
Harga
Emas dan
Perak merosot tajam dari level tertingginya baru-baru ini pada Selasa (21/10) seiring menguatnya
Dolar AS dan para pelaku
Pasar menghadapi minimnya data terkait posisi spekulatif di tengah shutdown pemerintahan AS yang masih berlangsung.
Emas batangan turun hingga 2,6% setelah sebelumnya mencapai puncak $4.381,52 per ons. Reli agresif yang telah mendorong harga
Emas dalam beberapa bulan terakhir membuat indikator teknikal termasuk relative strength index (RSI) menunjukkan bahwa kenaikan mungkin sudah terlalu jauh.
Penguatan Dolar AS juga membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi sebagian besar pembeli.
Sementara kata Ole Hansen, ahli strategi komoditas di Saxo Bank AS “Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, para trader semakin waspada karena muncul kekhawatiran akan terjadinya koreksi dan konsolidasi,”. “Selama fase koreksi inilah kekuatan
Pasar sejati biasanya terlihat, dan kali ini tidak akan berbeda dukungan fundamental kemungkinan akan membatasi penurunan lebih lanjut.”
Akibat penutupan pemerintahan AS yang berkepanjangan, para pedagang komoditas kehilangan salah satu alat paling penting mereka, laporan mingguan dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) tentang posisi hedge fund dan manajer investasi di
Pasar Emas dan
Perak. Tanpa data tersebut, spekulan lebih mungkin membentuk posisi besar ke satu arah secara berlebihan.
Hansen juga mencatat bahwa logam mulia turut tertekan oleh meredanya ketegangan AS–Tiongkok dan berakhirnya musim pembelian musiman di India.
Harga
Perak spot anjlok hingga 6,2% pada hari ini, dan terakhir diperdagangkan 5,4% lebih rendah di $49,62 per ons pada pukul 10:18 pagi waktu London.
Sementara
Emas turun 2,1% ke $4.265,96 per ons.(yds)
Sumber: Bloomberg.com