Bestprofit | Stok AS Melonjak, Harga Minyak Turun US$2
Bestprofit (13/2) – Pada Kamis, 12 Februari 2026, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan sekitar $2 per barel di tengah aneka tekanan pasar yang meliputi proyeksi permintaan global yang melemah, meredanya kekhawatiran atas konflik geopolitik baru di Timur Tengah, serta ekspektasi kenaikan pasokan minyak dalam waktu dekat. Penurunan ini menjadi salah satu penanda bahwa pasar energi tengah mengalami perubahan sentimen yang signifikan.
Secara detail, kontrak berjangka Brent turun sekitar $2, atau sekitar 2,88%, menjadi $67,40 per barel pada pukul 12:54 siang waktu CDT (Central Daylight Time), sedangkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar $1,94, atau sekitar 3%, ke level $62,69 per barel. Pergerakan kedua acuan utama minyak mentah ini memperlihatkan korelasi yang kuat terhadap persepsi pasar atas keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Ketegangan Iran Angkat Harga Minyak, Isu Surplus Tersingkir
Proyeksi Permintaan Global yang Melemah: Dampak Laporan IEA
Salah satu faktor utama yang mendorong tekanan jual di pasar minyak adalah proyeksi permintaan global yang direvisi lebih rendah oleh International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanannya. IEA menyatakan bahwa pertumbuhan permintaan minyak dunia akan meningkat lebih lambat dari perkiraan sebelumnya pada tahun ini, bahkan diproyeksikan ada surplus yang cukup besar di pasar meskipun sempat terjadi gangguan pasokan karena beberapa fasilitas produksi yang sedang mengalami outage.
Surplus besar ini menunjukkan bahwa pasokan minyak diperkirakan akan lebih tinggi daripada konsumsi global, sehingga menekan harga minyak mentah. Defisit permintaan yang lebih rendah ini mencerminkan bahwa ekonomi dunia mungkin tidak pulih secepat yang diharapkan atau ada pergeseran pola konsumsi energi di banyak negara, termasuk meningkatnya efisiensi dan peralihan ke energi alternatif.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Meredanya Kekhawatiran Konflik Timur Tengah
Sebelumnya, pasar minyak sempat mengalami tren positif akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik — khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran — yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia. Namun, ketika data IEA dirilis, sentimen tersebut mulai mereda, terutama setelah pernyataan dari beberapa pemimpin dunia yang menunjukkan adanya upaya diplomasi dan negosiasi, sehingga risiko gangguan pasokan menjadi terlihat lebih terbatas.
Satu contoh adalah pernyataan dari Perdana Menteri Israel yang menyatakan bahwa pembicaraan dengan Presiden AS terkait isu Iran lebih banyak menekankan pada penyelesaian diplomatik ketimbang eskalasi konflik. Redanya kekhawatiran konflik ini menyebabkan risiko geopolitik, yang biasanya menjadi faktor pengerek harga minyak, kini justru berkurang.
Ekspektasi Pasokan Global: Surplus dan Outage
Selain permintaan yang direvisi turun, pasar juga mulai memproyeksikan peningkatan pasokan minyak global, yang menjadi tekanan tambahan terhadap harga. Kondisi pasokan yang diperkirakan meningkat ini terutama akibat produsen utama seperti negara-negara OPEC+ dan non-OPEC yang mempertahankan bahkan meningkatkan output mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan IEA menyebutkan bahwa meskipun terjadi gangguan produksi di Januari lalu, secara keseluruhan pasokan tetap kuat dan surplus besar diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun. Ini mendorong ekspektasi bahwa stok minyak dunia akan membesar, sehingga harga minyak menjadi rentan terhadap penurunan apabila permintaan tidak tumbuh secepat sebelumnya.
Lonjakan Stok Minyak AS: Implikasi Terhadap Harga
Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari data stok minyak AS yang menunjukkan lonjakan tak terduga. Laporan dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 8,5 juta barel dalam seminggu, jauh melebihi ekspektasi analis yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 793 ribu barel. Level inventaris yang jauh lebih tinggi dari prediksi ini memberikan sinyal bahwa pasokan meningkat lebih cepat daripada konsumsi, yang kemudian menambah tekanan bearish terhadap harga minyak.
