Bestprofit | Minyak Naik Jelang Libur dan Isu Iran
Bestprofit (26/5) – Harga minyak mengalami kenaikan moderat pada hari Jumat, 13 Mei 2025, ditopang oleh aksi short-covering menjelang akhir pekan Memorial Day yang panjang di Amerika Serikat, serta meningkatnya kekhawatiran atas kelanjutan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak mentah Brent berjangka ditutup naik sebesar 34 sen (0,54%) menjadi $64,78 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 33 sen (0,54%) menjadi $61,53 per barel.
Meskipun kenaikannya tidak signifikan secara nominal, penguatan harga ini mencerminkan kecemasan pasar terhadap potensi gangguan pasokan dan ketidakpastian geopolitik yang bisa memicu volatilitas dalam waktu dekat.
Bestprofit | Harga Minyak Tertahan OPEC+
Aksi Short-Covering Menjelang Libur Panjang AS
Menurut Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah aktivitas short-covering oleh para pembeli AS menjelang akhir pekan Memorial Day.
“Saya pikir ada beberapa short-covering menjelang akhir pekan ini,” ujar Flynn.
Akhir pekan Memorial Day di AS secara tradisional menandai dimulainya musim berkendara musim panas, yaitu periode di mana permintaan bahan bakar, khususnya bensin, mencapai puncaknya. Dengan proyeksi meningkatnya konsumsi, pelaku pasar berusaha menutup posisi jual pendek (short positions) untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga dalam beberapa hari mendatang.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Pembicaraan Nuklir Iran-AS Menambah Ketidakpastian
Selain faktor musiman, ketegangan geopolitik juga menjadi pemicu utama penguatan harga minyak. Fokus pasar tertuju pada pembicaraan nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung di Roma pada hari Jumat. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya untuk membatasi program nuklir Iran, namun sinyal yang muncul dari proses diplomatik ini tidak terlalu optimis.
“Pembicaraan tidak terlihat bagus,” kata Flynn. “Jika ini adalah pembicaraan terakhir dan tidak ada kesepakatan, itu bisa memberi lampu hijau bagi Israel untuk menyerang Iran.”
Kegagalan pembicaraan dapat memperbesar kemungkinan konflik militer atau sanksi lebih lanjut, yang secara langsung dapat mengganggu ekspor minyak Iran ke pasar global. Mengingat Iran adalah salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah, setiap ketegangan yang menyangkut negara ini akan menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar energi.
Ancaman Tarif Baru Trump dan Ketidakpastian Permintaan
Sementara itu, pasar juga dikejutkan oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali menekan perdagangan global. Trump menyatakan bahwa ia merekomendasikan tarif langsung sebesar 50% untuk barang-barang dari Uni Eropa (UE) mulai 1 Juni.
“Blok tersebut sulit untuk ditangani dalam perdagangan,” ujar Trump, menegaskan kembali pendekatannya yang keras terhadap mitra dagang AS.
Pernyataan ini memunculkan kekhawatiran baru di pasar minyak mengenai dampak kebijakan tarif terhadap permintaan global. Ketegangan dagang yang meningkat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan konsumsi energi, dan pada akhirnya menekan permintaan minyak.
Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates, mengatakan, “Pasar minyak telah berada di bawah tekanan dari dua hal: dampak tarif terhadap permintaan minyak dan potensi peningkatan pasokan dari OPEC+.”
OPEC+ Bersiap Tingkatkan Produksi Lagi
Sementara sisi permintaan menghadapi tekanan, sisi pasokan juga menambah beban pada harga. Kelompok OPEC+, yang mencakup negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak serta sekutu-sekutunya yang dipimpin Rusia, dijadwalkan mengadakan pertemuan minggu depan.
Dalam pertemuan tersebut, OPEC+ diperkirakan akan menyetujui peningkatan produksi sebesar 411.000 barel per hari (bph) untuk bulan Juli. Selain itu, menurut laporan Reuters, OPEC+ berencana mengakhiri sisa pemotongan produksi sukarela sebesar 2,2 juta bph pada akhir Oktober setelah sebelumnya menaikkan target produksi sebesar 1 juta bph untuk April, Mei, dan Juni.
Langkah ini menunjukkan komitmen OPEC+ untuk merespons peningkatan permintaan pascapandemi, sekaligus menjaga pangsa pasar mereka di tengah peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC seperti AS.
Namun, peningkatan pasokan di tengah ketidakpastian permintaan global akibat potensi perang dagang dan perlambatan ekonomi bisa menjadi kombinasi yang menekan harga minyak dalam jangka menengah.
Prospek Pasar Minyak dalam Jangka Pendek
Meskipun pasar saat ini menunjukkan tren penguatan moderat, sejumlah analis memperingatkan bahwa arah harga minyak ke depan masih sangat tergantung pada:
-
Hasil akhir pembicaraan nuklir Iran-AS
Gagalnya diplomasi bisa memicu gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dan meningkatkan risiko geopolitik global. -
Dampak tarif baru AS terhadap perdagangan internasional
Peningkatan tensi perdagangan antara AS dan mitra dagangnya bisa mengurangi pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi. -
Keputusan OPEC+ dalam pertemuan mendatang
Jika produksi terus ditingkatkan tanpa pertimbangan ketat terhadap permintaan, pasar bisa kembali ke kondisi oversupply. -
Permintaan bahan bakar selama musim panas di AS dan Eropa
Jika musim panas menghasilkan lonjakan permintaan yang lebih tinggi dari perkiraan, maka harga bisa terdorong naik lebih lanjut.
Kesimpulan: Pasar Minyak Hadapi Dinamika Ganda
Harga minyak pada Jumat, 13 Mei, mencerminkan kombinasi dari reaksi jangka pendek terhadap libur panjang AS dan kekhawatiran jangka menengah terhadap isu geopolitik dan fundamental pasar. Kenaikan yang terlihat pada perdagangan hari itu, meski terbatas, menyoroti ketegangan yang ada antara ekspektasi permintaan dan ketidakpastian pasokan.
Dengan dinamika pasar yang begitu kompleks, investor dan pelaku industri energi perlu memantau dengan cermat:
-
perkembangan diplomasi AS-Iran,
-
kebijakan perdagangan Presiden Trump,
-
keputusan strategis OPEC+,
-
serta tren konsumsi bahan bakar selama musim panas.
Jika ketegangan geopolitik terus meningkat sementara permintaan bahan bakar tetap kuat, maka harga minyak berpotensi terus menguat. Namun, jika OPEC+ meningkatkan pasokan secara agresif atau tarif dagang memperburuk ekonomi global, harga bisa kembali tertekan.
Dalam kondisi saat ini, fleksibilitas strategi investasi dan kewaspadaan terhadap berita global menjadi kunci utama dalam menyikapi volatilitas pasar minyak.















