Dolar AS bergerak beragam pada perdagangan Rabu (29/10) menjelang pengumuman keputusan
suku bunga Federal Reserve (The Fed), dengan fokus investor tertuju pada pandangan Ketua The Fed Jerome Powell terhadap kondisi ekonomi AS, di tengah terbatasnya rilis data akibat penutupan pemerintahan federal.
Bank sentral AS diperkirakan akan terus menurunkan
suku bunga hingga tahun depan, seiring tanda-tanda pelemahan di
Pasar tenaga kerja. Namun, para pembuat kebijakan tetap berhati-hati untuk tidak terlalu agresif dalam pelonggaran, karena kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang masih membayangi.
Menurut Eric Theoret, ahli strategi valas di Scotiabank Toronto, tekanan politik terhadap The Fed untuk menurunkan
suku bunga telah berkurang dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengambil sikap lebih dovish tanpa terlihat tunduk pada tekanan politik.
“Dengan sedikit kelonggaran di sisi politik, The Fed mungkin bisa lebih mendukung pandangan fundamental
Pasar,” ujar Theoret. “Jika Powell memotong
suku bunga dan menegaskan ekspektasi
Pasar terhadap kebijakan yang lebih longgar,
Dolar AS bisa kembali melemah sebagaimana telah diantisipasi.”
Kontrak berjangka Fed funds futures saat ini memperkirakan pemangkasan
suku bunga sekitar 115 basis poin hingga akhir 2026.
Dolar AS juga mendapat dukungan dari tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan China tengah menuju kesepakatan gencatan dagang. Presiden Donald Trump menyatakan optimisme jelang pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, sekaligus merampungkan kesepakatan dagang dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Trump mengatakan dirinya berencana mengurangi
Tarif terhadap barang-barang China sebagai imbalan atas komitmen Beijing untuk membatasi ekspor bahan kimia prekursor fentanil.
Indeks
Dolar AS terakhir tercatat naik 0,19% menjadi 98,87, sementara euro melemah 0,14% menjadi $1,1632.
Baik Bank Sentral Eropa (ECB) maupun Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan
suku bunga pada keputusan kebijakan Kamis mendatang.
Yen, Pound, dan
Dolar Australia
Yen Jepang menguat tipis menjadi ¥152,04 per
Dolar, setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak
Pemerintah Jepang untuk memberikan ruang bagi BOJ menaikkan
suku bunga, memperkuat tekanannya terhadap kebijakan
suku bunga rendah yang dianggap terlalu lama menekan nilai yen.
Poundsterling Inggris melemah 0,5% menjadi $1,3203, level terendah dalam hampir tiga bulan, karena
Pasar memperkirakan kemungkinan pemangkasan
suku bunga Bank of England (BoE) pada akhir tahun, atau bahkan secepatnya pekan depan. Data terbaru menunjukkan inflasi Inggris stagnan pada September, sementara pertumbuhan upah melemah dan tingkat pengangguran meningkat.
Goldman Sachs kini memproyeksikan BoE akan memangkas
suku bunga pada November, berbalik dari perkiraan sebelumnya yang tidak melihat adanya pelonggaran di tahun ini.
Sementara itu,
Dolar Australia (Aussie) menguat ke $0,6617, level tertinggi sejak 7 Oktober, setelah data inflasi kuartalan yang lebih tinggi dari perkiraan membuat
Pasar meragukan adanya pemangkasan
suku bunga dari Reserve Bank of Australia (RBA) pada pekan depan atau bahkan di Desember.
Dolar Kanada juga menguat setelah Bank of Canada memangkas
suku bunga acuannya menjadi 2,25%, sesuai ekspektasi
Pasar, dan memberi sinyal bahwa langkah tersebut kemungkinan menandai akhir siklus pelonggaran kecuali terjadi perubahan signifikan pada prospek inflasi dan ekonomi.
Bitcoin tercatat turun tipis 0,20% menjadi $112.630.(yds)
Sumber: Reuters