
Harga
Perak bergerak turun ke area $46 per ons pada Senin (27/10), melanjutkan pelemahan dari pekan lalu. Tekanan jual muncul karena
Pasar global masuk mode “risk-on” setelah AS dan Tiongkok mencapai kerangka kesepakatan dagang awal. Negosiator dari Washington dan Beijing sepakat untuk menahan kenaikan
Tarif AS dan menunda kontrol ekspor mineral tanah jarang dari Tiongkok selama satu tahun, langkah yang dipandang bisa meredakan tensi dagang dua ekonomi terbesar dunia. Sentimen damai ini bikin kebutuhan aset lindung nilai seperti
Perak turun.
Secara fundamental, pelemahan
Perak saat ini lebih terlihat sebagai koreksi setelah reli agresif. Sebelumnya, harga sempat melonjak ke rekor baru karena kekhawatiran geopolitik, isu rantai pasok mineral penting, dan kekhawatiran resesi global. Sekarang,
Pasar melihat risiko langsung itu sedikit berkurang. Tapi turunnya
Perak belum berarti sentimen bullish selesai, karena posisi investor besar masih menilai
Perak sebagai aset proteksi jangka menengah terhadap ketidakpastian struktural — mulai dari konflik Rusia-Ukraina sampai ketergantungan industri teknologi pada bahan bawang putihnya industri, yaitu logam industri strategis.
Faktor berikutnya yang akan jadi penentu harga adalah The Fed. Pelaku
Pasar hampir yakin Federal Reserve akan memangkas
suku bunga lagi sekitar 25 bps minggu ini, dengan probabilitas yang diperkirakan mendekati pasti. Ekspektasi
suku bunga lebih rendah biasanya positif buat logam mulia seperti
Perak karena
Perak tidak memberikan bunga, sehingga “biaya peluang” menahan
Perak jadi lebih kecil. Artinya, sentimen jangka pendek: tekanan turun karena risk-on. Sentimen jangka menengah: masih ada dukungan dari arah moneter yang makin longgar. (Arl)
Sumber :
newsmaker.id