BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Rekor, Dolar AS Tertekan

Bestprofit (23/1) – Harga emas kembali mencuri perhatian pasar global setelah mencetak level tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat pasca rilis data ekonomi terbaru Negeri Paman Sam. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang masih solid, belanja konsumen yang tetap kuat, serta spekulasi arah kebijakan suku bunga membuat investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai utama.

Pada perdagangan awal, emas batangan sempat menembus US$4.955 per ons, menandai reli tajam yang membawa logam mulia ini ke jalur kenaikan mingguan hampir 8%. Kenaikan signifikan tersebut mempertegas peran emas sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah ketidakpastian arah ekonomi dan kebijakan moneter global.

Meredanya Krisis Greenland Meredakan Pembelian Aset Aman

Reli Tajam Emas Didorong Sentimen Global

Kenaikan harga emas kali ini bukan sekadar lonjakan sesaat. Reli yang terjadi menunjukkan adanya perubahan sentimen pasar yang cukup kuat. Investor global terlihat semakin berhati-hati terhadap prospek ekonomi AS, khususnya terkait arah suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Ketika ketidakpastian meningkat, emas kerap menjadi tujuan utama aliran dana karena dianggap sebagai aset aman (safe haven). Lonjakan hampir 8% dalam sepekan menandakan permintaan yang kuat, baik dari investor institusional maupun ritel, yang mencari perlindungan dari potensi gejolak pasar keuangan.

Selain itu, faktor geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global turut memperkuat daya tarik emas, meskipun fokus utama pasar saat ini tetap tertuju pada data ekonomi AS.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Data Ekonomi AS: Tumbuh, Tapi Tidak Cukup Kuat

Pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, data tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah pandangan pasar secara signifikan terkait kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, permohonan tunjangan pengangguran di AS tercatat meningkat, meskipun kenaikannya lebih kecil dari yang diperkirakan. Kondisi ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Kombinasi data tersebut menciptakan sinyal yang ambigu: ekonomi AS belum melemah drastis, namun juga tidak cukup panas untuk mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu dekat.

Fokus Pasar Kembali ke Arah Suku Bunga The Fed

Dengan data ekonomi yang cenderung beragam, perhatian investor kini kembali tertuju pada arah kebijakan suku bunga The Fed. Pasar menilai bahwa bank sentral AS kemungkinan akan bersikap lebih hati-hati dalam menentukan langkah berikutnya.

Ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan lebih lama atau bahkan berpotensi turun di masa depan menjadi faktor pendukung bagi harga emas. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga biasanya lebih menarik ketika suku bunga rendah atau dolar melemah.

Ketidakpastian waktu dan besaran penyesuaian suku bunga membuat investor memilih bersikap defensif, dan emas menjadi salah satu pilihan utama dalam strategi tersebut.

Pelemahan Dolar AS Perkuat Daya Tarik Emas

Tekanan terhadap dolar AS terlihat jelas dari Indeks Spot Dolar Bloomberg yang ditutup melemah 0,3% pada sesi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini menjadi katalis penting bagi kenaikan harga emas.

Secara historis, terdapat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga emas. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung meningkat.

Kondisi ini membuat emas semakin kompetitif di pasar internasional, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar keuangan.

Pergerakan Harga di Pasar Asia

Di kawasan Asia, tren penguatan emas juga terlihat jelas. Pada pukul 07.10 waktu Singapura, harga emas tercatat naik 0,4% menjadi US$4.955,14 per ons. Kenaikan ini mencerminkan respons positif pasar Asia terhadap pelemahan dolar dan reli yang terjadi di pasar global.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Perak naik 0,6% ke level US$96,80 per ons, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, platinum dan paladium turut mencatatkan kenaikan, menunjukkan sentimen positif yang meluas di sektor logam mulia.

Perak, Platinum, dan Paladium Ikut Bersinar

Kenaikan harga perak yang menembus rekor tertinggi menandakan bahwa minat investor tidak hanya terfokus pada emas. Perak, yang memiliki karakteristik sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan industri, ikut diuntungkan oleh optimisme pasar.

Platinum dan paladium juga bergerak naik seiring membaiknya sentimen terhadap permintaan industri dan harapan stabilitas ekonomi global. Meski tidak sepopuler emas sebagai safe haven, kedua logam ini tetap menjadi bagian penting dalam portofolio diversifikasi investor.

Prospek Emas ke Depan: Masih Berpotensi Menguat

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sinyal kebijakan The Fed. Selama dolar AS berada di bawah tekanan dan ketidakpastian suku bunga masih tinggi, emas berpeluang mempertahankan tren positifnya.

Namun demikian, volatilitas tetap perlu diwaspadai. Perubahan mendadak dalam ekspektasi pasar, terutama terkait inflasi dan kebijakan moneter, dapat memicu koreksi harga dalam jangka pendek.

Bagi investor, kondisi ini menegaskan pentingnya strategi yang terukur dan diversifikasi portofolio, dengan emas tetap menjadi salah satu instrumen kunci dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah.