Bestprofit | Harga Minyak Tertahan Risiko Selat Hormuz
Bestprofit (13/3) – Harga minyak dunia kembali melanjutkan penguatannya setelah mencatat penutupan tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam perdagangan Asia, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sedikit lebih tinggi di kisaran US$97 per barel setelah melonjak sekitar 10% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude ditutup di atas level psikologis US$100 per barel.
Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa jalur pengiriman minyak utama dunia berisiko mengalami gangguan serius. Ancaman tersebut muncul setelah Iran menyatakan akan menjaga Selat Hormuz tetap “efektif tertutup,” sebuah langkah yang berpotensi mengganggu aliran energi global dalam skala besar.
Brent Tembus US$100, Gangguan Pengiriman dan Pengetatan Ekspor China
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasar Energi
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia untuk perdagangan minyak dan gas. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global dan menjadi rute utama bagi pengiriman energi dari negara-negara produsen besar di Timur Tengah.
Ancaman terhadap jalur ini langsung memicu reaksi kuat dari pasar. Iran melalui pemimpin tertingginya yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Republik Islam akan berupaya memastikan jalur tersebut tetap tertutup secara efektif.
Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Sikap tegas ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di kawasan dapat berkembang menjadi gangguan besar bagi pasokan energi global.
Pemerintah Inggris bahkan menilai Iran kemungkinan telah mulai menebar ranjau di perairan sekitar selat tersebut. Jika benar, langkah ini dapat meningkatkan risiko keselamatan bagi kapal tanker minyak dan kapal dagang yang melintas di wilayah tersebut.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Arus Kapal Menyusut Drastis
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan mengalami penurunan tajam. Beberapa laporan menyebutkan bahwa jumlah kapal yang melintas kini tinggal “seperti tetesan,” mencerminkan betapa seriusnya dampak keamanan terhadap aktivitas logistik energi.
Penurunan ini tidak hanya memengaruhi kapal tanker internasional, tetapi juga kapal pengangkut minyak milik Iran sendiri. Banyak operator kapal memilih menunda perjalanan atau mencari rute alternatif demi menghindari risiko serangan maupun ranjau laut.
Bagi pasar energi global, kondisi ini menimbulkan ketidakpastian besar. Setiap gangguan terhadap arus minyak dari Teluk Persia dapat mengurangi pasokan global secara signifikan, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.
Akibatnya, pasar minyak langsung memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga, yang mendorong lonjakan harga dalam waktu singkat.
Peringatan dari International Energy Agency
Krisis ini juga menarik perhatian lembaga energi internasional. International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa gangguan pasokan akibat konflik tersebut berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa seriusnya potensi dampak konflik terhadap stabilitas energi dunia. Gangguan pada jalur pelayaran utama dapat menghambat distribusi minyak ke berbagai wilayah, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika.
Sebagai langkah darurat, negara-negara anggota IEA sepakat untuk melepaskan cadangan minyak strategis dalam skala besar. Total pelepasan yang disepakati mencapai sekitar 400 juta barel, yang bertujuan untuk menambah pasokan ke pasar dan menekan lonjakan harga yang terlalu tajam.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan stabilitas sementara, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada perkembangan situasi keamanan di lapangan.
Upaya Amerika Serikat Mengamankan Jalur Pelayaran
Pemerintah Amerika Serikat juga mulai mempertimbangkan langkah-langkah untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat kemungkinan akan mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintas di kawasan tersebut.
Pengawalan ini diperkirakan dapat dimulai pada akhir bulan, meskipun implementasinya masih bergantung pada kesiapan militer dan kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa operasi pengawalan bisa dilakukan segera setelah memungkinkan secara militer.
Namun, para analis menilai bahwa langkah tersebut belum tentu mampu sepenuhnya memulihkan kepercayaan pelayaran internasional. Risiko di lapangan masih dianggap tinggi, terutama jika benar terdapat ranjau laut di sekitar jalur pelayaran.
Aaron Stein dari Foreign Policy Research Institute menyebut bahwa pembersihan ranjau di tengah konflik aktif merupakan operasi yang sangat berbahaya dan sulit dilakukan.
Volatilitas Harga Mencapai Level Ekstrem
Selain lonjakan harga, pasar minyak juga mengalami volatilitas yang sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Harga WTI dilaporkan bergerak dalam rentang sekitar US$43 dalam satu pekan, menjadikannya salah satu fluktuasi terbesar sejak masa pandemi.
Pada periode pandemi terdalam, harga minyak bahkan sempat mengalami fenomena langka ketika kontrak berjangka bergerak ke wilayah negatif akibat kelebihan pasokan dan keterbatasan penyimpanan.
Sementara itu, harga Brent juga bergerak dalam rentang yang sangat lebar, sekitar US$38 dalam waktu singkat.
Fluktuasi tajam ini tidak hanya dipicu oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh arus keuangan dari pasar derivatif. Aktivitas perdagangan di pasar opsi serta produk investasi seperti ETF membuat respons harga terhadap berita geopolitik menjadi jauh lebih cepat dan dramatis.
Akibatnya, setiap perkembangan baru di kawasan Timur Tengah langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak di pasar global.
Sikap Washington Perkuat Persepsi Risiko
Kebijakan politik Amerika Serikat juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir merupakan prioritas utama pemerintahannya.
Ia menyatakan bahwa tujuan tersebut lebih penting dibandingkan potensi kenaikan harga minyak yang mungkin terjadi akibat konflik di kawasan.
Pernyataan ini memperkuat persepsi bahwa Washington tidak akan segera memberikan intervensi verbal untuk menenangkan pasar energi. Dengan kata lain, pemerintah AS tampaknya bersedia menerima harga minyak yang lebih tinggi selama tujuan strategisnya tercapai.
Bagi pelaku pasar, sikap ini menjadi sinyal bahwa premi risiko geopolitik kemungkinan akan tetap bertahan dalam harga minyak untuk beberapa waktu.
Prospek Pasar Minyak ke Depan
Ke depan, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Beberapa faktor utama yang akan dipantau investor antara lain status operasional Selat Hormuz, laporan mengenai ranjau laut, serta tingkat keamanan pelayaran internasional.
Selain itu, realisasi pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara anggota IEA juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan keseimbangan pasokan global.
Jika jalur pelayaran dapat kembali beroperasi secara normal, tekanan harga minyak mungkin akan mereda secara bertahap. Namun jika konflik berkepanjangan atau bahkan meningkat, harga minyak berpotensi terus mengalami kenaikan.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan langkah-langkah militer dan diplomatik dari berbagai negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik, gangguan logistik, dan volatilitas pasar keuangan, harga minyak diperkirakan akan tetap berada dalam fase pergerakan yang tajam dalam waktu dekat. Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru di Timur Tengah.















