Bestprofit | Dolar Jatuh, Trump Desak Pemangkasan Bunga
Bestprofit (5/6) – Dolar Amerika Serikat jatuh secara menyeluruh pada hari Rabu (5 Juni 2025), tertekan oleh kombinasi data ekonomi yang melemah, tekanan politik terhadap kebijakan moneter, dan ketidakpastian global. Laporan tenaga kerja sektor swasta dan kontraksi di sektor jasa AS memberi sinyal bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi mulai menunjukkan titik lemah.
Laporan ADP Guncang Pasar: Pertumbuhan Tenaga Kerja Terhenti
Kelemahan dolar dimulai setelah laporan dari ADP (Automatic Data Processing) menunjukkan bahwa penggajian sektor swasta di AS hanya naik 37.000 pekerjaan pada bulan Mei, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000. Angka ini juga merupakan penurunan signifikan dari data bulan April yang direvisi turun menjadi 60.000.
Ketimpangan besar antara ekspektasi dan realisasi ini mencerminkan perlambatan tajam dalam penciptaan lapangan kerja, yang selama ini menjadi penopang utama narasi pemulihan ekonomi AS. Juan Perez, Direktur Perdagangan di Monex USA, menyebut hasil ini sebagai “kesenjangan besar” yang berpotensi menggoyahkan keyakinan pasar terhadap kekuatan ekonomi AS.
“Narasi bahwa pasar tenaga kerja masih kuat, dan bahwa orang Amerika menikmati banyak peluang kerja pascapandemi mulai runtuh,” ujarnya.
Bestprofit | Dolar Melemah, Risiko AS Meningkat
Sektor Jasa Berkontraksi: Tanda Bahaya Baru
Sebagai tambahan dari laporan ADP, data dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa sektor jasa AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun. Indeks Manajer Pembelian (PMI) non-manufaktur turun menjadi 49,9 pada bulan Mei — angka di bawah 50 menandakan kontraksi.
Laporan ini memperlihatkan bahwa perusahaan jasa mulai membayar lebih mahal untuk input, sementara permintaan terhadap layanan melambat. Dengan dua pertiga ekonomi AS bergantung pada sektor jasa, kontraksi ini menjadi pertanda serius bahwa ekonomi bisa memasuki periode pertumbuhan rendah dan inflasi tinggi secara bersamaan.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Reaksi Pasar: Dolar Melemah Terhadap Berbagai Mata Uang
Kombinasi dari data ekonomi yang lemah menyebabkan dolar AS jatuh terhadap hampir semua mata uang utama. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,3% menjadi 98,838—hanya sedikit di atas posisi terendah sejak akhir April.
Berikut adalah pergerakan beberapa pasangan mata uang utama:
-
USD/JPY: Dolar melemah 0,7% menjadi 142,89 yen Jepang.
-
EUR/USD: Euro menguat 0,4% ke $1,1414 menjelang keputusan suku bunga dari Bank Sentral Eropa (ECB).
-
GBP/USD: Poundsterling naik 0,2% ke $1,35515, sebagian didukung oleh pengecualian Inggris dari tarif impor logam AS.
Dolar Hong Kong juga mencapai level paling kuat terhadap dolar AS sejak Agustus 2023, diperdagangkan di 7,847—dekat batas bawah kisaran perdagangan resminya.
Tekanan Politik: Trump Desak Penurunan Suku Bunga
Dalam reaksi langsung terhadap data ekonomi yang mengecewakan, Presiden Donald Trump kembali mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk menurunkan suku bunga. Di platform media sosial pribadinya, Trump menegaskan bahwa “ekonomi membutuhkan dukungan lebih,” dan mengkritik pendekatan moneter The Fed yang dianggap terlalu hati-hati.
Meski begitu, analis memperingatkan bahwa data saat ini belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan dalam waktu dekat. Bill Adams, Kepala Ekonom di Comerica Bank, menyatakan bahwa “The Fed akan mencermati perlambatan ini, namun belum akan segera memangkas suku bunga.”
Ekspektasi Terhadap Data Non-Farm Payroll
Pasar kini menantikan rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payroll/NFP) pada hari Jumat, yang akan memberikan gambaran lebih lengkap tentang kondisi pasar tenaga kerja AS. Angka tersebut akan sangat berpengaruh terhadap ekspektasi suku bunga dan sentimen pasar terhadap arah ekonomi dalam jangka menengah.
Jika data NFP mengonfirmasi perlambatan yang terlihat dalam laporan ADP dan sektor jasa, tekanan pada Federal Reserve untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter akan meningkat.
Ketegangan Dagang dan Hubungan AS-Tiongkok Memanas
Di luar data ekonomi, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali membayangi pasar. Pemerintahan Trump telah menetapkan batas waktu hingga hari Rabu bagi negara-negara mitra dagang untuk menyampaikan penawaran terbaik mereka guna menghindari tarif tambahan. Pada hari yang sama, AS menggandakan tarif impor baja dan aluminium.
Gedung Putih juga mengindikasikan bahwa Presiden Trump akan menelepon Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam minggu ini. Hubungan antara kedua negara kembali memburuk setelah masing-masing pihak menuduh pihak lain melanggar perjanjian yang disepakati bulan lalu.
Trump bahkan menyebut Xi sebagai pemimpin yang “keras” dan “sulit diajak berunding”, pernyataan yang memperkuat ketidakpastian geopolitik dan menambah tekanan terhadap dolar.
Dampak Lebih Luas: Dolar AS dan Arah Ekonomi Global
Pelemahan dolar bukan hanya mencerminkan kondisi ekonomi domestik, tetapi juga memiliki implikasi global yang luas. Dolar yang lebih lemah biasanya meningkatkan harga komoditas seperti minyak dan emas, serta memberi dorongan terhadap mata uang pasar berkembang.
Namun, jika pelemahan ini didorong oleh kekhawatiran akan resesi atau stagflasi (pertumbuhan rendah dan inflasi tinggi), maka itu bisa berdampak negatif terhadap sentimen pasar global. Investor akan cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas atau franc Swiss, seperti yang sudah terlihat dalam beberapa hari terakhir.
Kesimpulan: Dolar di Titik Kritis
Penurunan dolar pada Rabu, 5 Juni 2025 menandai titik kritis bagi greenback dan arah kebijakan ekonomi AS. Dengan data tenaga kerja yang mengecewakan dan sektor jasa yang mulai melemah, pasar mulai mempertanyakan narasi pemulihan ekonomi AS yang sebelumnya kuat.
Tekanan politik dari Gedung Putih terhadap Federal Reserve, ditambah dengan ketegangan geopolitik yang memanas, membuat dolar menghadapi tantangan yang kompleks. Jika data lebih lanjut mengonfirmasi tren perlambatan, maka ekspektasi pemangkasan suku bunga akan meningkat—dan dolar bisa terperosok lebih dalam.
Sementara itu, pelaku pasar menunggu data kunci dan keputusan kebijakan dalam beberapa hari ke depan, yang akan menentukan apakah tren pelemahan dolar akan berlanjut atau justru memantul kembali.















