BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Melonjak di Atas 6%

Bestprofit (24/7) – Harga minyak dunia mencatat lonjakan tajam pada perdagangan Kamis (23/7) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global. Minyak mentah Brent bahkan berhasil menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, menandai kembalinya volatilitas tinggi di pasar energi internasional. Reli harga minyak dipicu oleh klaim kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah. Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak dunia dapat mengalami gangguan apabila konflik terus meluas. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, investor mulai mengalihkan perhatian pada potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk Arab. Kekhawatiran tersebut mendorong aksi beli di pasar komoditas sehingga harga minyak melonjak dalam waktu singkat.
Bestprofit | Iran Siapkan Balasan, Harga Minyak Makin Panas

Brent Kembali Tembus Level US$100 per Barel

Pada perdagangan Kamis (23/7), kontrak minyak Brent untuk pengiriman September naik 7,4% menjadi US$101,08 per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga Brent kembali berada di atas level US$100 per barel sejak Mei. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami kenaikan signifikan. Kontrak WTI naik 6,8% ke level US$92,75 per barel pada pukul 14.20 waktu New York. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar memberikan respons cepat terhadap perkembangan geopolitik terbaru. Dalam kondisi ketidakpastian, harga minyak cenderung mengalami lonjakan karena investor mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan di pasar global. Level US$100 per barel juga memiliki arti penting secara psikologis. Ketika harga berhasil menembus batas tersebut, pasar biasanya menilai bahwa risiko terhadap pasokan telah meningkat secara signifikan sehingga mendorong aksi beli lebih lanjut.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Serangan di Laut Merah Picu Kekhawatiran Pasokan

Lonjakan harga minyak dipicu oleh klaim kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah. Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah menuju Eropa dan beberapa wilayah lainnya melewati jalur tersebut sebelum memasuki Terusan Suez. Gangguan terhadap jalur pelayaran ini berpotensi memperlambat distribusi minyak mentah ke berbagai negara. Jika situasi memburuk, biaya pengiriman dapat meningkat, waktu distribusi menjadi lebih lama, dan pasokan energi global ikut terganggu. Walaupun belum terdapat laporan mengenai gangguan besar terhadap produksi minyak, pasar komoditas umumnya merespons risiko lebih awal. Ancaman terhadap rantai pasokan sering kali cukup untuk memicu kenaikan harga sebelum dampak nyata benar-benar terjadi.

Donald Trump Kritik Serangan Houthi

Serangan terhadap kapal tanker minyak tersebut mendapat perhatian dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pemerintah AS menyampaikan kritik keras atas aksi yang dinilai dapat memperburuk stabilitas kawasan serta mengancam keamanan jalur perdagangan internasional. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Investor khawatir meningkatnya ketegangan dapat memicu tindakan balasan yang berujung pada eskalasi konflik yang lebih luas. Setiap peningkatan tensi politik di kawasan penghasil minyak utama dunia biasanya langsung memengaruhi harga energi. Pasalnya, Timur Tengah masih menjadi salah satu pemasok minyak terbesar bagi pasar internasional. Oleh karena itu, perkembangan geopolitik di kawasan ini selalu menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan oleh investor energi.

Hubungan AS dan Iran Kembali Memburuk

Selain serangan di Laut Merah, harga minyak juga mendapat dukungan dari memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran. Kesepakatan awal yang sempat membuka peluang perbaikan hubungan kedua negara dilaporkan gagal berlanjut. Kondisi tersebut kembali memunculkan ketidakpastian mengenai prospek stabilitas kawasan serta kebijakan terhadap ekspor minyak Iran. Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Setiap perubahan kebijakan yang memengaruhi ekspor minyak negara tersebut dapat memberikan dampak terhadap keseimbangan pasokan global. Meningkatnya ketegangan diplomatik juga memperbesar risiko penerapan kebijakan yang lebih ketat terhadap perdagangan energi, sehingga pasar memilih mengantisipasi kemungkinan tersebut melalui kenaikan harga minyak.

Harga Minyak Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi

Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Harga energi merupakan komponen penting dalam aktivitas ekonomi. Ketika harga minyak meningkat, biaya transportasi, distribusi, serta produksi barang ikut mengalami kenaikan. Akibatnya, harga berbagai kebutuhan masyarakat dapat meningkat sehingga tekanan inflasi menjadi lebih tinggi. Kondisi inilah yang mulai menjadi perhatian pelaku pasar setelah reli harga minyak kali ini. Investor khawatir inflasi yang bertahan tinggi dapat membuat bank sentral di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat, mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.

Yield Obligasi AS Ikut Naik

Kekhawatiran terhadap inflasi tercermin dari pergerakan pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik sebesar 4,4 basis poin menjadi 4,704%. Kenaikan yield terjadi karena investor melepas kepemilikan obligasi pemerintah di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama. Pergerakan yield obligasi sering digunakan sebagai indikator ekspektasi pasar terhadap inflasi dan kebijakan moneter. Ketika investor memperkirakan inflasi akan meningkat, mereka biasanya meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi. Naiknya yield juga menunjukkan bahwa pasar mulai menyesuaikan posisi investasi menghadapi kemungkinan perubahan arah kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.

Macquarie: Pasokan Minyak Masih Berpotensi Ketat

Strategis energi global Macquarie, Vikas Dwivedi, menilai harga minyak masih memiliki ruang untuk bertahan pada level tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Menurutnya, pasar saat ini menghadapi berkurangnya ketersediaan pasokan minyak dari kawasan Teluk Arab. Kondisi tersebut membuat keseimbangan antara permintaan dan pasokan menjadi semakin ketat. Apabila ketidakpastian geopolitik terus berlangsung, pasar diperkirakan tetap memberikan premi risiko terhadap harga minyak. Premi risiko merupakan tambahan harga yang muncul karena investor memperhitungkan kemungkinan terjadinya gangguan pasokan. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, harga minyak diperkirakan akan tetap memperoleh dukungan meskipun terjadi fluktuasi harian.

Premi Risiko Geopolitik dan Short Squeeze Dorong Reli

Macquarie juga menilai reli harga minyak kali ini tidak hanya dipicu oleh risiko geopolitik, tetapi juga diperkuat oleh aksi short squeeze di pasar berjangka. Short squeeze terjadi ketika investor yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa membeli kembali kontrak minyak untuk menutup posisi mereka setelah harga justru bergerak naik. Aksi pembelian tersebut semakin mempercepat kenaikan harga. Selain itu, kembalinya premi risiko geopolitik membuat investor bersedia membayar harga lebih tinggi sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan di masa depan. Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan momentum kenaikan yang cukup kuat dalam perdagangan minyak dunia.

Risiko Eskalasi Masih Ada, tetapi Perang Besar Dinilai Kecil

Meskipun ketegangan di Timur Tengah meningkat, Macquarie menilai peluang konflik berkembang menjadi perang berskala besar masih relatif rendah. Menurut analisis mereka, berbagai pihak masih memiliki kepentingan untuk mencegah konflik meluas karena dampaknya dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan perdagangan energi internasional. Namun demikian, risiko salah perhitungan atau tindakan yang tidak terduga tetap menjadi perhatian utama pasar. Apabila terjadi insiden yang memperburuk situasi, harga minyak berpotensi kembali mengalami lonjakan tajam. Karena itu, investor akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah, hubungan Amerika Serikat dengan Iran, serta kondisi keamanan jalur pelayaran di Laut Merah. Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap besar, sementara faktor geopolitik akan terus menjadi penggerak utama pasar energi global.