BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Tertekan Sinyal Hawkish The Fed

Bestprofit (8/10) – Harga emas (XAU/USD) kembali melemah pada awal perdagangan Asia, Kamis (8/10), dan bergerak di sekitar US$4.110 per troy ounce. Posisi tersebut membuat emas berada dekat level terendah dalam dua bulan setelah sebelumnya menikmati penguatan signifikan sepanjang tahun.

Tekanan terhadap logam mulia terutama datang dari penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil atau yield Treasury Amerika Serikat (AS). Kombinasi kedua faktor tersebut membuat emas menjadi relatif kurang menarik dibandingkan aset keuangan yang menawarkan imbal hasil.

Pergerakan emas saat ini juga mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi lebih lama, terutama jika tekanan inflasi kembali meningkat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dolar AS dan Yield Treasury Tekan Harga Emas

Penguatan Greenback menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Karena emas diperdagangkan dalam Dolar AS, kenaikan nilai mata uang tersebut biasanya membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap emas dan mendorong investor untuk mengalihkan sebagian dana ke aset berbasis Dolar AS. Tekanan semakin besar ketika yield Treasury ikut meningkat.

Yield Treasury AS kembali bergerak mendekati level tertinggi sejak 2002. Kenaikan yield meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS karena investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, emas tidak memberikan kupon atau bunga sehingga biaya peluang untuk memegang logam mulia menjadi semakin besar.

Situasi ini menjadi tantangan bagi emas dalam jangka pendek. Selama yield riil dan imbal hasil aset berbasis Dolar AS tetap tinggi, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.

Bestprofit | Emas Tertekan, Pasar Tunggu FOMC

Harga Minyak Tambah Kekhawatiran Inflasi

Selain pergerakan Dolar AS dan Treasury, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian pasar. Harga energi yang meningkat berpotensi mendorong kembali inflasi, khususnya melalui kenaikan biaya transportasi dan produksi.

Jika inflasi energi kembali menguat, The Fed dapat menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Pasar kemudian akan semakin berhati-hati dalam memperkirakan penurunan suku bunga.

Kondisi tersebut menjadi kurang menguntungkan bagi emas dalam jangka pendek. Emas memang sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi ketika inflasi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, kenaikan yield dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap logam mulia.

Dengan demikian, pasar saat ini menghadapi dinamika yang cukup kompleks. Kekhawatiran inflasi seharusnya mendukung emas sebagai aset lindung nilai, tetapi respons kebijakan moneter terhadap inflasi justru dapat menjadi faktor negatif bagi harga emas.

Risalah FOMC Tunjukkan Sikap The Fed Masih Hawkish

Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bahwa para pejabat The Fed mendukung kenaikan suku bunga pada September.

Mayoritas pejabat juga menilai kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun. Pesan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan melawan inflasi belum dianggap selesai.

Pasar saat ini memang lebih banyak memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada Desember masih cukup tinggi, dengan peluang berada di sekitar 78,3%.

Jika ekspektasi tersebut semakin menguat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Investor akan cenderung meningkatkan kepemilikan aset berimbal hasil dan Dolar AS, sementara permintaan terhadap aset tanpa imbal hasil seperti emas dapat berkurang.

Jeff Schmid Pertegas Komitmen Menekan Inflasi

Nada hawkish juga diperkuat oleh Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid. Ia menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan untuk membawa inflasi kembali menuju target.

Schmid juga menyoroti potensi tekanan inflasi yang dapat muncul dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perubahan struktural dalam perekonomian akibat AI dinilai dapat memengaruhi produktivitas, permintaan tenaga kerja, serta tekanan harga.

Menurut pandangan tersebut, tingginya yield jangka panjang belum otomatis membuat kebijakan suku bunga jangka pendek dapat dilonggarkan. The Fed masih perlu menjaga tingkat suku bunga cukup ketat untuk memastikan tekanan inflasi benar-benar terkendali.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar emas. Jika bank sentral AS mempertahankan sikap hawkish, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dapat tertunda dan memberikan ruang bagi yield serta Dolar AS untuk tetap tinggi.

Permintaan Institusional Masih Menjadi Penopang

Meskipun tekanan jangka pendek cukup kuat, prospek emas tidak sepenuhnya berubah menjadi bearish. Permintaan institusional masih menjadi salah satu fondasi penting yang menopang harga.

TD Securities mencatat aksi jual dari Commodity Trading Advisors (CTA) telah memberikan tekanan terhadap emas, perak, dan platinum. Strategi perdagangan berbasis momentum dari kelompok tersebut dapat memperbesar tekanan ketika harga mulai mengalami koreksi.

Namun, arus masuk Exchange Traded Fund (ETF) dan pembelian bank sentral masih memberikan dukungan terhadap pasar emas. Artinya, tekanan dari investor jangka pendek belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental terhadap prospek emas.

Salah satu perkembangan penting datang dari People’s Bank of China (PBoC). Bank sentral China tercatat melanjutkan pembelian emas selama 23 bulan berturut-turut. Pada September, PBoC menambah sekitar 23 ton emas ke dalam cadangannya.

Pembelian konsisten dari bank sentral menunjukkan bahwa permintaan emas tidak hanya bergantung pada investor ritel atau spekulan. Bank sentral juga terus meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Risiko Geopolitik dan De-Dolarisasi Tetap Menopang Emas

Dalam perspektif yang lebih panjang, emas masih memiliki sejumlah katalis positif. Risiko geopolitik, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, proses de-dolarisasi, serta potensi stagflasi dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap logam mulia.

Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor mencari aset safe haven. Emas memiliki karakteristik yang membuatnya tetap menjadi pilihan ketika kepercayaan terhadap aset atau mata uang tertentu mengalami tekanan.

Kekhawatiran fiskal juga menjadi faktor penting. Tingginya utang pemerintah dan kebutuhan pembiayaan dapat meningkatkan perhatian investor terhadap keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, emas dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai yang tidak bergantung langsung pada kemampuan suatu pemerintah untuk memenuhi kewajibannya.

Sementara itu, tren de-dolarisasi mendorong sejumlah bank sentral untuk meningkatkan cadangan emas. Strategi tersebut dapat menjadi sumber permintaan struktural yang berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan arus dana spekulatif.

Koreksi Belum Menghapus Prospek Bullish Emas

Pelemahan emas ke sekitar US$4.110 per troy ounce menunjukkan bahwa logam mulia sedang menghadapi tekanan kuat dari sisi makroekonomi. Penguatan Dolar AS, kenaikan yield Treasury, potensi bertahannya suku bunga tinggi, serta sikap hawkish The Fed menjadi kombinasi yang kurang menguntungkan bagi emas dalam jangka pendek.

Namun, koreksi tersebut belum otomatis menghapus prospek bullish emas untuk jangka panjang. Permintaan bank sentral, arus ETF, risiko geopolitik, kekhawatiran fiskal, de-dolarisasi, dan potensi stagflasi masih menjadi faktor fundamental yang dapat menjaga daya tarik emas.

Karena itu, pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan jangka pendek dari kebijakan moneter AS dan permintaan struktural dalam jangka panjang.

Jika Dolar AS dan yield Treasury terus meningkat, emas masih berisiko menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, apabila ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda atau risiko global kembali meningkat, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven dapat kembali menguat.