Bestprofit | Minyak Naik di Tengah Pembicaraan Dagang
Bestprofit (10/6) – Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa minggu pada hari Senin, dipicu oleh melemahnya dolar AS dan meningkatnya harapan atas hasil positif dari pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Para pelaku pasar menilai bahwa tercapainya kesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia dapat memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi global, yang pada gilirannya akan mendorong permintaan terhadap energi, termasuk minyak.
Harga Minyak Capai Puncak Sejak April
Harga minyak mentah Brent ditutup naik sebesar 57 sen, atau 0,9%, menjadi $67,04 per barel, setelah sempat menyentuh $67,12, tertinggi sejak 28 April. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 71 sen atau 1,1% ke level $65,29 per barel, setelah sempat mencapai $65,38, titik tertingginya sejak 4 April.
Kenaikan harga minyak ini menambah reli yang terjadi pekan sebelumnya, di mana Brent naik 4% dan WTI menguat 6,2%. Kinerja ini menunjukkan adanya dorongan kuat dari ekspektasi pemulihan permintaan di tengah optimisme atas perbaikan hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok.
Bestprofit | Tensi Geopolitik Tinggi, Harga Minyak Naik
Melemahnya Dolar AS Beri Dukungan Tambahan
Salah satu faktor penting yang mendukung harga minyak adalah melemahnya dolar AS. Indeks dolar turun sebesar 0,3% pada hari Senin, membuat minyak — yang dihargai dalam mata uang dolar — menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Dalam konteks perdagangan internasional, pelemahan dolar biasanya meningkatkan daya beli terhadap komoditas, termasuk minyak.
Faktor ini memberi dorongan tambahan bagi harga minyak di saat para investor mencari arah pasar yang lebih jelas di tengah ketidakpastian data ekonomi dan kebijakan perdagangan global.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Investor Tunggu Hasil Pembicaraan Dagang AS-Tiongkok
Sorotan utama pasar saat ini tertuju pada pembicaraan perdagangan antara AS dan Tiongkok yang berlangsung di London. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping telah berbicara melalui telepon pada Kamis sebelumnya untuk meredakan ketegangan, sebelum pertemuan tatap muka pejabat tinggi berlangsung pada hari Senin.
Investor menilai bahwa jika pertemuan ini menghasilkan terobosan atau sinyal positif, maka akan menjadi katalis kuat bagi harga minyak. Sebaliknya, kegagalan mencapai kesepakatan bisa menjadi tekanan jangka pendek yang signifikan.
Menurut analis dari Ritterbusch and Associates, kenaikan harga minyak saat ini sebagian besar bersifat teknikal. “Reli semacam ini dapat dengan mudah mereda tanpa berita utama yang optimistis,” tulis mereka dalam sebuah catatan. Hal ini mencerminkan kehati-hatian pasar terhadap reli yang terjadi sebelum adanya konfirmasi fundamental yang kuat.
Data Ekonomi Tiongkok Soroti Tekanan Permintaan
Meski sentimen pasar didorong oleh prospek kesepakatan dagang, data fundamental dari Tiongkok masih menunjukkan tekanan yang signifikan. Pertumbuhan ekspor Tiongkok pada bulan Mei tercatat melemah ke level terendah dalam tiga bulan terakhir akibat dampak tarif dari AS. Sementara itu, data deflasi harga pabrik (PPI) menunjukkan kontraksi paling tajam dalam dua tahun terakhir, menandakan lemahnya permintaan domestik maupun global.
Selain itu, impor minyak mentah Tiongkok juga mengalami penurunan pada bulan Mei, dengan tingkat harian terendah dalam empat bulan terakhir. Penurunan ini disebabkan oleh kegiatan pemeliharaan yang dilakukan oleh kilang-kilang milik negara dan independen.
Menurut analis pasar dari IG, Tony Sycamore, kondisi ini menciptakan waktu yang kurang ideal untuk reli minyak. “WTI sedang menguji puncak kisaran teknisnya dan hampir mencapai terobosan di atas $65,” kata Sycamore. Meski demikian, ia mencatat bahwa sentimen positif dari pembicaraan dagang berpotensi menutupi dampak negatif dari data ekonomi tersebut.
Produksi OPEC+ Masih Terkendali
Di sisi suplai, perhatian pasar juga tertuju pada pergerakan negara-negara produsen minyak dalam kelompok OPEC+. Produksi minyak oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat pada bulan Mei, namun tidak sebesar yang diantisipasi. Menurut survei Reuters, OPEC memproduksi 26,75 juta barel per hari (bph) pada bulan lalu, naik 150.000 bph dari April.
Peningkatan ini sebagian besar disumbang oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, meskipun masih di bawah batas maksimum yang diizinkan. Sementara itu, Irak melakukan pemotongan tambahan guna mengompensasi produksi sebelumnya yang melebihi target.
Fakta bahwa OPEC+ masih menunjukkan kedisiplinan dalam pengendalian produksi memberi sinyal stabilitas pasokan yang relatif terjaga, mendukung keseimbangan pasar di tengah ketidakpastian permintaan global.
Keseimbangan Risiko di Tengah Ketidakpastian
Harga minyak saat ini menghadapi dinamika yang kompleks, dengan sentimen positif dari pelemahan dolar dan pembicaraan dagang AS-Tiongkok diimbangi oleh kekhawatiran atas data ekonomi lemah dari Tiongkok dan ketidakpastian teknikal di pasar.
Para analis memperkirakan bahwa arah harga minyak dalam waktu dekat sangat bergantung pada hasil pembicaraan dagang. Jika pertemuan di London membuahkan hasil positif, pasar bisa menyaksikan terobosan teknis lebih lanjut, terutama jika Brent berhasil bertahan di atas $67 dan WTI melampaui level $65 secara konsisten.
Namun, jika pembicaraan gagal membawa hasil konkret, atau jika data ekonomi global memburuk lebih lanjut, harga minyak dapat kembali terkoreksi. Dalam skenario seperti itu, perhatian pasar bisa kembali beralih ke isu pasokan dan kebijakan produksi OPEC+ bulan depan.
Kesimpulan: Harapan Dagang Picu Optimisme, Tapi Pasar Tetap Waspada
Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa minggu, dipicu oleh pelemahan dolar AS dan harapan bahwa pembicaraan dagang antara AS dan Tiongkok akan mengarah pada kesepakatan yang mendorong permintaan energi global. Namun, pasar tetap menghadapi risiko dari data ekonomi yang melemah, terutama dari Tiongkok, serta ketidakpastian teknikal di pasar energi.
Dalam konteks saat ini, reli harga minyak tampak rapuh dan sangat tergantung pada perkembangan geopolitik serta kebijakan perdagangan global. Investor di pasar energi diharapkan tetap waspada dan menanti sinyal yang lebih kuat sebelum mengambil posisi agresif di pasar minyak mentah.















