Stabil

Di Eropa, euro relatif stabil di level $1,17535. Mata uang tunggal tersebut mendapat sedikit dukungan dari kabar adanya kemajuan dalam pembicaraan damai Ukraina. Harapan meredanya konflik geopolitik memberikan sentimen positif bagi aset-aset Eropa, meskipun dampaknya masih terbatas.

Sementara itu, poundsterling bergerak datar di sekitar $1,3376. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang keputusan BoE, yang diperkirakan akan memangkas suku bunga. Ketidakpastian kebijakan ini membuat pergerakan pound cenderung terbatas dalam rentang sempit.

Dolar Melemah Terhadap Yuan dan Mata Uang Antipodean

Tekanan terhadap dolar juga terlihat pada pergerakannya terhadap yuan offshore. Dolar berada di level lemah sekitar 7,0371 per yuan, mencerminkan sentimen yang relatif lebih positif terhadap mata uang Asia.

Selain itu, mata uang Antipodean seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru mencatat penguatan tipis. Penguatan ini didukung oleh melemahnya dolar AS secara luas serta sentimen risk-on yang mulai muncul di pasar global.

Pasar Kripto Bergerak Tenang

Berbeda dengan pasar valuta asing, pergerakan di pasar kripto cenderung relatif tenang. Bitcoin naik tipis 0,2% ke level $86.420, sementara Ether menguat sekitar 0,6% ke $2.963.

Minimnya volatilitas di pasar kripto mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati dan memilih menunggu arah kebijakan moneter global yang lebih jelas. Meski demikian, level harga yang masih tinggi menunjukkan minat jangka panjang terhadap aset digital tetap terjaga.

Kesimpulan: Dolar di Persimpangan Arah

Pelemahan dolar AS di awal sesi Asia mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting dan keputusan bank sentral global. Laporan tenaga kerja AS yang tertunda menjadi kunci untuk menilai kondisi ekonomi selama shutdown, sekaligus menentukan arah kebijakan The Fed ke depan.

Dengan banyaknya agenda bank sentral dan ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi. Untuk saat ini, dolar berada di persimpangan arah, menunggu katalis baru yang akan menentukan apakah pelemahan ini berlanjut atau justru berbalik arah.