
Harga
Perak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas $52,50 per ons pada hari Selasa, didorong oleh tekanan besar-besaran di
Pasar London yang memperketat likuiditas dan memicu reli tajam di logam mulia. Lonjakan ini memperpanjang peningkatan tajam
Perak pada tahun ini, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah-tengah ekonomi global.
Harga spot
Perak sempat naik hingga $52,59 per ons, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Januari 1980 saat keluarga miliarder Hunt berusaha memonopoli
Pasar. Para pedagang melaporkan kekurangan pasokan di pusat perdagangan London, hingga beberapa harus mengirim batangan
Perak melalui penerbangan kargo lintas Atlantik untuk memenuhi kebutuhan
Pasar dan memanfaatkan harga yang lebih tinggi di Inggris.
Kondisi
Pasar yang ketat diperparah oleh menyewakan biaya pinjaman
Perak di London, yang sempat melejit hingga lebih dari 30% pada tenor satu bulan. Sementara itu, permintaan yang kuat dari India juga menarik pasokan global, dan likuiditas di Eropa. Di sisi lain, kekhawatiran potensi
Tarif baru AS terhadap mineral penting seperti
Perak, platinum, dan paladium semakin menambah tekanan di
Pasar logam.
Menurut analis Goldman Sachs,
Pasar Perak yang relatif kecil—sekitar sembilan kali lebih kecil dari
Emas—membuat pergerakan harga menjadi lebih ekstrem. Mereka diperingatkan bahwa koreksi tajam bisa terjadi jika arus investasi menurun.
Reli logam mulia tahun ini juga diperkuat oleh ekspektasi penurunan
suku bunga The Fed, melemahnya
Dolar AS, serta meningkatnya permintaan bank sentral terhadap
Emas. Bank of America bahkan menaikkan target harga
Perak akhir 2026 menjadi $65 per ons, dengan alasan defisit pasokan dan prospek pelonggaran kebijakan moneter yang lebih panjang.
Pada perdagangan pagi di Asia,
Emas spot juga menguat 0,5% ke $4.129,80 per ons, sementara platinum dan paladium juga bergerak naik di tengah melemahnya sentimen
Dolar.(asd)
Sumber:
newsmaker.id