
Harga
Minyak stabil setelah kenaikan mingguan, dengan Brent mendekati $68/barel dan WTI di atas $63. Sentimen risiko menguat menyusul sinyal The Fed yang membuka peluang pemangkasan
suku bunga bulan depan, yang berpotensi mendorong aktivitas ekonomi dan melemahkan
Dolar—kombinasi yang biasanya positif bagi komoditas energi.
Di sisi pasokan, AS mengancam melipatgandakan
Tarif impor dari India menjadi 50% sebagai respons atas pembelian
Minyak Rusia. Meski begitu, pejabat India menyebut kilang lokal tetap akan mengambil crude Rusia. Sementara itu,
Pasar tetap menimbang hambatan ekspor Rusia, upaya penyelesaian konflik Ukraina, serta hambatan dari perang dagang yang dipimpin AS. Kekhawatiran kelebihan pasokan masih ada karena OPEC+ mengaktifkan kembali sebagian kapasitas yang sempat dihentikan, membuat harga
Minyak global turun sekitar 9% sepanjang tahun ini.
Sejumlah analis menilai perhatian
Pasar masih terserap isu-isu jangka pendek, sementara risiko penurunan dari sisi fundamental belum sepenuhnya tercermin pada harga. Dampak positif dari pemangkasan
suku bunga The Fed juga diperkirakan butuh waktu untuk terlihat pada permintaan bahan bakar, sehingga pergerakan harga dalam jangka dekat berpotensi tetap terbatas.
Aktivitas perdagangan lebih tipis dari rata-rata di awal sesi Asia karena libur publik di Inggris, membuat pergerakan harga relatif tenang. Pada pukul 08:46 waktu Singapura, Brent kontrak Oktober naik 0,1% ke $67,79/barel, sedangkan WTI Oktober menguat 0,1% ke $63,75/barel.(ayu)
Susmber:
newsmaker.id