BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Anjlok 10% Usai Sinyal Damai Iran

Bestprofit (10/3) – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan bahwa konflik yang melibatkan Iran kemungkinan akan segera mereda. Pernyataan tersebut langsung memicu pembalikan drastis dari reli harga minyak yang sebelumnya didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.

Pasar energi global dalam dua hari terakhir memang bergerak sangat volatil. Investor dan pelaku pasar dihadapkan pada tarik-menarik antara meningkatnya premi risiko geopolitik akibat konflik dan harapan adanya intervensi kebijakan dari negara-negara besar untuk menstabilkan pasokan energi dunia.

Akibat sentimen tersebut, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat anjlok hingga 10% dan diperdagangkan di level sekitar US$85,02 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sesi perdagangan sebelumnya yang sangat bergejolak, di mana kisaran pergerakan harga intraday dilaporkan mencapai sekitar US$38 per barel—salah satu volatilitas terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan sentimen yang sangat cepat ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi minyak dunia.

Harga Minyak Melonjak 25%, Mengguncang Pasar Komoditas!

Pernyataan Trump Picu Koreksi Harga Minyak

Dalam konferensi pers yang digelar di Florida, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan langkah untuk mencabut sejumlah sanksi terkait minyak. Ia juga menyebutkan rencana untuk meminta Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.

Menurut Trump, langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi global sekaligus menekan harga minyak agar tidak melonjak terlalu tinggi.

“Kami berusaha menjaga harga minyak tetap rendah,” kata Trump dalam pernyataannya kepada media.

Ia juga menyebut bahwa lonjakan harga minyak yang terjadi belakangan ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik yang menurutnya “bersifat buatan”. Namun demikian, Trump mengakui bahwa ia belum dapat memastikan apakah konflik tersebut benar-benar akan berakhir dalam waktu dekat.

Pernyataan yang terkesan optimistis tersebut langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak, karena pelaku pasar menilai kemungkinan gangguan pasokan global bisa segera berkurang.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Lonjakan Harga Minyak Sebelumnya Dipicu Penutupan Hormuz

Sebelum penurunan tajam ini terjadi, harga minyak dunia sempat melonjak mendekati US$120 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah global melewati jalur sempit ini setiap hari. Ketika jalur tersebut terganggu, pasar energi langsung bereaksi dengan kenaikan harga yang tajam.

Gangguan pelayaran membuat sejumlah produsen minyak utama di kawasan Teluk terpaksa mengurangi produksi karena kesulitan mengekspor minyak mereka ke pasar internasional. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasokan global akan menyusut secara signifikan.

Namun, reli harga minyak tidak berlangsung lama. Setelah muncul wacana bahwa negara-negara ekonomi besar dapat melepaskan cadangan minyak darurat mereka, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan adanya tambahan pasokan untuk menyeimbangkan pasar.

Dampak Konflik Meluas ke Pasar Energi Global

Konflik yang kini telah memasuki minggu kedua tersebut juga mulai melibatkan lebih banyak negara. Akibatnya, dampaknya tidak hanya terasa pada minyak mentah, tetapi juga pada berbagai komoditas energi lainnya.

Harga gas alam global mengalami kenaikan tajam, sementara produk olahan seperti gasoil juga mengalami lonjakan harga akibat gangguan distribusi dan meningkatnya permintaan.

Di Amerika Serikat, harga bensin ritel bahkan melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024. Kenaikan harga bahan bakar ini menjadi isu sensitif secara politik karena dapat meningkatkan biaya hidup masyarakat sekaligus memicu inflasi.

Energi merupakan salah satu komponen utama dalam perhitungan inflasi. Ketika harga energi naik, biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang ikut meningkat. Hal ini pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.

Diskusi Trump dengan Vladimir Putin

Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah membahas situasi energi global dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Senin pagi.

Meski tidak menjelaskan secara rinci isi pembicaraan tersebut, diskusi antara kedua pemimpin negara besar itu menunjukkan bahwa isu stabilitas energi global kini menjadi perhatian serius di tingkat geopolitik.

Selain itu, pemerintahan Trump juga memberikan sinyal pelonggaran kebijakan energi tertentu. Pekan lalu, Washington membuka jalan bagi India untuk sementara meningkatkan pembelian minyak mentah dari Rusia.

Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan pasokan global di tengah potensi gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah.

Fokus Pasar pada Lalu Lintas Tanker di Hormuz

Saat ini, perhatian utama pelaku pasar tertuju pada kondisi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Serangan terhadap beberapa kapal sejak konflik pecah membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari jalur tersebut demi alasan keamanan.

Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa sebuah kapal tanker yang membawa minyak mentah dari Arab Saudi berhasil melewati selat tersebut dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, Iran dilaporkan masih terus mengirimkan volume minyak dalam jumlah besar melalui jalur yang sama.

Jika aktivitas pelayaran kembali normal, maka risiko gangguan pasokan global dapat berkurang secara signifikan. Hal ini berpotensi menekan harga minyak lebih lanjut.

Produksi Minyak Teluk Terpaksa Dikurangi

Selain gangguan pelayaran, konflik juga berdampak pada aktivitas produksi minyak di beberapa negara produsen utama.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dilaporkan terpaksa mengurangi produksi.

Pengurangan ini terjadi karena fasilitas penyimpanan minyak mereka cepat penuh akibat gangguan ekspor. Tanpa jalur pengiriman yang stabil, minyak yang diproduksi tidak dapat segera dipasarkan ke luar negeri.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat mempengaruhi seluruh rantai pasok energi, mulai dari produksi hingga distribusi.

Gangguan Kilang dan Persaingan Pembeli Energi

Dampak konflik juga terasa di sektor hilir industri energi. Beberapa kilang minyak di kawasan Timur Tengah dilaporkan menghentikan operasi sementara karena keterbatasan pasokan atau gangguan logistik.

Di sisi lain, pembeli energi di Asia mulai meningkatkan penawaran untuk menarik kargo bahan bakar yang awalnya ditujukan ke wilayah lain. Persaingan mendapatkan pasokan energi ini mendorong harga produk olahan semakin naik.

Di pasar berjangka, pergerakan harga minyak bahkan mencatat sejarah baru. Penurunan harga Brent Crude dari puncak intraday hingga penutupan perdagangan disebut sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terjadi.

Peristiwa ini menggambarkan betapa rapuhnya sentimen pasar ketika narasi mengenai pasokan global berubah dengan cepat.

Dua Faktor Penentu Arah Harga Minyak

Ke depan, pelaku pasar akan memantau dua faktor utama yang dapat menentukan arah harga minyak dunia.

Pertama adalah pemulihan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali beroperasi normal, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global akan mereda.

Faktor kedua adalah kebijakan energi yang diambil oleh negara-negara besar, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis atau perubahan kebijakan sanksi.

Kombinasi dari kedua faktor tersebut akan menentukan apakah koreksi harga minyak yang terjadi saat ini akan berlanjut atau justru kembali memicu volatilitas tinggi.

Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya harga Brent untuk kontrak Mei sempat ditutup naik 6,8% di level US$98,96 per barel setelah sempat mencapai puncak US$119,50 dalam sesi perdagangan.

Pergerakan yang ekstrem ini menegaskan bahwa pasar energi global saat ini masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi, di mana perubahan geopolitik dapat dengan cepat mengubah arah harga komoditas paling strategis di dunia tersebut.