BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Melemah, Hawkish Fed Kalahkan Sentimen Iran

Bestprofit (22/6) – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (20/6), memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia tersebut.

Pada perdagangan pagi waktu GMT, harga emas spot tercatat turun 0,6% menjadi US$4.184,33 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami penurunan lebih dalam sebesar 1% ke level US$4.202,10 per ons.

Penurunan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih didominasi oleh ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, yang cenderung mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi.

Bestprofit | Deal AS–Iran Angkat Harga Emas

Penguatan Dolar AS Menjadi Beban Utama

Salah satu faktor paling signifikan yang menekan harga emas adalah penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut bergerak mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.

Dalam perdagangan global, emas dihargakan dalam dolar AS. Ketika nilai dolar menguat, investor dari negara lain harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli jumlah emas yang sama. Akibatnya, permintaan cenderung melemah dan harga emas tertekan.

Kondisi ini semakin diperparah oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kombinasi antara dolar yang kuat dan kebijakan moneter ketat menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Sinyal Hawkish The Fed Mengubah Sentimen Pasar

Fokus utama investor saat ini tertuju pada kebijakan Federal Reserve. Dalam pertemuan terbaru, bank sentral AS memang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, yang menjadi perhatian pasar adalah proyeksi para pembuat kebijakan yang menunjukkan kecenderungan lebih agresif terhadap pengendalian inflasi.

Dari total 19 pejabat Federal Reserve yang terlibat dalam proyeksi kebijakan, sembilan di antaranya memperkirakan masih diperlukan kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. Pandangan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman akan tetap berada pada level tinggi.

Pertemuan tersebut juga menjadi rapat pertama yang dipimpin oleh Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh. Pasar menilai kepemimpinannya menunjukkan pendekatan yang lebih tegas terhadap risiko inflasi dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

Nada hawkish atau agresif terhadap inflasi tersebut segera memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar emas.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Semakin Besar

Setelah keputusan Federal Reserve diumumkan, pelaku pasar langsung menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap arah kebijakan moneter selanjutnya.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember melonjak menjadi 87%. Sebelum pengumuman The Fed, peluang tersebut hanya berada di sekitar 61%.

Lonjakan ekspektasi ini menjadi kabar kurang baik bagi emas. Berbeda dengan obligasi atau instrumen berbunga lainnya, emas tidak memberikan imbal hasil atau pendapatan tetap kepada pemegangnya. Ketika suku bunga meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan return lebih tinggi.

Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset investasi menjadi berkurang, terutama di tengah kondisi pasar yang menawarkan alternatif investasi dengan hasil yang lebih kompetitif.

Efek Positif Perdamaian AS-Iran Tidak Bertahan Lama

Sebelumnya, harga emas sempat mendapatkan dukungan dari ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Namun, sentimen tersebut mulai memudar setelah tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara.

Kesepakatan tersebut membantu menurunkan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global. Salah satu indikator pentingnya adalah kembalinya aktivitas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi distribusi minyak dunia.

Selain itu, keputusan Amerika Serikat untuk mencabut blokade terhadap Iran turut memperbaiki prospek pasokan energi internasional. Kondisi ini membantu menekan risiko lonjakan harga energi yang sebelumnya dikhawatirkan dapat memicu inflasi lebih tinggi.

Meski demikian, efek positif tersebut tidak cukup kuat untuk mengangkat harga emas secara berkelanjutan. Investor tetap lebih fokus pada arah kebijakan moneter Federal Reserve dan penguatan dolar AS yang memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar logam mulia.

Goldman Sachs Masih Optimistis terhadap Prospek Emas

Di tengah pelemahan yang terjadi saat ini, sejumlah lembaga keuangan besar masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Goldman Sachs, misalnya, tetap memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.900 per ons pada Desember mendatang. Namun, target tersebut sebenarnya sudah direvisi turun dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level US$5.400 per ons.

Penurunan target tersebut mencerminkan perubahan pandangan bank investasi tersebut terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Goldman Sachs kini tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun ini.

Meskipun demikian, mereka masih melihat adanya sejumlah faktor pendukung yang berpotensi menjaga tren kenaikan emas dalam jangka panjang, termasuk permintaan bank sentral global, ketidakpastian ekonomi, serta kebutuhan diversifikasi aset oleh investor institusional.

Logam Mulia Lain Juga Mengalami Tekanan

Pelemahan tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami penurunan harga seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya ekspektasi suku bunga.

Harga perak tercatat turun 1,5% menjadi US$64,83 per ons. Platinum melemah 1,3% ke level US$1.674,47 per ons, sementara palladium turun 0,8% menjadi US$1.268,65 per ons.

Penurunan serentak ini menunjukkan bahwa tekanan yang berasal dari faktor makroekonomi global berdampak luas terhadap seluruh sektor logam mulia.

Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang sensitif terhadap suku bunga ketika prospek kebijakan moneter menjadi lebih ketat.

Faktor yang Akan Menentukan Arah Emas Selanjutnya

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati beberapa indikator penting yang berpotensi menentukan arah harga emas.

Pertama adalah pergerakan dolar AS. Jika mata uang tersebut terus menguat, tekanan terhadap emas kemungkinan masih akan berlanjut. Kedua, investor akan memperhatikan perkembangan yield obligasi Treasury AS yang menjadi tolok ukur biaya modal global.

Ketiga, setiap perubahan ekspektasi terkait kebijakan Federal Reserve akan langsung memengaruhi sentimen pasar emas. Data inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kondisi pasar tenaga kerja AS akan menjadi indikator utama yang dipantau investor.

Selain itu, perkembangan geopolitik dan kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz juga tetap menjadi faktor penting. Gangguan pasokan energi atau meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi kembali meningkatkan minat terhadap aset safe haven seperti emas.

Untuk saat ini, kombinasi penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi masih menjadi tantangan terbesar bagi harga emas. Namun, prospek jangka panjang logam mulia tersebut tetap menarik bagi investor yang mencari perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi global.