BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Rebound, The Fed dan Konflik Membayangi

Bestprofit (10/7) – Harga emas kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (9/7) setelah sebelumnya mengalami tekanan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan logam mulia ini didorong oleh meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed).

Pergerakan emas kali ini mencerminkan bagaimana pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik maupun kebijakan moneter. Di satu sisi, konflik bersenjata meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun di sisi lain, ancaman inflasi akibat lonjakan harga energi berpotensi membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang justru menjadi faktor negatif bagi logam mulia.

Bestprofit | Emas Jatuh, Iran dan The Fed Jadi Tekanan Besar

Emas Menguat Setelah Tiga Hari Berturut-turut Melemah

Dalam perdagangan terbaru, harga spot gold sempat melonjak hingga 1,5% dan bergerak di kisaran US$4.100 per troy ounce. Hingga pukul 15.44 waktu New York, harga emas masih bertahan menguat sekitar 1,1% di level US$4.120,49 per troy ounce.

Penguatan ini menjadi sinyal bahwa tekanan jual yang mendominasi pasar dalam beberapa hari terakhir mulai berkurang. Sebelumnya, aksi ambil untung yang cukup besar membuat harga emas terkoreksi tajam setelah menikmati reli panjang dalam beberapa tahun terakhir.

Meski kenaikan kali ini belum cukup untuk mengembalikan tren bullish secara penuh, setidaknya pasar mulai melihat adanya titik keseimbangan baru setelah tekanan yang cukup intens.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Eskalasi Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven

Salah satu faktor utama yang menopang harga emas adalah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Situasi kawasan kembali memanas setelah terjadi serangan terbaru di Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran menurutnya telah berakhir. Pernyataan tersebut diikuti dengan serangan balasan Iran yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Rangkaian peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang lebih luas. Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya menjadi salah satu aset yang paling diburu karena dianggap mampu mempertahankan nilai ketika ketidakpastian meningkat.

Konflik Geopolitik Tidak Selalu Menguntungkan Emas

Meskipun konflik biasanya mendukung harga emas, kondisi kali ini dinilai lebih kompleks dibandingkan krisis geopolitik sebelumnya.

Penyebabnya adalah potensi gangguan terhadap pasokan energi dunia. Apabila konflik semakin meluas dan mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, harga minyak mentah berpotensi melonjak tajam.

Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi global kembali meningkat. Bagi bank sentral, inflasi yang kembali tinggi menjadi alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Situasi tersebut justru dapat menjadi tekanan bagi harga emas. Berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga berada di level tinggi.

Dengan kata lain, pasar saat ini menghadapi dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Ketidakpastian geopolitik mendorong pembelian emas, sementara prospek suku bunga tinggi menahan potensi kenaikan lebih lanjut.

Arah Kebijakan The Fed Masih Menjadi Perhatian Pasar

Selain perkembangan konflik, perhatian investor juga masih tertuju pada kebijakan Federal Reserve.

Apabila inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi, peluang penurunan suku bunga akan semakin kecil. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali membesar.

Suku bunga yang tinggi biasanya memperkuat daya tarik aset berbunga seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, sebagian dana investasi berpotensi keluar dari pasar emas.

Karena itu, setiap perkembangan terkait data inflasi, pasar tenaga kerja, maupun pernyataan pejabat The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan mendatang.

Pelemahan Dolar dan Yield Obligasi Beri Dukungan

Di tengah berbagai ketidakpastian tersebut, harga emas juga memperoleh dukungan dari pelemahan dolar Amerika Serikat serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury).

Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung meningkat.

Sementara itu, penurunan yield Treasury mengurangi biaya peluang (opportunity cost) memegang emas. Kondisi tersebut membuat logam mulia kembali menarik sebagai instrumen diversifikasi portofolio.

Kombinasi kedua faktor tersebut membantu harga emas memantul setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup besar.

Analis Melihat Pasar Mulai Memasuki Fase Konsolidasi

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menilai harga emas mulai menemukan area dukungan yang cukup kuat di atas level US$4.050 per troy ounce.

Menurutnya, pergerakan harga selama 24 jam terakhir menunjukkan bahwa pasar mulai keluar dari fase kapitulasi menuju fase konsolidasi.

Kapitulasi merupakan kondisi ketika tekanan jual berlangsung sangat besar akibat kepanikan investor. Setelah fase tersebut berakhir, pasar biasanya memasuki periode konsolidasi di mana harga bergerak lebih stabil sambil menunggu katalis baru.

Meski demikian, Hansen mengingatkan bahwa konsolidasi bukan berarti tren kenaikan telah kembali terbentuk. Investor masih membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan moneter maupun perkembangan konflik geopolitik sebelum harga emas mampu mencetak reli baru.

Prospek Emas Masih Dibayangi Tekanan Jangka Menengah

Secara keseluruhan, harga emas masih berada jauh di bawah level tertingginya.

Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas tercatat telah turun lebih dari seperlima. Koreksi tersebut mengakhiri reli panjang yang berlangsung selama hampir tiga tahun.

Aksi ambil untung yang cukup besar membuat harga emas beberapa kali jatuh ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah lembaga keuangan global menurunkan proyeksi harga emas untuk beberapa tahun ke depan.

HSBC memangkas estimasi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 6,3% menjadi US$4.560 per troy ounce. Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan oleh UBS, Deutsche Bank, serta Goldman Sachs yang menilai ruang kenaikan emas mulai lebih terbatas dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Revisi proyeksi tersebut menunjukkan bahwa institusi keuangan besar mulai lebih berhati-hati dalam melihat prospek logam mulia di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

Logam Mulia Lainnya Ikut Menguat

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan kenaikan pada perdagangan yang sama.

Harga perak naik sekitar 2,8% hingga mencapai US$59,91 per troy ounce. Platinum dan palladium juga bergerak di zona hijau seiring membaiknya sentimen pasar.

Sementara itu, indeks dolar Bloomberg tercatat relatif stabil sehingga tidak memberikan tekanan tambahan terhadap harga logam mulia.

Kenaikan yang terjadi di berbagai komoditas logam mulia menunjukkan bahwa investor mulai kembali meningkatkan eksposur terhadap aset yang dinilai mampu menghadapi ketidakpastian global.

Investor Masih Perlu Mewaspadai Volatilitas

Rebound harga emas memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Namun demikian, prospek jangka pendek masih dipenuhi berbagai risiko yang dapat memicu volatilitas tinggi.

Perkembangan konflik di Timur Tengah akan terus menjadi perhatian utama pasar. Jika eskalasi berlanjut hingga mengganggu pasokan energi global, harga minyak dapat melonjak dan memperbesar tekanan inflasi.

Di sisi lain, sikap The Fed terhadap inflasi akan sangat menentukan arah pergerakan emas selanjutnya. Selama bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan yang cenderung hawkish, ruang penguatan emas diperkirakan tetap terbatas.

Dengan demikian, pasar emas saat ini berada di persimpangan antara meningkatnya permintaan aset safe haven dan kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga tinggi. Selama kedua faktor tersebut masih saling tarik-menarik, harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif sambil menunggu kepastian baru dari perkembangan geopolitik maupun kebijakan moneter global.