Bestprofit (26/8) – Harga emas bergerak relatif stabil di atas level US$4.650 per troy ounce pada perdagangan Asia, Rabu (26/8/2026). Pergerakan logam mulia masih cenderung dua arah dalam dua sesi terakhir setelah sebelumnya mencatat penguatan signifikan dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Pada perdagangan Selasa, emas bahkan sempat mendekati US$4.700 per troy ounce sebelum akhirnya mengalami aksi ambil untung.
Data pasar terbaru menunjukkan harga emas spot sempat berada di sekitar US$4.642,74 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS bergerak di sekitar US$4.700. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa investor masih mempertahankan minat terhadap emas, tetapi mulai berhati-hati menjelang sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Bestprofit | Emas Dekat Puncak 3 Bulan, Debasement Trade Menguat
Investor Menunggu Data PCE Amerika Serikat
Perhatian utama pelaku pasar kini tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Juli. PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Data tersebut menjadi penting karena perkembangan inflasi akan menentukan seberapa besar ruang yang dimiliki The Fed untuk mempertahankan atau mengubah tingkat suku bunga. Jika tekanan harga menunjukkan perlambatan yang lebih kuat dari perkiraan, pasar berpotensi meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS akan menjadi lebih longgar.
Sebaliknya, angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat kembali memicu kekhawatiran bahwa suku bunga perlu dipertahankan pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut biasanya menjadi tekanan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Reuters mencatat bahwa pasar saat ini mengharapkan data inflasi yang lebih lunak dapat menekan real yield dan mengurangi biaya peluang memegang emas.
Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Jadi Sorotan
Selain PCE, investor juga menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Jackson Hole pada Jumat. Agenda tersebut menjadi perhatian besar karena pasar ingin memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS dalam beberapa bulan mendatang.
Kalender resmi The Fed mencatat Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada 28 Agustus dalam Jackson Hole Economic Policy Symposium di Moran, Wyoming.
Pernyataan Warsh akan dicermati untuk mengetahui apakah bank sentral masih mempertahankan pendekatan hawkish atau mulai menunjukkan sikap yang lebih seimbang. Nada yang lebih dovish dapat memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga dan menjadi katalis positif bagi emas.
Sebaliknya, jika Warsh menekankan risiko inflasi dan perlunya mempertahankan kebijakan ketat, dolar AS serta imbal hasil Treasury berpotensi kembali menguat. Situasi tersebut dapat membatasi ruang kenaikan emas.
Ekspektasi Suku Bunga September Mulai Berubah
Salah satu faktor yang menopang emas adalah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15–16 September.
Perubahan tersebut didukung oleh sejumlah tanda perlambatan ekonomi, terutama dari sisi pasar tenaga kerja dan perkembangan inflasi. Data pasar yang dikutip sejumlah laporan menunjukkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September berada di atas 60%, meskipun angkanya dapat berubah mengikuti data ekonomi terbaru.
Bagi emas, penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga merupakan perkembangan positif. Ketika pasar tidak lagi mengantisipasi pengetatan moneter agresif, imbal hasil riil cenderung lebih rendah sehingga daya tarik aset tanpa bunga seperti emas meningkat.
Treasury Buyback Tekan Imbal Hasil Obligasi
Faktor lain yang mendukung harga emas berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS terkait pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury.
Departemen Keuangan AS berencana memperbesar pembelian kembali surat utang bertenor panjang. Sejumlah laporan menyebut Treasury mempertimbangkan penggunaan dana dari Treasury General Account yang nilainya mendekati US$1 triliun untuk mendukung pembelian tersebut.
Rencana itu berpotensi meningkatkan permintaan terhadap obligasi tenor panjang dan memberikan tekanan terhadap imbal hasilnya. Reuters sebelumnya mencatat bahwa pengumuman program buyback Treasury menjadi salah satu pendorong utama reli emas hingga mencapai level tertinggi lebih dari tiga bulan.
