
Harga
Minyak melemah pada Rabu (15/10), melanjutkan penurunan sesi sebelumnya. Pada 04:25 GMT, Brent turun 0,3% ke $62,18/barel, sementara WTI turun 0,3% ke $58,54/barel. Kedua kontrak sebelumnya ditutup di level terendah lima bulan, menandakan tekanan jual masih berlanjut.
Penyebab utama ada di sisi pasokan. IEA memperingatkan
Pasar bisa menghadapi surplus hingga 4 juta bph pada 2026, lebih besar dari proyeksi sebelumnya, seiring OPEC+ dan produsen lain menaikkan output di tengah permintaan yang lesu. Analis LSEG, Emril Jamil, menyebut fokus
Pasar kini pada kelebihan pasokan dengan sinyal permintaan yang campur aduk.
Di saat yang sama, ketegangan dagang AS–Tiongkok kembali memanas. Kedua negara memberlakukan biaya pelabuhan tambahan untuk kapal yang membawa kargo di antara mereka, meningkatkan biaya perdagangan dan mengganggu arus pengiriman. Ketegangan makin tajam setelah Tiongkok memperluas kontrol ekspor rare earth, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam
Tarif 100% dan memperketat pembatasan ekspor perangkat lunak mulai 1 November, yang berisiko menekan pertumbuhan global.
Untuk gambaran permintaan AS, pelaku
Pasar menunggu data persediaan mingguan. Jajak pendapat awal Reuters memperkirakan stok
Minyak mentah AS naik 200 ribu barel pada pekan hingga 10 Oktober, sementara bensin dan distilat kemungkinan turun. Laporan API dijadwalkan Rabu 20:30 GMT, sedangkan data EIA Kamis 14:30 GMT—keduanya mundur satu hari karena libur Columbus Day/Indigenous Peoples Day. Analis Haitong Futures, Yang An, menegaskan perubahan inventory global akan menjadi kunci arah harga berikutnya.(asd)
Sumber:
newsmaker.id