BPF Malang

Image

Bestprofit | Serangan Energi ke Rusia Dongkrak Minyak

Bestprofit (16/9) – Harga minyak dunia kembali menguat pada hari Senin (15/9), didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan tekanan diplomatik. Serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina ke kilang-kilang minyak Rusia serta desakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap negara-negara NATO untuk menghentikan pembelian minyak Rusia menjadi dua pemicu utama yang mendorong harga naik.

Kinerja Harga Minyak: Brent dan WTI Naik

Minyak mentah berjangka Brent ditutup naik sebesar 45 sen atau 0,67%, menjadi $67,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat ditutup naik lebih tajam, yaitu sebesar 61 sen atau 0,97%, menjadi $63,30 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif dari minggu sebelumnya, di mana kedua kontrak utama minyak mentah tersebut juga mengalami kenaikan lebih dari 1%.

Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, menyatakan bahwa kombinasi serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan tekanan politik dari AS menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak naik pada hari Senin.

Bestprofit | Gejolak Politik Dongkrak Minyak

Serangan Drone Ukraina Guncang Infrastruktur Energi Rusia

Ketegangan geopolitik antara Ukraina dan Rusia kembali memanas setelah Ukraina meningkatkan serangan drone ke berbagai infrastruktur energi vital Rusia. Salah satu serangan terbaru menargetkan kilang minyak di kota Kirishi, Rusia barat laut—salah satu kilang terbesar di negara itu.

Dua sumber industri mengungkapkan bahwa kilang tersebut terpaksa menghentikan unit pemrosesan utamanya akibat kerusakan. Kilang Kirishi sendiri memiliki kapasitas pengolahan sekitar 355.000 barel minyak per hari, atau sekitar 6,4% dari total pasokan minyak mentah Rusia.

Tak hanya itu, Ukraina juga menyerang terminal ekspor minyak terbesar Rusia di Primorsk, yang memiliki kapasitas ekspor hingga 1 juta barel per hari. Serangan ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan global, mendorong harga minyak naik lebih lanjut.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Tekanan Trump terhadap NATO Perkuat Sentimen Pasar

Sementara ketegangan di medan perang memicu lonjakan harga, dinamika diplomatik juga tak kalah penting. Presiden Donald Trump pada hari Sabtu menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menjatuhkan sanksi energi baru kepada Rusia. Namun, langkah tersebut hanya akan diambil jika semua negara anggota NATO menghentikan pembelian minyak mentah dari Rusia dan menerapkan kebijakan serupa.

Pernyataan ini menambah tekanan bagi negara-negara Eropa yang masih bergantung pada energi Rusia, serta menciptakan ketidakpastian lebih lanjut di pasar energi global. Jika NATO mengikuti permintaan Trump, hal ini berpotensi mengganggu arus pasokan dan memperkuat kenaikan harga minyak secara global.

Kekhawatiran Pasokan Global: Minyak Berat dan Solar

Selain faktor geopolitik dan tekanan politik, pasar minyak juga dipengaruhi oleh kekhawatiran teknis terhadap jenis pasokan tertentu. Menurut Phil Flynn, di balik layar terdapat kekhawatiran yang meningkat terhadap pasokan minyak berat dan solar yang semakin ketat.

Minyak berat digunakan secara luas dalam produksi bahan bakar industri dan solar. Ketatnya pasokan jenis minyak ini memperkuat fundamental bullish (kenaikan) di pasar, membuat harga tetap terjaga meskipun ada tekanan dari sisi permintaan global.

Dukungan Tambahan: Permintaan Kilang Tiongkok dan Stok AS

Pasar minyak mendapat dorongan tambahan dari data permintaan kilang di Tiongkok yang kuat pada bulan lalu. Meskipun data ekonomi dari negara tersebut menunjukkan pelemahan secara keseluruhan, aktivitas kilang tetap solid—mengindikasikan permintaan energi yang tetap stabil, setidaknya dari sektor industri.

Selain itu, penurunan cadangan minyak mentah di Amerika Serikat turut membantu menopang harga. Berkurangnya stok minyak menunjukkan peningkatan konsumsi domestik atau penurunan pasokan—keduanya memberikan sinyal bullish bagi pasar.

Giovanni Staunovo, analis dari UBS, menyatakan bahwa meskipun data ekonomi Tiongkok mengecewakan, permintaan kilang dan penurunan cadangan AS tetap menjadi faktor pendukung harga.

Faktor Moneter: The Fed dan Dampaknya terhadap Minyak

Investor kini juga mengalihkan perhatian ke kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada 16–17 September, dengan ekspektasi kuat bahwa bank sentral akan melonggarkan kebijakan suku bunga.

Pemangkasan suku bunga biasanya berdampak pada penguatan pasar komoditas, termasuk minyak. Biaya pinjaman yang lebih rendah meningkatkan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi. Selain itu, kebijakan suku bunga rendah juga berpotensi melemahkan dolar AS.

Dolar yang lebih lemah membuat harga minyak—yang dihargai dalam dolar—menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga meningkatkan permintaan global.

“Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih agresif,” kata Flynn. “Ini akan memberikan tekanan pada dolar AS dan mendukung harga minyak.”

Data AS Picu Kekhawatiran Pertumbuhan

Meski terdapat sejumlah faktor pendukung harga, pasar tetap waspada terhadap potensi pelemahan ekonomi AS. Pekan lalu, data menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang lebih lemah dan kenaikan inflasi, yang memicu kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Sebagai negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia, perlambatan ekonomi di AS bisa berdampak signifikan terhadap permintaan global. Namun, untuk saat ini, efek dari gangguan pasokan tampaknya lebih dominan dibanding potensi pelemahan permintaan.

Kesimpulan: Campuran Risiko Politik dan Ekonomi Dorong Harga Minyak

Penguatan harga minyak pada hari Senin mencerminkan kompleksitas pasar saat ini—di mana faktor geopolitik, tekanan diplomatik, dinamika pasokan, serta kebijakan moneter saling memengaruhi arah harga.

Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia dan tekanan Trump terhadap negara-negara NATO untuk memboikot minyak Rusia memperbesar kekhawatiran akan terganggunya pasokan global. Di sisi lain, data permintaan yang tetap solid dari Tiongkok dan penurunan stok minyak AS turut memberikan dukungan tambahan.

Ke depan, keputusan Federal Reserve dan perkembangan geopolitik akan menjadi penentu utama bagi arah pasar minyak. Jika ketegangan terus meningkat dan The Fed melonggarkan kebijakan moneter, harga minyak berpotensi untuk melanjutkan kenaikan.