Bestprofit | Dolar Melemah Usai Data Pengangguran
Bestprofit (12/9)- Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Jumat (12/9), setelah lonjakan jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan dan inflasi konsumen yang naik secara moderat memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter minggu depan. Melemahnya dolar ini menandai arah baru pasar yang kini mulai mengantisipasi sikap dovish dari bank sentral AS, setelah berbulan-bulan kebijakan ketat menahan inflasi.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun ke level 97,585, menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut. Ini sekaligus mengakhiri reli dua hari yang sempat terbentuk sebelumnya.
Klaim Pengangguran AS Naik Tajam, Tertinggi Dalam Empat Tahun
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran mingguan melonjak, mencatat kenaikan terbesar sejak tahun 2021. Ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melemah, meski sebelumnya menunjukkan ketahanan luar biasa selama dua tahun terakhir.
Kondisi ini menambah tekanan pada The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya, terutama karena target inflasi sudah mulai tercapai dan risiko resesi meningkat. Pasar melihat laporan ini sebagai pemicu perubahan arah kebijakan, dari pengetatan menuju pelonggaran.
Bestprofit | Dolar Menguat Jelang Data CPI
Inflasi Masih Terkendali: CPI Naik Tapi Sesuai Ekspektasi
Selain data pengangguran, Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Agustus juga dirilis pada hari yang sama. CPI menunjukkan kenaikan tercepat dalam tujuh bulan terakhir, tetapi tetap sejalan dengan ekspektasi analis, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran baru tentang lonjakan inflasi.
Kombinasi dari inflasi yang terkendali dan melemahnya pasar tenaga kerja memberikan justifikasi kuat bagi The Fed untuk mulai memangkas suku bunga. Pasar menyebut kondisi ini sebagai “persimpangan jalan”, di mana data ekonomi memberikan sinyal yang campuran namun cenderung mendukung pelonggaran kebijakan.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Pasar Semakin Yakin Akan Pemangkasan Suku Bunga
Dengan dua data penting tersebut, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed berubah drastis. Fed funds futures kini hampir sepenuhnya mem-price in kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC tanggal 17 September mendatang.
Namun, ekspektasi pemangkasan lebih agresif sebesar 50 bps mulai menipis. Pasar tampaknya mengadopsi pandangan bahwa The Fed akan melangkah hati-hati, memulai pelonggaran secara bertahap sambil terus memantau data ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Ekspektasi ini juga tercermin dalam pasar obligasi. Imbal hasil Treasury 10 tahun naik tipis ke 4,0282%, dari sebelumnya 4,011%, meskipun sebelumnya sempat turun ke bawah level psikologis 4%. Kenaikan imbal hasil mencerminkan adanya ketidakpastian, namun juga menunjukkan bahwa investor masih menilai risiko inflasi dan arah kebijakan dengan hati-hati.
Dolar AS Melemah di Pasar Global
Melemahnya ekspektasi terhadap suku bunga tinggi berdampak langsung pada nilai tukar dolar di pasar valuta asing (valas). Secara umum, greenback mengalami tekanan terhadap sebagian besar mata uang utama.
USD/JPY Stabil Usai Pernyataan AS-Jepang
Pasangan USD/JPY diperdagangkan datar di level 147,27, setelah pernyataan bersama antara otoritas AS dan Jepang yang menyatakan bahwa nilai tukar harus ditentukan oleh pasar dan menolak volatilitas berlebihan. Pernyataan ini muncul setelah spekulasi bahwa Jepang dapat melakukan intervensi jika yen melemah lebih jauh.
Stabilisasi USD/JPY ini menunjukkan bahwa meskipun dolar melemah, pasar masih berhati-hati terhadap kemungkinan intervensi mata uang oleh otoritas Jepang.
Euro Sedikit Tertekan Meski ECB Tahan Suku Bunga
Sementara itu, EUR/USD tercatat sedikit melemah ke $1,1727 (-0,1%), meski European Central Bank (ECB) menahan suku bunga acuannya di 2%. ECB menilai bahwa risiko ekonomi di kawasan euro kini lebih seimbang, memberikan sinyal bahwa sikap kebijakan mungkin akan tetap stabil dalam jangka pendek.
Kelemahan euro ini bukan semata karena kekuatan dolar, melainkan juga karena kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di Eropa yang masih belum solid.
Dolar Australia dan Selandia Baru Bergerak Berlawanan
Di kawasan Asia-Pasifik, AUD/USD menguat tipis sebesar 0,1% ke $0,6665, didukung oleh harapan bahwa pelonggaran kebijakan global akan meningkatkan permintaan komoditas. Sebaliknya, NZD/USD turun 0,1% ke $0,5971, mencerminkan perbedaan ekspektasi terhadap suku bunga domestik dan pertumbuhan ekonomi di Selandia Baru.
Pound dan Yuan Bergerak Sempit
GBP/USD tercatat turun tipis ke $1,3572 (-0,1%) tanpa katalis besar dari Inggris, sementara yuan offshore tetap stabil di 7,1135 per dolar, menunjukkan stabilitas sementara dalam kebijakan moneter Tiongkok meski tekanan dari perlambatan ekonomi domestik masih berlangsung.
The Fed di Persimpangan Jalan: Dovish atau Tunggu Sinyal Lebih Kuat?
Meski sebagian besar pelaku pasar kini yakin The Fed akan mulai memangkas suku bunga, tidak sedikit pula yang menilai bank sentral masih dapat menunda keputusan tersebut jika data ekonomi berikutnya menunjukkan kekuatan kembali, terutama di sektor tenaga kerja.
The Fed berada dalam situasi yang kompleks: di satu sisi, tekanan untuk menurunkan suku bunga datang dari sektor tenaga kerja dan tekanan politik menjelang pemilu; di sisi lain, inflasi belum benar-benar turun ke target 2% secara konsisten.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa Fed bisa saja memberikan “pemangkasan simbolis” sebesar 25 bps, bukan sebagai sinyal pelonggaran besar-besaran, tetapi sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi ekonomi yang berubah. Keputusan ini juga akan sangat tergantung pada pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang akan memberikan arahan kebijakan pasca-pertemuan FOMC.
Kesimpulan: Dolar Tertekan, Fokus Beralih ke The Fed
Pelemahan dolar AS pada Jumat mencerminkan perubahan sentimen pasar global terhadap kebijakan moneter AS. Data pengangguran yang melonjak dan inflasi yang tetap moderat membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Indeks dolar yang turun ke 97,585 menunjukkan tekanan berkelanjutan terhadap greenback, dan kemungkinan akan terus melemah jika The Fed mengambil langkah dovish minggu depan. Pasar kini mengalihkan fokus pada keputusan FOMC 17 September, serta komentar lanjutan dari para pejabat The Fed mengenai arah kebijakan hingga akhir 2025.
Sementara itu, pasar valas akan terus dipengaruhi oleh dinamika global seperti intervensi mata uang potensial, pertumbuhan ekonomi kawasan, serta data-data lanjutan dari AS. Dengan arah kebijakan moneter utama yang mulai berubah, volatilitas di pasar mata uang diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.















