BPF Malang

Image

Bestprofit | Iran Jadi Penentu Arah Pasar

Bestprofit (3/2) – Harga minyak mentah global mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami kejatuhan terdalam dalam enam bulan pada perdagangan sebelumnya. Pasar kini berusaha mencerna dua faktor besar yang saling tarik-menarik: meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah dan masih kuatnya tekanan aksi jual di pasar komoditas secara luas.

Pada sesi Asia, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar $62 per barel, sementara Brent diperdagangkan stabil di atas $66 per barel. Pergerakan yang relatif tenang ini mencerminkan upaya pasar mencari titik keseimbangan baru setelah volatilitas tinggi yang dipicu oleh perubahan sentimen geopolitik dan rotasi portofolio investor.

Stabilisasi ini datang setelah penurunan tajam yang mengguncang pasar energi, sekaligus menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar mulai bersikap lebih berhati-hati, menunggu kejelasan arah selanjutnya.

Pasca Rally 16%, Oil Kena “Reality Check” di Awal Pekan

Risiko Geopolitik Mereda, Premi Harga Mulai Luntur

Salah satu pemicu utama membaiknya sentimen adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa jalur komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran tetap terbuka. Trump bahkan mengindikasikan bahwa pembicaraan terkait kesepakatan nuklir baru bisa bergerak dalam hitungan hari, sejalan dengan sinyal dari Teheran yang menyatakan kesiapan untuk “terlibat” dalam dialog.

Komentar ini menjadi angin segar bagi pasar yang sebelumnya dihantui oleh risiko eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan AS–Iran sempat memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran gangguan pasokan, khususnya di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.

Namun, ketika peluang diplomasi kembali menguat, pasar dengan cepat mulai “membuang” premi risiko geopolitik yang sempat menempel pada harga minyak. Akibatnya, tekanan jual meningkat tajam, terutama dari pelaku pasar jangka pendek yang sebelumnya masuk di level tinggi untuk memanfaatkan momentum ketegangan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kejatuhan Senin Jadi yang Terdalam dalam Enam Bulan

Perlu dicatat bahwa penurunan harga minyak pada Senin bukanlah koreksi kecil. Brent dan WTI sama-sama anjlok lebih dari 4%, mencatat penurunan harian terdalam dalam enam bulan terakhir. Brent ditutup di $66,30 per barel, sementara WTI berakhir di $62,14 per barel.

Skala penurunan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap perubahan headline geopolitik. Ketika risiko konflik meningkat, harga bisa naik cepat. Namun saat sinyal deeskalasi muncul, pasar tak ragu untuk melakukan aksi jual besar-besaran.

Bagi sebagian analis, pergerakan ini mencerminkan pasar minyak yang saat ini lebih digerakkan oleh sentimen dan aliran dana dibandingkan perubahan fundamental pasokan dan permintaan jangka pendek.

Gelombang Jual Komoditas Masih Membayangi

Tekanan pada harga minyak tidak berdiri sendiri. Pasar energi ikut terseret oleh gelombang aksi jual di pasar komoditas yang lebih luas. Logam mulia, khususnya emas dan perak, sempat “berdarah” setelah mengalami kejatuhan tajam sejak Jumat, memicu pergeseran sentimen investor ke mode risk-off.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih cepat mengambil keuntungan dan lebih selektif dalam membuka posisi baru. Energi, yang sebelumnya menjadi salah satu sektor favorit, ikut terkena dampaknya ketika dana keluar dari aset-aset berisiko.

Korelasi antar-komoditas juga semakin terlihat jelas. Ketika satu segmen mengalami tekanan besar, segmen lain sering kali ikut terdampak, meski faktor fundamentalnya berbeda. Hal ini membuat pergerakan harga minyak semakin rentan terhadap dinamika pasar global secara keseluruhan.

Pasar Mencari Arah di Tengah Ketidakpastian

Dengan meredanya ketegangan geopolitik, pasar kini kehilangan salah satu katalis utama yang mendorong reli harga minyak dalam beberapa waktu terakhir. Namun di sisi lain, belum ada faktor baru yang cukup kuat untuk mendorong harga kembali naik signifikan.

Permintaan global masih dibayangi oleh perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar, sementara pasokan relatif stabil. Kondisi ini membuat pasar berada dalam fase “menunggu dan melihat”, di mana setiap headline baru—baik dari sisi geopolitik, kebijakan, maupun data ekonomi—berpotensi memicu pergerakan tajam.

Stabilisasi harga di sesi Asia mencerminkan keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual, meski volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek.

Isu Aliran Minyak Rusia–India Jadi Perhatian Baru

Di luar isu Timur Tengah, pasar juga mulai menimbang potensi perubahan arus minyak global setelah Trump menyebut rencana penurunan tarif impor AS ke India menjadi 18%. Langkah ini dikaitkan dengan komitmen India untuk memangkas pembelian minyak dari Rusia.

Jika realisasi pengurangan impor minyak Rusia oleh India benar-benar terjadi, peta pasokan dan perdagangan minyak global bisa mengalami pergeseran. Rusia selama ini menjadi salah satu pemasok utama India dengan harga diskon, terutama sejak sanksi Barat diberlakukan.

Namun, sejauh ini pasar masih bersikap hati-hati dalam merespons wacana tersebut. Banyak pelaku menilai bahwa perubahan aliran pasokan semacam ini membutuhkan waktu dan tidak serta-merta berdampak besar dalam jangka pendek.

Fokus Pasar Masih di Headline Geopolitik

Meski isu perdagangan dan arus pasokan mulai diperhitungkan, fokus utama pasar minyak saat ini tetap tertuju pada perkembangan geopolitik dan sentimen komoditas global. Setiap pernyataan baru dari Washington atau Teheran berpotensi memicu pergerakan harga yang cepat dan signifikan.

Investor juga terus memantau apakah pembicaraan AS–Iran benar-benar akan berujung pada kesepakatan konkret atau hanya menjadi manuver diplomatik sementara. Ketidakpastian ini membuat pasar enggan mengambil posisi besar, sehingga volume perdagangan cenderung fluktuatif.

Prospek Jangka Pendek: Stabil Tapi Rapuh

Dalam jangka pendek, harga minyak berpeluang bergerak stabil dengan kecenderungan sideways, selama tidak ada eskalasi baru di Timur Tengah atau kejutan besar dari sisi pasokan. Namun, stabilitas ini bersifat rapuh dan sangat bergantung pada sentimen.

Jika gelombang aksi jual komoditas berlanjut, minyak berisiko kembali tertekan. Sebaliknya, jika muncul kembali ketegangan geopolitik atau gangguan pasokan yang nyata, pasar bisa dengan cepat mengembalikan premi risiko ke dalam harga.

Volatilitas Masih Jadi Tema Utama

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan pasar yang berada di persimpangan. Di satu sisi, risiko geopolitik mereda dan menekan harga. Di sisi lain, ketidakpastian global dan dinamika aliran pasokan membuat volatilitas tetap tinggi.

Bagi pelaku pasar, fase ini menuntut kehati-hatian ekstra. Harga mungkin terlihat stabil di permukaan, tetapi di baliknya, pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. Dalam kondisi seperti ini, headline bisa lebih menentukan arah harga dibandingkan fundamental jangka panjang.