Bestprofit (27/8) – Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Rabu (26/8) setelah muncul perkembangan positif terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran dan Oman dilaporkan mencapai kesepakatan awal untuk mengelola kembali aktivitas pelayaran melalui salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia tersebut.
Perkembangan ini langsung direspons negatif oleh pasar minyak karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan deeskalasi dan membaiknya pasokan energi global. Brent ditutup turun 74 sen menjadi US$87,84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 13 sen ke US$82,23 per barel.
Sebelum akhirnya ditutup melemah, harga minyak bahkan sempat merosot lebih dari 3%. Penurunan tajam tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak akibat ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz.
Iran dan Oman Bahas Pembukaan Kembali Hormuz
Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai pembagian pengelolaan dan pendapatan dari lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan awal tersebut menjadi salah satu perkembangan paling penting bagi pasar energi karena Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia.
Berdasarkan skema yang disampaikan pejabat Iran, kapal yang hendak memasuki Teluk Persia akan menggunakan perairan Iran. Setelah itu, kapal akan keluar melalui koridor bersama yang melintasi wilayah Oman dan Iran.
Skema tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lalu lintas kapal nantinya tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan dan navigasi, tetapi juga berpotensi melibatkan mekanisme biaya atau pembagian pendapatan dari aktivitas pelayaran.
Bagi pasar minyak, setiap perkembangan yang meningkatkan kepastian lalu lintas di Hormuz menjadi faktor penting. Kelancaran jalur tersebut dapat mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dan pada akhirnya menekan premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.
Bestprofit | Hormuz Mencair, Minyak Tertekan
Pembicaraan Koridor Navigasi Masih Berlanjut
Kesepakatan Iran dan Oman merupakan kelanjutan dari pembicaraan antara menteri luar negeri kedua negara mengenai pembentukan koridor navigasi sementara serta proses pembersihan ranjau di jalur pelayaran.
Namun, pembukaan kembali Hormuz belum dapat dianggap sepenuhnya normal. Iran dan Oman masih membahas sejumlah persoalan teknis dan keamanan, termasuk pembentukan koridor permanen, pengelolaan lalu lintas kapal, pertukaran informasi, serta penyediaan layanan keamanan.
Aktivitas pelayaran yang masih terbatas menjadi bukti bahwa pasar belum sepenuhnya mendapatkan kepastian. Pada Selasa, hanya lima kapal komoditas yang tercatat melintasi Selat Hormuz. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata selama 10 hari sebelumnya yang mencapai sekitar 15 kapal.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pembicaraan diplomatik menghasilkan kemajuan, aktivitas perdagangan belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal.
Kesepakatan Belum Menghilangkan Risiko Geopolitik
Pasar minyak juga masih menghadapi sejumlah pertanyaan besar terkait implementasi kesepakatan tersebut. Salah satu persoalan utama adalah sikap Amerika Serikat.
Iran menegaskan bahwa Washington harus menerima skema yang sedang disusun agar Selat Hormuz dapat dibuka secara penuh. Persyaratan tersebut menjadi faktor penting karena keterlibatan Amerika Serikat dapat menentukan sejauh mana kesepakatan Iran dan Oman mampu diterapkan dalam jangka panjang.
Selain itu, sejumlah negara Teluk diperkirakan keberatan apabila harus membayar Iran untuk menggunakan jalur pelayaran tersebut. Potensi perselisihan mengenai biaya, kewenangan, serta pengelolaan koridor dapat menjadi hambatan baru dalam proses normalisasi.
Dengan demikian, pasar belum dapat menganggap kesepakatan Iran-Oman sebagai solusi final. Selama persoalan tersebut belum diselesaikan, risiko gangguan pelayaran tetap menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas harga minyak.
AS Masih Pilih Tekanan Ekonomi
Di sisi lain, pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran sejauh ini lebih banyak mengandalkan tekanan ekonomi dibandingkan eskalasi militer secara langsung.
Kondisi tersebut turut membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan konflik yang lebih luas di kawasan. Jika Washington terus menahan diri dari langkah militer langsung, kemungkinan terganggunya jalur ekspor minyak secara berkepanjangan dapat berkurang.
Namun, pendekatan ekonomi tetap menyimpan risiko tersendiri. Kebijakan sanksi yang lebih agresif berpotensi mengganggu aliran minyak Iran dan menciptakan tekanan baru terhadap pasar global.
Situasi ini membuat pelaku pasar harus menyeimbangkan dua risiko yang berlawanan: risiko gangguan pasokan akibat konflik dan risiko penurunan harga akibat normalisasi pelayaran.
China Menjadi Faktor Penting
Sentimen bearish minyak juga diperkuat oleh keputusan Washington yang sejauh ini belum menerapkan secondary sanctions besar terhadap mitra dagang Iran, termasuk perusahaan-perusahaan keuangan China.
China memiliki peran penting dalam menjaga aliran ekspor minyak Iran. Negeri tersebut diketahui membeli sekitar 90% minyak Iran. Karena itu, setiap perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap pembeli minyak Iran, khususnya perusahaan China, dapat memberikan dampak besar terhadap keseimbangan pasar.
Beijing bahkan telah memperingatkan akan mengambil tindakan balasan apabila Washington memperluas tekanan ekonomi terhadap China.
Ancaman tersebut membuat penerapan sanksi tambahan menjadi lebih kompleks. Jika AS meningkatkan tekanan terhadap pembeli utama minyak Iran, potensi konflik ekonomi antara Washington dan Beijing dapat meningkat dan pada akhirnya menciptakan ketidakpastian baru bagi pasar energi.
Sebaliknya, jika AS tetap menahan diri, pasokan minyak Iran berpotensi terus mengalir ke pasar, sehingga tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut.
Sebagian Aliran Minyak Mulai Bergerak
Presiden Donald Trump juga mengklaim bahwa sekitar 10 juta barel minyak telah keluar melalui Selat Hormuz pada Selasa. Klaim tersebut menjadi sinyal bahwa sebagian aliran energi mulai kembali bergerak meskipun aktivitas pelayaran belum sepenuhnya pulih.
Bagi pasar, kembalinya aliran minyak merupakan perkembangan bearish karena meningkatkan ekspektasi bahwa gangguan pasokan tidak akan berlangsung selama yang sebelumnya dikhawatirkan.
Jika volume pengiriman terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, investor kemungkinan semakin mengurangi premi risiko yang melekat pada harga Brent dan WTI.
Namun, pasar tetap perlu menunggu data pelayaran yang lebih konsisten sebelum menyimpulkan bahwa normalisasi telah berlangsung sepenuhnya. Satu hari peningkatan pengiriman belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh jalur perdagangan telah kembali normal.
Brent Berpotensi Tertahan di Bawah US$90
Dari perspektif pasar, perkembangan Iran dan Oman menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik mulai dipangkas. Tekanan terhadap harga minyak karena itu masih cenderung dominan selama proses deeskalasi berlanjut.
Brent yang kembali berada di bawah US$90 per barel menunjukkan bahwa pasar mulai memasukkan skenario membaiknya kondisi pelayaran ke dalam harga. Jika jumlah kapal yang melintasi Hormuz terus meningkat dan Washington tetap menghindari eskalasi langsung, Brent berpotensi bertahan di bawah level tersebut.
Sebaliknya, risiko kenaikan harga masih terbuka lebar. Kesepakatan Iran-Oman belum final, sementara persetujuan AS dan penerimaan negara-negara Teluk masih menjadi tanda tanya.
Jika negosiasi gagal, aktivitas pelayaran kembali terganggu, atau Amerika Serikat mulai menerapkan secondary sanctions terhadap China dan pembeli utama minyak Iran, sentimen pasar dapat berubah dengan cepat.
Dalam skenario tersebut, kekhawatiran terhadap pasokan akan kembali meningkat dan harga minyak berpotensi mengalami rebound tajam.
Pasar Menanti Bukti Normalisasi Hormuz
Untuk saat ini, pasar minyak tampaknya lebih percaya pada prospek deeskalasi dibandingkan risiko eskalasi. Penurunan Brent dan WTI menunjukkan investor mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya tertanam akibat ketidakpastian Selat Hormuz.
Meski demikian, normalisasi belum dapat dianggap selesai. Kesepakatan Iran dan Oman masih berada pada tahap awal, aktivitas kapal masih berada di bawah rata-rata, dan posisi Amerika Serikat serta negara-negara Teluk belum sepenuhnya jelas.
Karena itu, arah harga minyak dalam beberapa sesi ke depan akan sangat ditentukan oleh bukti nyata di lapangan. Jika pelayaran melalui Hormuz kembali meningkat secara konsisten dan tidak ada eskalasi baru dari Washington, tekanan bearish berpotensi bertahan.
Sebaliknya, kegagalan diplomasi atau penerapan sanksi baru terhadap pembeli utama minyak Iran dapat dengan cepat menghidupkan kembali kekhawatiran pasokan. Dengan kondisi tersebut, pasar minyak masih berada dalam fase sensitif, di mana satu perkembangan geopolitik dapat mengubah arah harga secara signifikan.