Bestprofit | Minyak Bangkit Tipis Pasca-Anjlok 7%
Bestprofit (26/5) – Pasar energi kembali diguncang oleh volatilitas tinggi setelah sempat mengalami salah satu aksi jual paling tajam tahun ini. Harga minyak mentah dunia bergerak naik tipis, memulihkan sebagian kecil kerugian besar setelah pada sesi perdagangan sehari sebelumnya jatuh lebih dari 7%.
Kembalinya tren penguatan ini dipicu oleh laporan serangan militer baru di kawasan Iran, yang seketika menghidupkan kembali ketidakpastian atas prospek kesepakatan sementara antara Teheran dan Washington. Padahal, kesepakatan tersebut sangat dinantikan pasar guna membuka kembali akses Selat Hormuz yang saat ini masih terblokade.
Trump Tak Mau Terburu-buru, Minyak Tetap Turun
Pergerakan Harga Brent dan WTI Pasca-Koreksi Tajam
Pada perdagangan terbaru di bursa Asia, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juli terpantau naik 1,6% ke level US$97,71 per barel pada pukul 08.13 waktu Singapura. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli berada di kisaran US$91,39 per barel.
Sebagai catatan, tidak ada penyelesaian harga resmi pada hari Senin karena adanya hari libur nasional di Amerika Serikat. Oleh karena itu, pergerakan harga yang terjadi saat ini murni merefleksikan penyesuaian risiko oleh para pelaku pasar serta respons spontan terhadap perkembangan headline geopolitik yang terus berubah dari jam ke jam. Kenaikan ini menegaskan bahwa pasar menilai risiko gangguan pasokan masih sangat tinggi, menepis narasi pelonggaran yang sempat mendominasi sehari sebelumnya.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Kronologi Serangan Militer Baru di Jalur Strategis
Kembalinya premi risiko ke pasar minyak dipicu oleh laporan dari New York Times yang mengutip pernyataan resmi dari Komando Pusat AS (Centcom). Pasukan militer AS dilaporkan meluncurkan serangan udara ke lokasi yang diidentifikasi sebagai tempat peluncuran rudal, serta menghancurkan sejumlah kapal yang diduga kuat sedang mencoba memasang ranjau laut di jalur pelayaran.
Kebenaran adanya gesekan bersenjata ini diperkuat oleh laporan dari media semi-resmi Iran, Fars News Agency. Media tersebut melaporkan bahwa serangkaian ledakan keras terdengar jelas di sekitar selat dekat kota pesisir Sirik dan Jask. Insiden bersenjata di wilayah sensitif ini membuktikan bahwa situasi di lapangan jauh lebih berbahaya daripada retorika damai yang disampaikan di meja diplomasi.
Efek “Guncangan” Pernyataan Donald Trump
Sebelum insiden serangan terbaru ini terjadi, pasar minyak sempat mengalami tekanan jual yang luar biasa ekstrem hingga anjlok lebih dari 7%. Sentimen negatif tersebut berakar dari cuitan Presiden AS Donald Trump di awal pekan. Trump menulis bahwa pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan pihak Iran “berjalan dengan baik.”
Namun, gaya diplomasi Trump yang unik tetap menyertakan ancaman keras: AS akan meluncurkan serangan lanjutan yang merusak jika negosiasi tersebut berujung pada kegagalan.
Di saat yang sama, beredar rumor di kalangan diplomat bahwa kesepakatan sementara sudah sangat dekat. Kombinasi informasi ini membuat pelaku pasar berbondong-bondong memangkas premi risiko mereka pada sesi sebelumnya, dengan asumsi pasokan jutaan barel minyak akan segera membanjiri pasar dalam waktu dekat. Nyatanya, asumsi tersebut terbukti terlalu dini.
Realita Blokade Selat Hormuz dan Kinerja Bulan Mei
Meskipun sempat mengalami reli yang sangat kuat pada bulan Maret dan April akibat eskalasi awal konflik, harga minyak mentah secara keseluruhan sebenarnya masih mengarah pada catatan penurunan sepanjang bulan Mei. Tren penurunan bulanan ini terjadi karena pasar lebih didominasi oleh harapan akan gencatan senjata—meski rapuh—serta dorongan untuk membuka kembali Hormuz, mengalahkan sentimen dari data internal minyak seperti menipisnya persediaan (stockpile) global.
Penting untuk Diingat: Selat Hormuz adalah jalur urat nadi logistik energi global yang paling strategis. Dalam kondisi normal, jalur sempit ini mengalirkan sekitar seperlima (20%) dari total perdagangan minyak mentah dan Gas Alam Cair (LNG) dunia.
Namun pada praktiknya saat ini, jalur tersebut masih lumpuh total dan berada di bawah blokade ketat bersama oleh militer AS dan Iran. Selama blokade ini belum diangkat secara resmi, pasokan fisik minyak dunia akan tetap pincang.
Analisis Pengamat: Terlalu Dini Merayakan Kesepakatan
Sejumlah analis komoditas senior menilai bahwa pasar finansial terlalu naif jika menganggap kesepakatan antara AS dan Iran akan tercapai dengan mudah dan dipatuhi oleh kedua belah pihak. Mengubah status blokade militer menjadi jalur dagang yang aman membutuhkan komitmen politis yang sangat masif, sesuatu yang saat ini sulit dipenuhi oleh kedua negara yang sedang bersitegang.
Selain faktor serangan rudal, pasar juga mulai mencermati sejumlah isu struktural lain yang berpotensi menjadi batu sandungan besar dalam negosiasi, di antaranya:
-
Pengelolaan Lalu Lintas Maritim: Terjadi perbedaan pandangan yang tajam mengenai siapa yang berhak mengelola, mengawasi, dan menjamin keamanan lalu lintas kapal tanker di titik sempit (chokepoint) Selat Hormuz.
-
Sentimen Regional (Lebanon): Situasi kian pelik setelah Israel secara terbuka menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan militer mereka terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, sebuah langkah yang dipastikan akan memicu reaksi keras dari Iran sebagai penyokong utama kelompok tersebut.
Prospek Pasar Minyak ke Depan
Dengan situasi yang sangat cair ini, pergerakan harga minyak ke depan diprediksi akan tetap berada dalam fase volatilitas tinggi. Penurunan tajam sebesar 7% sebelumnya menunjukkan betapa besarnya potensi penurunan harga jika perdamaian tercapai. Sebaliknya, lompatan harga setelah laporan serangan Centcom membuktikan bahwa lantai harga minyak (price floor) didukung kuat oleh realita bahaya fisik di lapangan.
Bagi para pelaku pasar, fokus jangka pendek tidak lagi hanya tertuju pada rilis data persediaan minyak mentah mingguan dari institusi seperti EIA (Energy Information Administration). Perhatian penuh kini beralih pada radar geopolitik di Timur Tengah. Selama konflik di Lebanon terus memanas dan dentuman ledakan masih terdengar di Sirik dan Jask, harga minyak mentah akan terus mempertahankan preminya di dekat angka psikologis US$100 per barel.