Penurunan yield menjadi faktor penting bagi emas karena opportunity cost memegang logam mulia ikut berkurang. Investor tidak lagi memperoleh keuntungan relatif sebesar ketika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.
Dolar AS Masih Menjadi Penentu Pergerakan Emas
Selain yield Treasury, pelemahan dolar AS turut memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan kenaikannya. Emas yang diperdagangkan dalam dolar biasanya menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lain ketika nilai greenback melemah.
Pada Rabu pagi, indeks dolar AS dilaporkan mengalami tekanan seiring pasar memperkirakan kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih longgar. Pergerakan dolar juga dipengaruhi oleh ketidakpastian terkait kebijakan AS terhadap Iran serta strategi Treasury dalam mengelola pasar obligasi.
Kombinasi dolar yang lebih lemah dan yield yang menurun menjadi lingkungan yang relatif ideal bagi emas. Namun, penguatan dolar secara tiba-tiba akibat data ekonomi AS yang kuat tetap menjadi risiko utama bagi harga logam mulia.
Harga Minyak Turun, Risiko Inflasi Energi Mereda
Dari pasar komoditas lainnya, harga minyak mengalami tekanan setelah Iran menyatakan kembali melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Karena itu, setiap perkembangan yang berpotensi memperlancar lalu lintas kapal melalui kawasan tersebut dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Penurunan harga minyak menjadi perkembangan penting bagi pasar karena energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi inflasi. Jika risiko gangguan pasokan minyak berkurang, tekanan inflasi energi juga berpotensi mereda.
Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat. Dengan demikian, perkembangan di pasar minyak secara tidak langsung turut memberikan dukungan terhadap emas.
Diplomasi Iran dan Oman Jadi Perhatian Pasar
Perkembangan diplomatik di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat pasar lebih tenang. Iran dan Oman membahas kemungkinan pengaturan lalu lintas kapal serta koridor navigasi sementara di jalur strategis tersebut.
Pasar sebelumnya menghadapi risiko bahwa ketegangan di kawasan tersebut dapat mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Jika jalur pelayaran kembali lebih lancar, risiko tersebut dapat berkurang.
Di sisi lain, langkah Amerika Serikat terkait Iran masih menjadi faktor yang harus diperhatikan. Perubahan kebijakan sanksi maupun perkembangan negosiasi dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar energi dan aset safe haven.
Prospek Emas: Masih Positif, tetapi Rawan Volatilitas
Secara keseluruhan, prospek emas masih mendapatkan dukungan dari kombinasi ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, pelemahan dolar AS, penurunan yield Treasury, serta ketidakpastian fiskal dan geopolitik.
Namun, posisi emas yang telah berada dekat level tertinggi sejak pertengahan Mei membuat risiko aksi ambil untung semakin besar. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat mendekati US$4.700 sebelum kembali melemah tipis. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor masih bersedia membeli, tetapi sebagian mulai mengamankan keuntungan.
Ke depan, arah emas akan sangat bergantung pada dua katalis utama, yakni data PCE AS dan pidato Kevin Warsh di Jackson Hole. Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dan pernyataan Warsh yang dovish dapat membuka peluang bagi emas untuk kembali menguji US$4.700 dan level-level lebih tinggi.
Sebaliknya, inflasi yang kembali panas atau sinyal hawkish dari The Fed dapat mendorong dolar dan yield Treasury naik. Dalam skenario tersebut, emas berpotensi menghadapi tekanan dan memasuki fase konsolidasi setelah reli panjang.
Dengan demikian, perdagangan emas pada akhir pekan ini diperkirakan tetap volatil. Investor akan lebih berhati-hati mengambil posisi besar sebelum memperoleh kepastian mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter AS. Untuk sementara, bertahannya harga di atas US$4.650 menunjukkan bahwa sentimen bullish belum sepenuhnya kehilangan tenaga.