Bestprofit | Ancaman Tarif Tekan Dolar
Bestprofit (20/1) – Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) membuka pekan ini dengan nada lemah. Di tengah minimnya aktivitas pasar akibat libur di Amerika Serikat, sentimen global justru dibayangi meningkatnya risiko geopolitik dan potensi eskalasi perang dagang baru. Kondisi ini membuat dolar kehilangan sebagian daya tariknya, sementara mata uang lain dan aset safe-haven mulai mendapat aliran minat.
Pasar keuangan global kembali masuk ke fase “risk-off”, di mana investor lebih berhati-hati dan cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Penyebabnya bukan data ekonomi, melainkan faktor politik yang kembali memanaskan ketidakpastian global.
Dolar “Tenang” di Atas 99, Pasar Menanti Langkah The Fed
DXY Lesu di Tengah Libur MLK Day
Indeks Dolar AS (DXY) cenderung lesu di area 99,06 pada perdagangan Senin (19/1), karena likuiditas menipis saat pasar AS libur memperingati Martin Luther King Jr. Day. Meski pergerakan terbatas, sentimen global tetap “berat” setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tarif terkait sengketa Greenland, yang membuat pelaku pasar kembali masuk mode risk-off.
Liburnya pasar AS memang kerap membuat pergerakan harga menjadi sempit dan tidak terlalu volatil. Namun, dalam situasi seperti ini, setiap headline besar justru bisa berdampak lebih signifikan karena minimnya likuiditas. Pernyataan keras dari Presiden AS pun menjadi katalis utama yang membebani dolar.
Investor global tampak memilih bersikap defensif, menunggu kejelasan arah kebijakan dan potensi dampaknya terhadap perdagangan internasional.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Ancaman Tarif Trump dan Isu Greenland Memanas
Trump menyatakan akan menerapkan tarif 10% mulai 1 Februari untuk barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, serta mengancam eskalasi menjadi 25% per 1 Juni bila tidak ada kesepakatan soal Greenland.
Ancaman ini memperluas spektrum ketegangan dagang AS, yang sebelumnya lebih banyak terfokus pada China. Kini, Eropa Utara dan Barat ikut terseret ke dalam pusaran konflik, dengan isu Greenland menjadi titik sensitif baru dalam hubungan diplomatik lintas Atlantik.
Bagi pasar, tarif bukan hanya soal beban perdagangan, tetapi juga simbol meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Ketika arah kebijakan sulit diprediksi, investor cenderung mengurangi risiko, termasuk dengan melepas aset berbasis dolar AS.
Uni Eropa Siapkan Opsi Balasan
Dari Eropa, respons mulai dipanaskan: sejumlah laporan menyebut Uni Eropa menimbang paket balasan, termasuk opsi menghidupkan kembali rencana tarif terhadap impor AS senilai €93 miliar.
Langkah ini mengingatkan pasar pada babak-babak awal perang dagang global beberapa tahun lalu. Jika tarif balasan benar-benar diterapkan, dampaknya tidak hanya terasa pada perdagangan barang, tetapi juga pada arus modal dan sentimen investor secara keseluruhan.
Ketegangan dua arah ini menambah tekanan terhadap dolar, karena konflik dagang berskala besar berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global—termasuk ekonomi AS sendiri.
Dolar Melemah terhadap Euro dan Poundsterling
Di pasar valas utama, dolar melemah terhadap mata uang Eropa: EUR/USD bertahan di sekitar 1,1650 dan GBP/USD di area 1,3440 seiring euro dan sterling ikut diuntungkan dari meningkatnya premi risiko politik di kubu dolar.
Penguatan euro dan poundsterling bukan semata-mata karena faktor fundamental domestik yang kuat, melainkan lebih karena melemahnya posisi dolar sebagai mata uang acuan global dalam jangka pendek. Risiko politik yang berasal dari Washington membuat sebagian investor memilih diversifikasi ke mata uang lain.
Selain itu, persepsi bahwa bank sentral Eropa dan Inggris relatif lebih stabil dalam komunikasi kebijakannya turut membantu menopang mata uang kawasan tersebut.
Yen Jepang Tetap Sensitif di Mode Safe-Haven
Sementara itu, USD/JPY bergerak di sekitar 158,00—tetap sensitif pada arus safe-haven di tengah tensi dagang.
Yen Jepang kembali memainkan perannya sebagai aset lindung nilai. Meski pergerakannya belum terlalu tajam, setiap eskalasi tensi geopolitik berpotensi mendorong penguatan yen lebih lanjut. Investor global kerap menggunakan yen sebagai instrumen perlindungan ketika ketidakpastian meningkat.
Selama isu tarif dan konflik dagang belum menemukan titik terang, pasangan USD/JPY diperkirakan akan tetap fluktuatif dan sangat reaktif terhadap perkembangan berita.
Dolar Australia Pulih Berkat Data Inflasi
AUD/USD pulih ke sekitar 0,6720 setelah dorongan dari data inflasi Australia yang lebih hangat dari perkiraan.
Data inflasi yang lebih tinggi memberi sinyal bahwa tekanan harga di Australia masih cukup kuat, sehingga ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih terbatas. Hal ini memberikan dukungan tambahan bagi dolar Australia, bahkan di tengah sentimen global yang cenderung negatif.
Pemulihan AUD juga menunjukkan bahwa faktor domestik masih mampu mengimbangi tekanan eksternal, setidaknya dalam jangka pendek.
Dolar Kanada Tertahan oleh Risiko Global
Untuk Kanada, USD/CAD berada di kisaran 1,3870 meski inflasi tahunan Kanada dilaporkan menguat—pasar menilai headline geopolitik dan risiko perang dagang masih lebih dominan dalam membentuk arah dolar di awal pekan.
Kondisi ini menegaskan bahwa data ekonomi positif belum tentu langsung berdampak jika sentimen global sedang didominasi oleh isu geopolitik. Investor saat ini lebih fokus pada potensi dampak konflik dagang terhadap ekonomi global dibandingkan indikator makro satu negara.
Pasar Menanti Kejelasan Arah Kebijakan
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada apakah ancaman tarif ini hanya sebatas retorika politik atau benar-benar akan diwujudkan. Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap dolar AS berpotensi semakin dalam, sementara mata uang non-dolar dan aset safe-haven bisa terus diuntungkan.
Sebaliknya, jika ada sinyal deeskalasi atau kompromi diplomatik, dolar bisa mendapatkan kembali pijakan, terutama jika didukung oleh data ekonomi AS yang solid.
Kesimpulan: Dolar Terjepit Ketidakpastian Politik
Awal pekan ini menunjukkan bahwa pergerakan dolar AS tidak selalu ditentukan oleh data ekonomi. Faktor politik dan geopolitik kembali mengambil peran utama dalam membentuk arah pasar. Likuiditas yang tipis memang membatasi volatilitas, tetapi ancaman perang dagang baru membuat sentimen investor tetap rapuh.
Selama ketidakpastian ini berlanjut, dolar AS kemungkinan akan bergerak defensif, sementara pasar global terus menimbang risiko dan peluang di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.















