BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Naik, China Siap Dorong Ekonomi 2026

Bestprofit (29/12) – Harga minyak mentah global menguat menjelang penutupan tahun, didorong oleh harapan membaiknya permintaan dari China serta reli komoditas yang ikut mengangkat sentimen pasar. Minyak Brent kembali bergerak di atas level USD 61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di kisaran USD 57 per barel. Kenaikan ini memberi sedikit kelegaan bagi pasar energi yang sepanjang beberapa bulan terakhir berada di bawah tekanan.

Meski demikian, penguatan ini masih dipandang rapuh. Pasar tetap dihadapkan pada ketidakpastian besar terkait prospek pasokan global, arah kebijakan OPEC+, serta kondisi geopolitik yang terus berkembang. Dengan demikian, reli minyak di akhir tahun ini lebih mencerminkan perbaikan sentimen jangka pendek ketimbang perubahan tren jangka panjang.

Bestprofit | Harga Minyak Menguat, Pasokan Global Terancam

Sinyal Dukungan Fiskal China Jadi Penopang Utama

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah sinyal dukungan berkelanjutan dari pemerintah China terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam pernyataan resmi Kementerian Keuangan China pada Minggu, Beijing menegaskan rencana untuk memperluas basis belanja fiskal pada 2026. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah China masih siap menggunakan stimulus dan belanja negara sebagai alat utama untuk menopang perekonomian.

Bagi pasar minyak, kabar ini sangat penting. China merupakan importir minyak terbesar di dunia, sehingga setiap indikasi percepatan aktivitas ekonomi langsung diterjemahkan sebagai potensi peningkatan permintaan energi. Harapan bahwa stimulus fiskal akan mendorong sektor industri, transportasi, dan konsumsi domestik membuat pelaku pasar kembali mengambil posisi beli pada kontrak minyak.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Reli Komoditas Ikut Angkat Sentimen Pasar

Penguatan harga minyak juga terjadi seiring reli yang lebih luas di pasar komoditas. Logam mulia, logam industri, hingga beberapa komoditas pertanian menunjukkan tren positif menjelang akhir tahun. Kondisi ini menciptakan sentimen risk-on yang mendorong investor kembali masuk ke aset berbasis komoditas, termasuk energi.

Dalam konteks ini, minyak tidak bergerak sendiri. Kenaikan harga lebih banyak dipicu oleh perbaikan sentimen global ketimbang faktor fundamental spesifik minyak semata. Reli lintas komoditas tersebut memberi sinyal bahwa investor mulai berspekulasi terhadap pemulihan permintaan global pada tahun depan, meskipun risiko masih cukup besar.

Geopolitik Ukraina Belum Tekan Harga Minyak

Menariknya, harga minyak tetap naik meski Amerika Serikat meningkatkan upaya untuk mengakhiri perang di Ukraina. Secara teori, tercapainya perdamaian dapat membuka jalan bagi berkurangnya pembatasan terhadap aliran minyak Rusia ke pasar global, yang pada akhirnya berpotensi menekan harga.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia telah membuat “banyak kemajuan” dalam pembicaraan dengan Presiden Ukraina. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut bahwa kerangka perdamaian sudah “90% disepakati”, meskipun masih terdapat ganjalan besar, termasuk soal masa depan wilayah Donbas.

Namun, pasar tampaknya belum sepenuhnya memasukkan skenario tersebut ke dalam harga. Investor menilai proses perdamaian masih membutuhkan waktu panjang dan penuh ketidakpastian, sehingga dampak terhadap pasokan minyak Rusia belum akan terasa dalam waktu dekat.

Tekanan Tren Bulanan Masih Membayangi

Meski menguat secara harian, minyak masih berada dalam tren penurunan secara bulanan. Pada Desember, harga minyak berada di jalur penurunan bulanan kelima berturut-turut. Jika terealisasi, ini akan menjadi rentetan penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Tekanan ini mencerminkan kekhawatiran pasar yang lebih struktural. Investor masih menilai bahwa keseimbangan pasar minyak global cenderung mengarah pada kelebihan pasokan, terutama jika permintaan tidak pulih secepat yang diharapkan. Reli jangka pendek di akhir tahun belum cukup kuat untuk membalikkan tren negatif yang telah terbentuk sejak pertengahan tahun.

Kekhawatiran Surplus Pasokan Global

Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari sisi pasokan. Kenaikan suplai dari kartel OPEC+, termasuk Rusia, masih membayangi pasar. Meski kelompok produsen ini kerap menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas harga, realisasi produksi sering kali lebih tinggi dari target yang disepakati.

Di luar OPEC+, produksi dari negara-negara non-anggota juga terus meningkat. Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana menjadi contoh produsen yang menambah output secara signifikan. Peningkatan pasokan dari berbagai sumber ini memperbesar risiko surplus pasokan global, terutama jika pertumbuhan permintaan melambat.

China Tetap Jadi Penentu Arah Permintaan

Di sisi permintaan, China tetap menjadi kunci utama arah pasar minyak global. Meskipun ada optimisme dari rencana stimulus, ekonomi China masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Pelemahan sektor properti, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan, belum sepenuhnya pulih. Selain itu, tekanan eksternal seperti friksi dagang dengan Amerika Serikat masih membatasi ruang gerak ekspor.

Kondisi ini membuat prospek permintaan energi China menjadi campuran antara harapan dan kehati-hatian. Pasar menyambut positif setiap sinyal dukungan kebijakan, namun tetap waspada terhadap data ekonomi yang belum sepenuhnya solid.

Peran Penimbunan Minyak China Tahun Depan

Meski permintaan konsumsi belum sepenuhnya pulih, penimbunan minyak (stockpiling) oleh China diperkirakan akan berlanjut pada tahun depan. Pemerintah China kerap memanfaatkan periode harga relatif rendah untuk mengisi cadangan strategisnya.

Strategi ini berpotensi membantu menyerap sebagian surplus pasokan global, sehingga menahan tekanan penurunan harga. Bagi pasar, aktivitas penimbunan ini menjadi salah satu faktor penyeimbang di tengah kekhawatiran akan kelebihan pasokan yang berkepanjangan.

Pergerakan Harga Terbaru Minyak Mentah

Pada perdagangan pagi hari di Asia, harga minyak menunjukkan penguatan moderat. Pada pukul 7:51 pagi waktu Singapura, kontrak Februari Brent naik 0,8% menjadi USD 61,15 per barel, sementara kontrak Februari WTI juga naik 0,8% ke USD 57,18 per barel.

Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen positif dari China dan reli komoditas global. Namun, volume perdagangan relatif tipis, menunjukkan bahwa banyak pelaku pasar masih bersikap menunggu menjelang pergantian tahun.

Prospek Minyak: Optimisme Terbatas di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, penguatan harga minyak menjelang akhir tahun memberikan sinyal optimisme, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus kekhawatiran jangka menengah. Harapan permintaan dari China dan faktor geopolitik memberi dukungan jangka pendek, namun risiko surplus pasokan global tetap menjadi bayangan besar.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada tiga faktor utama: realisasi stimulus China, kebijakan produksi OPEC+, dan perkembangan geopolitik global. Selama ketiga faktor tersebut masih sarat ketidakpastian, pasar minyak kemungkinan akan tetap bergerak volatil, dengan reli yang mudah terhenti oleh sentimen negatif baru.