Bestprofit | Minyak Terkoreksi, Brent US$150 Mengintai?
Bestprofit (26/10) – Harga minyak dunia mengalami koreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mencatatkan kenaikan tajam hingga mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi ketika investor mulai mengevaluasi perkembangan konflik di Timur Tengah, sekaligus melakukan penyesuaian posisi setelah reli harga yang signifikan sepanjang pekan sebelumnya.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember tercatat turun 1,1% menjadi US$115,48 per barel pada pukul 08.01 waktu Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,2% ke level US$102,05 per barel.
Meski mengalami penurunan, harga minyak masih berada pada level tinggi. Ketegangan geopolitik, risiko gangguan distribusi energi, dan ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
Pelaku pasar kini dihadapkan pada dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, pemulihan distribusi minyak berpotensi meredakan tekanan harga. Di sisi lain, ancaman eskalasi konflik masih dapat memicu lonjakan harga baru, terutama apabila mengganggu infrastruktur energi atau jalur pelayaran strategis.
Harga Minyak Tertinggi dalam Lima Bulan
Harga Minyak Brent dan WTI Mengalami Koreksi
Penurunan harga minyak pada awal pekan dipengaruhi oleh aksi ambil untung setelah kenaikan tajam sebelumnya. Ketika harga mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan, sebagian investor cenderung merealisasikan keuntungan dengan menjual kontrak minyak yang telah mengalami kenaikan signifikan.
Langkah tersebut dapat memicu koreksi jangka pendek tanpa harus mengubah arah tren utama. Dalam kondisi pasar yang sensitif terhadap berita geopolitik, perubahan sentimen investor juga dapat menyebabkan pergerakan harga berlangsung cepat.
Harga Brent yang turun menjadi US$115,48 per barel dan WTI yang melemah ke US$102,05 per barel menunjukkan bahwa tekanan jual mulai muncul setelah reli sebelumnya. Namun, kedua patokan minyak tersebut masih mencerminkan tingginya premi risiko yang melekat pada pasar energi global.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Brent menjadi acuan penting bagi perdagangan minyak internasional, sedangkan WTI merupakan patokan utama minyak mentah di Amerika Serikat. Perbedaan harga keduanya dapat dipengaruhi oleh kondisi pasokan, permintaan, biaya transportasi, dan dinamika pasar regional.
Untuk saat ini, koreksi harga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren kenaikan minyak telah berakhir. Investor masih perlu mencermati perkembangan konflik serta kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Indikator Teknikal Menunjukkan Minyak Berada di Zona Jenuh Beli
Selain faktor fundamental, indikator teknikal turut memberikan sinyal bahwa harga minyak berpotensi mengalami koreksi. Minyak Brent mulai menunjukkan kondisi jenuh beli atau overbought, setelah indikator Relative Strength Index (RSI) periode 14 hari melampaui angka 74 pada Jumat.
RSI merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kekuatan momentum pergerakan harga. Secara umum, nilai RSI di atas 70 sering diartikan sebagai tanda bahwa suatu aset telah mengalami kenaikan yang cukup kuat sehingga berisiko mengalami koreksi.
Dalam konteks minyak Brent, RSI di atas 74 menunjukkan bahwa tekanan beli telah meningkat secara signifikan. Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk mengamankan keuntungan, terutama setelah harga mengalami reli tajam.
Meski demikian, kondisi jenuh beli tidak secara otomatis menandakan bahwa harga akan langsung berbalik turun. Dalam tren kenaikan yang kuat, RSI dapat bertahan di wilayah tersebut selama beberapa waktu.
Karena itu, indikator teknikal perlu dibaca bersama faktor fundamental, seperti perkembangan pasokan minyak, kebijakan negara produsen, dan situasi geopolitik. Selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, koreksi harga berpotensi berlangsung terbatas.
Hal ini sejalan dengan kinerja minyak Brent sepanjang 2026 yang dilaporkan telah melonjak sekitar 90%. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh konflik Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan global.
Konflik AS-Iran Menjadi Penentu Arah Harga Minyak
Ketidakpastian hubungan antara AS dan Iran masih menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington semakin mendekati keputusan mengenai kemungkinan mencapai kesepakatan dengan Iran atau kembali mengambil tindakan militer.
Pernyataan tersebut membuat pasar terus memperhitungkan dua kemungkinan yang berbeda. Jika kesepakatan diplomatik tercapai, risiko gangguan pasokan dapat berkurang dan mendorong harga minyak turun. Sebaliknya, keputusan untuk melanjutkan tindakan militer berpotensi meningkatkan ketegangan dan memicu kekhawatiran baru terhadap distribusi energi.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengisyaratkan bahwa serangan dapat dihindari apabila AS mengambil langkah yang rasional. Pernyataan ini memberikan ruang bagi kemungkinan penyelesaian melalui diplomasi, meskipun belum menghilangkan ketidakpastian yang membayangi pasar.
Investor juga memperhatikan perkembangan konflik yang melibatkan kelompok Houthi. Kelompok tersebut mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh sebagai respons terhadap serangan Arab Saudi di Yaman.
Perkembangan ini memperluas perhatian pasar terhadap risiko keamanan di kawasan, khususnya jika ketegangan berkembang menjadi gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur perdagangan internasional.
