Bestprofit | Dolar Layu, Harapan Damai Tumbuh.
Bestprofit (20/4) – Pasar valuta asing global mengalami pergeseran drastis pada pekan ini. Dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan pelemahan selama tiga pekan berturut-turut, menghapus hampir seluruh keuntungan yang sempat diraihnya sejak pecahnya konflik dengan Iran. Fenomena ini dipicu oleh rentetan berita diplomatik yang mengejutkan, mulai dari komitmen nuklir Teheran hingga pembukaan kembali jalur perdagangan paling krusial di dunia, Selat Hormuz.
Sentimen pasar yang sebelumnya didominasi oleh ketakutan akan perang kini beralih menjadi optimisme akan perdamaian. Penurunan Greenback mencerminkan berkurangnya permintaan akan aset aman (safe haven) seiring dengan kembalinya minat investor terhadap aset berisiko.
Bestprofit | Dolar Stabil, Pasar Tunggu Sinyal Goolsbee
Diplomasi Trump dan Konsesi Iran: Katalis Utama De-eskalasi
Pemicu utama pelemahan dolar adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa Iran telah setuju untuk menangguhkan program nuklirnya tanpa batas waktu. Pernyataan ini, jika terverifikasi secara penuh, merupakan terobosan diplomatik terbesar dalam satu dekade terakhir. Bersamaan dengan itu, Teheran secara resmi mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial.
Langkah-langkah ini dipandang investor sebagai sinyal kuat bahwa kesepakatan damai komprehensif sedang dikerjakan di balik layar. Dengan Selat Hormuz yang kembali beroperasi, kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global mereda, yang secara otomatis menurunkan tensi risiko geopolitik yang selama ini menyokong kekuatan dolar.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Bloomberg Dollar Index di Titik Terendah: Tren Tiga Pekan
Bloomberg Dollar Spot Index sempat merosot hingga 0,6% pada sesi perdagangan Jumat, menyentuh level terendah sejak 27 Februari. Meskipun pada penutupan sesi indeks berhasil memangkas pelemahan menjadi kurang dari 0,1%, lintasan besarnya tetap menunjukkan tren turun yang signifikan.
Secara kumulatif, mata uang paling berpengaruh di dunia ini telah terkoreksi lebih dari 2% dalam tiga pekan terakhir. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar mulai “membuang” premi risiko perang yang sebelumnya melekat pada dolar. Investor kini lebih memilih beralih ke mata uang komoditas atau mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi di tengah meredanya ancaman inflasi energi.
Reaksi Pasar Obligasi dan Pergeseran Ekspektasi The Fed
Sentimen perdamaian tidak hanya mengguncang pasar mata uang, tetapi juga pasar utang pemerintah AS. Imbal hasil (yield) Treasury tenor 10 tahun turun 7 basis poin menjadi 4,24%. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi bahwa inflasi global akan lebih terkendali dengan pulihnya jalur pasokan energi.
Sisi yang paling menarik adalah perubahan arah kebijakan moneter. Pricing pada Overnight Index Swaps (OIS) menunjukkan bahwa pasar kini memperhitungkan potensi pelonggaran suku bunga Federal Reserve sebesar 15 basis poin untuk pertemuan Desember mendatang. Angka ini melonjak tajam dari perkiraan sebelumnya yang hanya sebesar 8 basis poin. Ekspektasi suku bunga yang lebih dovish ini menjadi beban tambahan bagi dolar, karena daya tarik bunga AS mulai menyusut dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Dinamika Mata Uang G-10: Yen Unggul, Dolar Australia Mencatat Rekor
Di tengah pelemahan dolar, kinerja mata uang negara-negara maju (G-10) bervariasi:
-
Yen Jepang & Franc Swiss: Kedua mata uang ini mengungguli dolar, menunjukkan bahwa meskipun risiko perang mereda, investor masih melakukan diversifikasi pada mata uang dengan fundamental domestik yang kuat. USD/JPY turun 0,4% ke level 158,57.
-
Dolar Australia (AUD): Sempat menyentuh level 0,7222 per dolar AS—titik tertinggi sejak Juni 2022. Sebagai mata uang komoditas, Aussie diuntungkan oleh prospek pertumbuhan ekonomi global yang lebih stabil pasca pembukaan Selat Hormuz.
-
Euro (EUR) & Pound Sterling (GBP): Keduanya cenderung melemah terhadap beberapa rivalnya. EUR/USD sempat naik ke 1,1849 di pagi hari New York sebelum berbalik turun ke 1,1769 di sore hari.
Dilema Eropa: Pengamanan Jalur Laut dan Gejolak Politik Inggris
Di benua biru, fokus beralih pada bagaimana mengamankan stabilitas jangka panjang di Selat Hormuz. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggelar pertemuan intensif untuk membahas misi pengamanan jalur pelayaran. Perbedaan sikap antarnegara Eropa mengenai skala keterlibatan militer dalam misi ini menjadi sorotan pelaku pasar.
Di Inggris, PM Starmer juga menghadapi tekanan domestik terkait penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS. Ketidakpastian politik ini membuat Pound Sterling bergerak terbatas. Pasangan EUR/GBP tetap stabil di angka 0,8706, mencerminkan kebuntuan antara tekanan ekonomi di zona euro dan gejolak politik di London.
Fokus Bank of Japan: Antara Inflasi dan Risiko Pertumbuhan
Sementara itu, Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memberikan pernyataan yang cukup berhati-hati. Meskipun yen menguat terhadap dolar, Ueda menekankan tantangan besar bagi kebijakan moneter Jepang. Ia menyoroti risiko inflasi yang masih membayangi serta potensi perlambatan ekonomi akibat dampak residu konflik Timur Tengah.
Pasar mencermati bahwa BOJ belum memberikan sinyal tegas mengenai arah suku bunga menjelang keputusan bulan ini. Ketidakpastian ini membuat yen sangat sensitif terhadap arus berita dari luar negeri, terutama terkait kelanjutan gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah yang dipandang sebagai kunci de-eskalasi lebih luas di kawasan tersebut.
Kesimpulan: Menuju Normalitas Baru di Pasar Valuta Asing
Penurunan dolar AS selama tiga pekan berturut-turut menandai berakhirnya fase “eksepsionalisme dolar” yang dipicu oleh konflik. Dengan kembalinya fungsi Selat Hormuz dan komitmen Iran terkait program nuklirnya, lanskap makroekonomi kini beralih fokus pada fundamental ekonomi domestik dan kebijakan bank sentral.
Investor kini memantau apakah de-eskalasi ini akan bersifat permanen atau hanya jeda sesaat. Jika stabilitas di Timur Tengah bertahan, pelemahan dolar mungkin akan terus berlanjut seiring dengan normalisasi suku bunga The Fed. Namun, seperti yang terlihat pada fluktuasi EUR/USD di akhir sesi, pasar tetap waspada dan siap bereaksi terhadap setiap perubahan retorika politik dari Washington maupun Teheran. Satu hal yang pasti: narasi “perang” telah digantikan oleh narasi “pemulihan,” dan pasar sedang menyesuaikan harga dengan realitas baru tersebut.















