
Harga
Minyak bergerak stabil saat
Pasar menimbang prospek aliran
Minyak mentah Rusia ke India, di tengah meningkatnya kritik dari pemerintahan Trump jelang rencana kenaikan
Tarif. Brent bertahan di atas US$67/barel, berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak awal Juli. Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro kembali mengecam India karena tetap membeli
Minyak Rusia dan melihat bea impor AS bisa naik dua kali lipat per 27 Agustus. Presiden Donald Trump bahkan mengancam
Tarif impor India jadi 50%, separuhnya dikaitkan dengan pembelian
Minyak Rusia.
Meski tekanan politik meningkat, kilang-kilang India kembali membeli kargo Rusia setelah jeda singkat. Dari sisi pemasok, pejabat Moskow memperkirakan arus pasokan tetap terjaga. Ini menandakan rantai pasokan Rusia–India relatif tangguh terhadap risiko kebijakan jangka pendek.
Komentar terbaru Navarro mengingatkan bahwa risiko berita utama (headline risk) soal energi Rusia tetap tinggi, seiring upaya Trump mengakhiri perang di Ukraina. Namun, dalam beberapa pekan terakhir pergerakan harga cenderung datar karena likuiditas musim panas yang tipis. Saat pelaku
Pasar kembali aktif, fokus bergeser ke proyeksi kelebihan pasokan pada kuartal IV.
Menurut catatan Morgan Stanley,
Pasar Minyak menuju surplus yang besar namun sudah banyak diantisipasi. Artinya, harga berpeluang melemah, tetapi kecil kemungkinan terjadi aksi jual yang kacau karena ekspektasi tersebut sudah tertanam di
Pasar.(ayu)
Sumber:
newsmaker.id