Selama belum terdapat kepastian mengenai arah konflik, harga minyak berpotensi tetap berfluktuasi tajam. Bahkan, kabar mengenai kemungkinan serangan atau kesepakatan diplomatik dapat memicu perubahan harga dalam waktu singkat.
Pemulihan Distribusi Minyak Melalui Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, terdapat perkembangan yang berpotensi meredakan tekanan pasar. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan mulai pulih mendekati tingkat sebelum perang.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan produsen energi di Teluk Persia dengan pasar internasional. Jalur ini memiliki peran penting dalam distribusi minyak dan gas alam cair ke berbagai negara, terutama di Asia.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat menghambat pengiriman energi, meningkatkan biaya transportasi, dan mendorong kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan.
Sebaliknya, pemulihan lalu lintas kapal dapat membantu memperbaiki ekspektasi ketersediaan minyak di pasar global. Jika distribusi terus berjalan lancar, sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga berpotensi berkurang.
Namun, pemulihan pengiriman belum tentu langsung menurunkan harga secara signifikan. Investor tetap harus mempertimbangkan risiko serangan baru, kondisi keamanan jalur pelayaran, dan kemungkinan perubahan kebijakan militer.
Dengan demikian, kelancaran distribusi melalui Selat Hormuz menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah koreksi harga minyak dapat berlanjut atau hanya berlangsung sementara.
Agenda Politik dan Ekonomi Memicu Volatilitas Pasar
Selain konflik Timur Tengah, sejumlah agenda politik dan ekonomi penting turut menjadi perhatian investor. Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, disusul pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober. Sementara itu, pemilu paruh waktu AS dijadwalkan pada 3 November.
Rangkaian agenda tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar mengenai stabilitas kawasan, kebijakan luar negeri AS, dan prospek ekonomi global.
Investor menilai risiko eskalasi konflik berpotensi meningkat setelah pemilu paruh waktu AS, meskipun arah perkembangan tersebut masih bergantung pada keputusan politik dan situasi keamanan di lapangan.
Di sisi lain, pertemuan The Fed menjadi perhatian karena harga minyak yang tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi. Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan ongkos produksi dan transportasi, yang kemudian diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa.
Jika tekanan inflasi bertahan, bank sentral dapat menghadapi keterbatasan dalam melonggarkan kebijakan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi atau bertahan pada level tinggi dapat menekan aktivitas ekonomi dan mengurangi permintaan energi.
Oleh karena itu, perkembangan kebijakan moneter AS juga berpotensi memengaruhi harga minyak melalui perubahan prospek pertumbuhan ekonomi, konsumsi energi, dan nilai tukar dolar AS.
Brent Berpotensi Menyentuh US$150 per Barel
Di tengah ketidakpastian tersebut, prospek kenaikan harga minyak yang lebih ekstrem tetap menjadi perhatian. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperkirakan bahwa harga Brent dapat mencapai US$150 per barel dalam skenario kenaikan ekstrem.
Skenario tersebut mencerminkan kemungkinan bahwa gangguan pasokan berlangsung cukup parah sehingga harga minyak meningkat ke tingkat yang membebani konsumsi energi global.
Jika harga minyak terus melonjak, negara-negara berkembang di Asia berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar. Kenaikan biaya impor energi dapat memperburuk neraca perdagangan, meningkatkan beban subsidi energi di sejumlah negara, dan menekan daya beli masyarakat.
Pada tingkat konsumen, harga bahan bakar dan biaya transportasi yang lebih tinggi dapat mengurangi ruang belanja rumah tangga. Sementara itu, perusahaan harus menghadapi kenaikan biaya operasional yang berpotensi mengurangi margin keuntungan.
Namun, level US$150 per barel merupakan skenario ekstrem, bukan kepastian arah harga. Realisasinya akan sangat bergantung pada besarnya gangguan pasokan, perkembangan konflik, dan kemampuan pasar menyesuaikan permintaan terhadap kenaikan harga.
Prospek Harga Minyak: Volatilitas Masih Tinggi
Ke depan, harga minyak dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif karena pasar menghadapi pertentangan antara pemulihan distribusi dan risiko konflik yang belum mereda.
Apabila diplomasi AS-Iran menunjukkan kemajuan dan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap lancar, harga Brent berpotensi melanjutkan koreksi. Aksi ambil untung dan kondisi teknikal yang menunjukkan jenuh beli juga dapat menambah tekanan jual dalam jangka pendek.
Sebaliknya, serangan baru terhadap infrastruktur energi, gangguan jalur pelayaran, atau memburuknya hubungan AS-Iran dapat mendorong harga kembali naik. Dalam kondisi tersebut, premi risiko geopolitik berpotensi meningkat dan mengalahkan pengaruh koreksi teknikal.
Harga minyak yang bertahan di atas US$115 per barel juga perlu diwaspadai karena dapat memperbesar tekanan inflasi global. Bank sentral akan menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan mengendalikan inflasi dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, koreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) belum dapat dipandang sebagai tanda berakhirnya tren kenaikan harga minyak. Perkembangan konflik Timur Tengah, kelancaran distribusi energi, dan respons kebijakan ekonomi global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar selanjutnya.















