Bestprofit | Harga Minyak Koreksi Jelang Dialog AS–Iran
Bestprofit (5/2) – Harga minyak dunia melemah untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir setelah Iran mengonfirmasi rencana perundingan dengan Amerika Serikat yang akan digelar pada Jumat di Oman. Kepastian jadwal dan lokasi negosiasi ini sedikit meredakan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik militer di Timur Tengah, khususnya risiko serangan terhadap Iran yang merupakan salah satu produsen minyak utama Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Sentimen geopolitik selama beberapa pekan terakhir telah menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak, seiring meningkatnya premi risiko akibat ketegangan regional. Namun, munculnya peluang dialog diplomatik membuat sebagian pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan setelah reli singkat yang terjadi sebelumnya.
Minyak Menguat Lagi: Tensi AS–Iran Memanas, Stok AS Anjlok Tajam
WTI dan Brent Melemah Setelah Reli Dua Hari
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah menuju level $64 per barel, setelah mencatatkan kenaikan gabungan sekitar 4,8% dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut sebelumnya didorong oleh kekhawatiran potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati $69 per barel pada perdagangan Rabu. Meski mengalami koreksi, harga Brent masih bertahan di kisaran yang relatif tinggi dibandingkan posisi beberapa pekan lalu, mencerminkan bahwa pasar belum sepenuhnya menghilangkan risiko geopolitik dari perhitungan harga.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Konfirmasi Iran Redakan Kekhawatiran Serangan Militer
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan melalui unggahan di media sosial bahwa pertemuan dengan Amerika Serikat akan berlangsung di Oman. Pernyataan ini mengakhiri spekulasi terkait lokasi dan kepastian pembicaraan, yang sebelumnya sempat simpang-siur dan menambah ketidakpastian di pasar.
Konfirmasi ini dipandang sebagai sinyal positif oleh pelaku pasar karena membuka ruang diplomasi di tengah meningkatnya retorika keras antara kedua negara. Selama beberapa waktu terakhir, pasar minyak memperhitungkan kemungkinan serangan militer atau sanksi tambahan terhadap Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan global dan mendorong harga lebih tinggi.
Perbedaan Posisi Masih Membayangi Negosiasi
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan cepat masih dinilai terbatas. Perbedaan pandangan mengenai parameter negosiasi dan agenda utama pembicaraan membuat proses diplomatik diperkirakan akan berjalan alot. Kondisi ini menjaga tingkat kehati-hatian di pasar, terutama karena kawasan Timur Tengah menyuplai sekitar sepertiga dari total produksi minyak mentah dunia.
Ketegangan yang belum sepenuhnya mereda membuat premi risiko tetap “menempel” pada harga minyak. Artinya, meskipun ada koreksi jangka pendek, pasar masih memasukkan potensi gangguan pasokan sebagai faktor pendukung harga.
Risk Premium Tetap Menjadi Faktor Kunci
Premi risiko geopolitik telah menjadi komponen penting dalam pembentukan harga minyak sepanjang tahun ini. Setiap sinyal eskalasi konflik atau gangguan pasokan langsung memicu lonjakan harga, sementara kabar diplomasi cenderung menekan harga dalam jangka pendek.
Namun, karena ketidakpastian belum sepenuhnya hilang, pelaku pasar enggan melepas premi risiko tersebut sepenuhnya. Hal ini terlihat dari terbatasnya penurunan harga minyak meskipun ada kabar positif terkait perundingan Iran dan AS.
Minyak Mulai Rebound Setelah Tekanan di 2025
Secara historis, pergerakan harga minyak tahun ini menunjukkan pola rebound setelah mengalami tekanan signifikan pada paruh kedua 2025. Saat itu, pasar dibayangi oleh indikasi surplus pasokan global yang semakin besar, seiring meningkatnya produksi dari negara-negara non-OPEC dan melemahnya pertumbuhan permintaan global.
Kekhawatiran kelebihan pasokan tersebut sempat menekan harga minyak ke level yang lebih rendah. Namun, kombinasi pemangkasan produksi oleh OPEC+, gangguan pasokan regional, serta meningkatnya ketegangan geopolitik kembali mengangkat harga dalam beberapa bulan terakhir.
Fokus Pasar Beralih ke Konflik Ukraina–Rusia
Selain Timur Tengah, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada perkembangan konflik Ukraina dan Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan bahwa proses pembicaraan damai dapat terdampak oleh serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Serangan terhadap fasilitas energi tidak hanya berdampak pada pasokan domestik Ukraina, tetapi juga menambah ketidakpastian terhadap stabilitas energi regional. Dalam konteks pasar minyak global, setiap eskalasi konflik di Eropa Timur berpotensi memengaruhi arus pasokan dan harga energi secara keseluruhan.
Permintaan Dukungan AS Tambah Dimensi Politik
Zelenskiy juga meminta Presiden AS Donald Trump untuk memberikan tambahan persenjataan guna menekan Moskow agar mengakhiri perang. Permintaan ini menambah dimensi politik dalam konflik yang sudah kompleks, sekaligus meningkatkan ketidakpastian pasar terkait arah kebijakan luar negeri AS.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Ukraina–Rusia memiliki implikasi luas, termasuk terhadap kebijakan sanksi energi dan stabilitas pasokan global. Faktor-faktor ini terus dipantau oleh pelaku pasar minyak sebagai bagian dari risiko geopolitik yang lebih luas.
Data Stok AS Beri Sinyal Beragam
Dari sisi fundamental, laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun ke level terendah dalam satu bulan terakhir. Penurunan ini pada dasarnya memberikan dukungan bagi harga minyak, karena mencerminkan berkurangnya pasokan di pasar domestik AS.
Namun, besarnya penurunan stok tersebut tercatat lebih kecil dibandingkan ekspektasi awal pasar. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan penurunan yang lebih signifikan, sehingga data ini justru memicu reaksi yang relatif terbatas terhadap harga.
Keseimbangan Antara Fundamental dan Geopolitik
Kondisi pasar minyak saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor fundamental dan geopolitik. Di satu sisi, data persediaan dan prospek permintaan global memberikan sinyal yang bercampur. Di sisi lain, risiko geopolitik terus menjadi katalis utama yang menggerakkan harga dalam jangka pendek.
Selama ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur belum menemukan resolusi yang jelas, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi. Setiap perkembangan diplomatik atau eskalasi konflik berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam.
Penutup: Pasar Menunggu Kejelasan Arah Selanjutnya
Dengan adanya rencana perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, pasar minyak untuk sementara mendapatkan sentimen penenang. Namun, ketidakpastian hasil negosiasi, ditambah dengan konflik Ukraina–Rusia yang belum mereda, membuat pelaku pasar tetap waspada.















