BPF Malang

Image

Bestprofit | Harga Minyak Mendekati US$100, Risiko Hormuz

Bestprofit (8/9) – Harga minyak dunia menguat ke level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Senin (7/9), didorong meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Brent crude berjangka ditutup di US$97,31 per barel setelah sempat menyentuh US$98,06, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$93,29 sebelum berakhir di US$92,65. Kenaikan tersebut memperlihatkan kembali besarnya premi risiko geopolitik di pasar energi. Investor semakin khawatir konflik AS-Iran dapat mengganggu arus perdagangan minyak dari Timur Tengah, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi pengiriman energi global.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak

Sentimen pasar minyak kembali memanas setelah eskalasi antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa hari terakhir. Serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas terhadap perdagangan energi. Iran juga memperingatkan bahwa serangan terhadap asetnya akan mendapatkan balasan. Ancaman tersebut membuat pasar memperhitungkan risiko bahwa infrastruktur energi dan jalur pelayaran dapat menjadi sasaran berikutnya. Bagi pasar minyak, perkembangan ini sangat penting karena gangguan terhadap produksi maupun distribusi dapat langsung mengurangi pasokan yang tersedia. Ketika pasokan semakin terbatas sementara permintaan tetap bertahan, harga minyak biasanya mendapatkan tekanan kenaikan. Reuters melaporkan bahwa ketegangan terbaru telah membuat arus minyak dari kawasan tersebut menurun dan mendorong Brent mendekati level US$100 per barel.
Minyak Mendekati $100, Risiko Hormuz Perkuat Momentum Bullish

Serangan Kapal Tingkatkan Risiko Gangguan Pasokan

Salah satu perkembangan yang paling diperhatikan pasar adalah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan kapal militer. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan saling menyerang kapal selama akhir pekan. Perkembangan ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena kapal komersial kini ikut terdampak oleh konflik. Gangguan terhadap kapal tanker memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kerusakan pada satu atau beberapa kapal. Perusahaan pelayaran dapat mengurangi aktivitas di wilayah berisiko, mengubah rute, atau meningkatkan biaya pengiriman untuk mengantisipasi risiko keamanan. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, biaya transportasi minyak dapat meningkat sekaligus memperlambat pengiriman dari kawasan produsen menuju konsumen. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pasar mulai memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih besar ke dalam harga minyak.

Selat Hormuz Menjadi Titik Kritis

Perhatian terbesar kini tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Penurunan lalu lintas kapal di selat tersebut menunjukkan bahwa konflik mulai memberikan dampak terhadap aktivitas pelayaran. Reuters melaporkan lalu lintas kapal melalui Hormuz telah turun ke level terendah sejak Mei. Jika gangguan tersebut hanya berlangsung sementara, dampaknya terhadap harga minyak kemungkinan masih dapat diredam. Namun, apabila pembatasan pelayaran berlangsung lebih lama, pasar akan menghadapi risiko pasokan yang semakin besar. Kondisi tersebut sangat penting karena negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk bergantung pada jalur laut untuk mengirimkan komoditas ke pasar internasional. Setiap hambatan di Hormuz berpotensi meningkatkan biaya dan waktu pengiriman sekaligus membuat pembeli berebut pasokan alternatif.

Brent Semakin Dekat ke US$100

Secara teknikal, perhatian pasar kini tertuju pada level US$98 per barel. Brent telah sempat menyentuh US$98,06 dalam perdagangan Senin sebelum ditutup di US$97,31. Level US$98 menjadi resistance terdekat. Jika harga mampu menembusnya secara konsisten, Brent berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level psikologis US$100 per barel. Pencapaian US$100 akan menjadi tonggak penting bagi pasar karena dapat memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global. Harga energi yang lebih mahal berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi berbagai barang. Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik mulai mereda dan lalu lintas kapal kembali normal, premi risiko dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor mengambil keuntungan setelah kenaikan harga minyak yang cukup tajam.

OPEC+ Menjaga Pasokan Tetap Terbatas

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapatkan dukungan dari kebijakan OPEC+. Kelompok produsen minyak tersebut mempertahankan kebijakan produksi untuk Oktober. Keputusan ini membuat pasar tidak mendapatkan tambahan pasokan besar dalam waktu dekat. Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena gangguan pelayaran dan ekspor dari kawasan Timur Tengah telah meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan minyak. Persediaan bahan bakar yang semakin ketat juga membuat pasar lebih sensitif terhadap berita mengenai pasokan. Setiap gangguan baru dapat memicu reaksi harga yang lebih besar dibandingkan ketika persediaan berada pada level yang lebih nyaman. Dengan demikian, faktor fundamental dan geopolitik saat ini bergerak ke arah yang sama-sama mendukung harga minyak.

Goldman Sachs Waspadai Skenario US$120

Risiko kenaikan harga minyak menjadi lebih besar apabila konflik AS-Iran terus meningkat dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz semakin parah. Goldman Sachs menilai harga minyak dapat mengalami kenaikan signifikan apabila gangguan terhadap pelayaran semakin meluas. Dalam skenario gangguan yang lebih berat, Brent berpotensi mencapai sekitar US$120 per barel. Proyeksi tersebut bukan berarti harga pasti mencapai US$120. Level tersebut merupakan gambaran skenario risiko apabila gangguan pasokan menjadi jauh lebih serius. Risiko terbesar muncul apabila serangan tidak lagi terbatas pada kapal, tetapi mulai mengganggu fasilitas produksi, terminal ekspor, kilang, atau infrastruktur energi utama di kawasan Teluk. Dalam situasi seperti itu, pasar akan menghadapi penurunan pasokan fisik yang jauh lebih besar.

Prospek Harga Minyak Masih Bullish

Untuk jangka pendek, arah harga minyak masih cenderung bullish selama ketegangan AS-Iran belum mereda dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap terganggu. Area US$98 menjadi resistance terdekat yang perlu diperhatikan. Penembusan konsisten di atas level tersebut dapat membuka jalan menuju US$100. Jika Brent berhasil melewati US$100 dengan dukungan volume dan sentimen geopolitik yang kuat, potensi kenaikan berikutnya akan bergantung pada seberapa besar gangguan pasokan yang terjadi. Sebaliknya, apabila konflik mereda, lalu lintas kapal kembali meningkat, dan pasokan minyak mulai normal, tekanan jual dapat muncul karena premi risiko geopolitik berkurang. Untuk saat ini, pasar masih harus menghadapi ketidakpastian yang tinggi. Selat Hormuz menjadi indikator utama yang perlu dipantau karena perubahan lalu lintas kapal dapat memberikan gambaran mengenai seberapa besar dampak konflik terhadap pasokan minyak dunia. Dengan Brent yang telah mendekati US$100 per barel, perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz akan menjadi katalis utama bagi arah harga minyak berikutnya. Catatan editorial: saya mempertahankan angka penutupan US$97,31 sesuai data perdagangan 7 September yang Anda gunakan; Reuters juga mengonfirmasi level penutupan tersebut dan level intraday US$98,06.