Tidak hanya itu, data EIA juga menunjukkan tingkat utilisasi kilang AS turun sekitar 1,1 poin persentase menjadi 89,4%, yang mengindikasikan kapasitas pengolahan minyak mentah di kilang yang tidak terpakai meningkat, mengisyaratkan permintaan produk minyak mentah domestik lebih lemah. Kondisi ini turut memperkuat pandangan bahwa pasar sedang menghadapi pasokan yang lebih besar dibandingkan kebutuhan dalam jangka pendek.
Pasokan Global: Rusia dan Musim Ekspor
Di sisi lain, pasokan global juga mendapatkan dukungan dari peningkatan ekspor dari beberapa negara. Misalnya, ekspor produk minyak dari Rusia melalui jalur laut pada bulan Januari dilaporkan naik sekitar 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai sekitar 9,12 juta metrik ton. Kenaikan ini sebagian disebabkan oleh output bahan bakar yang lebih tinggi dan penurunan permintaan domestik musiman. Ekspor yang kuat seperti ini juga berkontribusi pada persepsi bahwa pasokan global akan tetap kuat.
Faktor Ekonomi Makro dan Permintaan Energi Global
Penurunan permintaan global yang diproyeksikan oleh IEA tidak terlepas dari kondisi ekonomi makro yang lebih luas. Pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah dunia yang melambat — terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China — berpotensi mengurangi konsumsi minyak mentah karena aktivitas industrial dan transportasi yang lebih lemah.
Selain itu, tren jangka panjang seperti peningkatan kendaraan berbasis listrik, peningkatan efisiensi energi, dan kebijakan lingkungan yang ketat di banyak negara turut berkontribusi pada pergeseran pola konsumsi minyak. Meskipun perubahan ini bersifat struktural dan terjadi dalam jangka waktu panjang, mereka tetap diperhitungkan oleh pelaku pasar ketika menilai prospek permintaan di masa depan.
Respons Pasar dan Dampaknya pada Investor
Reaksi pasar terhadap kabar-kabar ini cukup jelas: ketika proyeksi permintaan turun dan pasokan diperkirakan meningkat, investor cenderung menilai bahwa harga minyak akan berada di bawah tekanan dalam waktu dekat. Penurunan harga Brent dan WTI ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran atas gangguan pasokan geopolitik kini tertutup oleh ekspektasi pasokan berlebih dan pertumbuhan permintaan yang stagnan.
Respons yang serupa juga terlihat pada indeks energi, di mana aset-aset di sektor energi mengalami tekanan karena investor beralih ke instrumen lain yang dianggap lebih stabil atau menguntungkan dalam kondisi pasar saat ini. Situasi ini menambah kompleksitas ketika pelaku pasar mencoba menyeimbangkan risiko antara prospek permintaan jangka panjang yang melemah dan potensi gangguan pasokan yang mungkin muncul di masa depan.
Kesimpulan: Apa yang Menanti Pasar Minyak Selanjutnya?
Penurunan harga minyak sekitar $2 per barel pada 12 Februari 2026 menggambarkan dinamika pasar minyak yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan ekspektasi pasokan-permintaan. Revisi proyeksi permintaan global yang melemah oleh IEA, meredanya kekhawatiran konflik geopolitik, serta lonjakan stok minyak AS menjadi faktor utama yang mendesak harga minyak turun dalam jangka pendek hingga menengah.
Meskipun ada potensi gangguan pasokan jangka panjang yang bisa mengangkat harga kembali, seperti konflik geopolitik atau keputusan kebijakan produksi OPEC+, tekanan permintaan dan kelebihan pasokan saat ini menjadi faktor dominan yang harus diwaspadai oleh pelaku pasar dan investor energi global.















