
Harga
Emas dunia masih bertahan dekat level tertingginya sepanjang sejarah, diperdagangkan di kisaran $3.773 per ounce saat
Pasar Asia dibuka pagi ini. Hanya terpaut kurang dari $20 dari rekor yang tercetak Selasa lalu. Dalam sepekan terakhir, harga
Emas naik 2% didorong lonjakan permintaan dari investor institusi lewat ETF, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk antara Rusia dan Eropa.
Fokus utama investor saat ini adalah potensi government shutdown di AS. Jika
Pemerintah AS gagal mencapai kesepakatan anggaran sebelum Selasa, maka rilis data tenaga kerja penting seperti Non-Farm Payrolls Jumat nanti bisa tertunda. Ini bisa membuat arah kebijakan
suku bunga The Fed jadi makin buram, karena NFP adalah salah satu acuan utama bank sentral.
Di tengah ketidakpastian itu,
Emas jadi incaran karena dianggap sebagai aset aman. Apalagi, jika data tenaga kerja yang akhirnya keluar nanti ternyata lemah, potensi pemangkasan
suku bunga The Fed akan makin besar. Ini bisa makin mendorong harga
Emas karena
suku bunga rendah bikin
Emas yang nggak punya imbal hasil jadi lebih menarik.
Bukan cuma
Emas, harga
Perak juga ikut naik tajam.
Perak sempat menembus $45 per ounce minggu lalu, level tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Lonjakan permintaan lewat ETF membuat pasokan fisik makin ketat, dan biaya pinjam
Perak (lease rate) melonjak hingga di atas 5%, jauh dari normalnya yang nyaris nol.(ads)
Sumber: Bloomberg