Bestprofit | Dolar Tertekan, Risiko Politik Membayangi
Bestprofit (26/1) – Dolar Amerika Serikat menutup perdagangan Jumat (23/1) dengan performa yang mengecewakan, mencerminkan kegelisahan pasar terhadap kombinasi risiko politik dan sinyal ekonomi yang tidak sepenuhnya solid. Indeks dolar (DXY) bertahan di kisaran 97,80 — dekat level terendah dalam beberapa bulan terakhir — setelah sepanjang pekan terombang-ambing oleh isu geopolitik, drama kebijakan, dan data ekonomi yang memberi pesan campuran.
Meski sempat mendapat dukungan dari revisi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, dolar tetap kesulitan menguat. Investor tampak enggan kembali agresif sebelum ada kejelasan arah kebijakan dan stabilitas politik yang lebih meyakinkan.
Kunjungi juga : bestprofit futures
“Drama Greenland” dan Tarif Trump Mengusik Sentimen
Pekan ini, perhatian pasar global sempat tersedot pada apa yang disebut pelaku pasar sebagai “drama Greenland”. Ketegangan muncul ketika mantan Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan wacana tekanan geopolitik terkait Greenland, disertai ancaman tarif terhadap Eropa. Kombinasi isu geopolitik dan proteksionisme ini langsung memicu volatilitas, terutama di pasar mata uang.
Walau Trump kemudian mengumumkan adanya kerangka kerja dengan NATO untuk pembahasan Greenland, minimnya detail membuat investor belum sepenuhnya tenang. Pasar menilai risiko politik belum benar-benar mereda, sehingga pendekatan “wait and see” menjadi pilihan utama. Dalam kondisi seperti ini, dolar — yang biasanya diuntungkan saat ketidakpastian — justru kehilangan daya tarik karena risiko tersebut dianggap berasal dari AS sendiri.
Bestprofit | Dolar Loyo Tipis, Pasar Tunggu Data
Data Kuat Tak Cukup Mengangkat Dolar
Dari sisi fundamental, revisi Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III 2025 ke level 4,4% sebenarnya menjadi kabar positif. Angka ini menegaskan bahwa ekonomi AS masih tumbuh solid dan jauh dari resesi. Namun, dampaknya terhadap dolar terbukti terbatas.
Salah satu alasannya adalah inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) yang masih tergolong panas. Data ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve belum akan mengubah sikap secara agresif dalam waktu dekat. Alih-alih memicu ekspektasi pengetatan lanjutan, pasar justru melihat The Fed cenderung berhati-hati agar tidak mengganggu keseimbangan pertumbuhan.
Bayang-bayang “Sell America” Masih Terasa
Awal pekan sempat diwarnai munculnya sentimen “Sell America”, di mana investor global mengurangi eksposur terhadap aset AS — mulai dari saham, obligasi, hingga dolar. Meski sentimen ini tidak berkembang menjadi arus besar, dampaknya masih terasa hingga akhir pekan.
Dalam konteks ini, dolar kehilangan statusnya sebagai satu-satunya tempat berlindung. Investor mulai melakukan diversifikasi ke mata uang lain dan aset alternatif, terutama di tengah kekhawatiran bahwa risiko kebijakan justru bersumber dari Washington.
PMI AS Tambah Tekanan Jangka Pendek
Tekanan terhadap DXY juga datang dari rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) AS yang sedikit lebih rendah dari perkiraan. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih tumbuh, namun dengan momentum yang tidak cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan dolar secara cepat.
Pesan dari PMI ini cukup jelas: ekonomi AS masih berjalan, tetapi kehilangan unsur kejutan positif yang biasanya dibutuhkan untuk mendorong penguatan dolar signifikan. Akibatnya, fokus pasar bergeser dari sekadar isu suku bunga menuju kombinasi antara data ekonomi dan risiko kebijakan.
EUR/USD Stabil, Tapi Tantangan Masih Banyak
Di pasar Eropa, EUR/USD bertahan relatif stabil di kisaran 1,174. Data PMI zona euro memberikan sinyal campuran: sektor manufaktur menunjukkan perbaikan meski masih berada di wilayah kontraksi, sementara sektor jasa justru melandai.
Stabilitas euro lebih mencerminkan lemahnya dolar ketimbang kekuatan fundamental kawasan. Pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada data penting seperti PDB Jerman dan inflasi zona euro. Hasil data ini berpotensi menentukan apakah euro mampu mempertahankan momentumnya atau kembali tertekan.
Poundsterling Unggul Berkat Data Domestik
Berbeda dengan euro, poundsterling tampil lebih meyakinkan. GBP/USD menguat ke area 1,360 — level tertinggi sejak September 2025. Penguatan ini ditopang oleh data ekonomi Inggris yang relatif solid, termasuk perbaikan penjualan ritel dan PMI.
Kinerja data tersebut membuat pound terlihat lebih “berisi” dibanding dolar pekan ini. Investor menilai ekonomi Inggris menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan, sehingga sterling menjadi alternatif menarik di tengah pelemahan greenback.
Yen Jepang Masih Goyah di Tengah Ketidakpastian
Di Asia, pergerakan USD/JPY masih fluktuatif di sekitar level 158. Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menahan suku bunga di 0,75%, sesuai ekspektasi pasar. Namun, ketidakjelasan mengenai langkah kebijakan selanjutnya membuat yen tetap rentan.
Selain faktor moneter, isu fiskal Jepang dan potensi intervensi pemerintah masih menjadi “bayangan” yang membatasi pergerakan yen. Setiap pelemahan yang terlalu cepat berpotensi memicu kekhawatiran intervensi, sehingga pasar bergerak dengan sangat hati-hati.
Dolar Australia Bersinar Bersama Risk Sentiment
Salah satu mata uang yang mencuri perhatian adalah dolar Australia. AUD/USD mendekati level 0,688, tertinggi sejak periode 2024/2025. Penguatan ini didukung oleh data domestik Australia yang kuat serta membaiknya sentimen risiko global.
Selain itu, lonjakan harga logam mulia turut memberi dukungan tambahan, mengingat Australia merupakan eksportir komoditas utama. Kombinasi fundamental domestik dan faktor eksternal membuat AUD menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik pekan ini.
Fokus Pasar Bergeser: Bukan Sekadar Suku Bunga
Keseluruhan pergerakan pekan ini menunjukkan perubahan fokus pelaku pasar. Jika sebelumnya perhatian utama tertuju pada arah suku bunga The Fed, kini pasar mulai menimbang risiko kebijakan, geopolitik, dan stabilitas politik secara lebih menyeluruh.
Dolar AS, meski masih menjadi mata uang dominan dunia, kini menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Tanpa kejelasan arah kebijakan dan dengan data ekonomi yang hanya “cukup baik”, ruang penguatan dolar tampak terbatas dalam jangka pendek.
Penutup: Pekan Sulit bagi Greenback
Penutupan pekan di area 97,80 menegaskan bahwa dolar AS masih berada dalam fase defensif. Selama ketidakpastian politik dan kebijakan belum mereda, serta data ekonomi belum memberikan kejutan positif yang kuat, greenback kemungkinan akan tetap bergerak hati-hati.
Bagi pasar global, kondisi ini menandai era di mana kekuatan dolar tidak lagi bisa dianggap mutlak. Investor kini semakin selektif, mengandalkan kombinasi data, sentimen, dan manajemen risiko dalam menghadapi lanskap ekonomi global yang semakin rumit.















