Bestprofit | Minyak Naik, Pasar Waspada Hormuz
Bestprofit (30/1) – Harga minyak dunia cenderung stabil pada perdagangan terbaru setelah mencatat lonjakan lebih dari 3% pada Kamis. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang tengah menimbang ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran serta potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Setelah reli tajam dalam beberapa sesi terakhir, pasar minyak memasuki fase konsolidasi. Investor dan trader kini berupaya menilai apakah kenaikan harga tersebut akan berlanjut atau justru menghadapi koreksi, bergantung pada perkembangan geopolitik dalam beberapa hari ke depan.
Bestprofit | Ketegangan AS–Iran Angkat Harga Minyak
WTI dan Brent Bertahan di Level Kunci
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar level $66 per barel, melanjutkan reli tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik, tetapi juga oleh pelemahan dolar AS yang membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi pembeli global.
Sementara itu, minyak mentah Brent bertahan di atas $70 per barel. Capaian ini menjadi sorotan karena menandai pertama kalinya Brent kembali berada di atas level tersebut sejak Juli. Kenaikan harga Brent menunjukkan bahwa pasar global mulai kembali “menyuntikkan” premi risiko geopolitik ke dalam harga, setelah sebelumnya lebih fokus pada faktor permintaan dan pasokan.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Ancaman Trump Mengubah Sentimen Pasar
Pemicu utama pergerakan harga minyak datang dari pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali melontarkan peringatan keras terhadap Iran. Trump menegaskan bahwa jika Teheran tidak bersedia mencapai kesepakatan nuklir, maka opsi serangan militer tetap berada di atas meja.
Nada agresif ini langsung memengaruhi sentimen pasar. Pelaku pasar mulai kembali menghitung skenario terburuk, termasuk kemungkinan konfrontasi terbuka yang dapat mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Meski belum ada tindakan konkret, retorika semacam ini sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan dan volatilitas.
Risiko Geopolitik Kembali Jadi Faktor Penentu
Dalam beberapa bulan terakhir, pasar minyak sempat lebih banyak dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti kebijakan produksi OPEC+, prospek permintaan global, dan kondisi ekonomi utama dunia. Namun, pernyataan Trump menggeser fokus kembali ke risiko geopolitik.
Ketegangan antara AS dan Iran bukanlah isu baru, tetapi setiap eskalasi verbal atau militer selalu memiliki potensi dampak besar terhadap pasar energi. Investor memahami bahwa kawasan Timur Tengah menyumbang porsi signifikan dari pasokan minyak global, sehingga gangguan sekecil apa pun bisa berdampak luas.
Selat Hormuz Jadi Titik Perhatian Utama
Fokus terbesar pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut sempit yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab. Selat ini merupakan rute vital bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG), dengan jutaan barel energi melewati kawasan tersebut setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Karena perannya yang sangat strategis, Selat Hormuz kerap menjadi titik rawan dalam setiap konflik di Timur Tengah. Ancaman penutupan atau gangguan di jalur ini secara historis selalu memicu lonjakan harga minyak, karena pasar segera memperhitungkan risiko terhentinya pasokan.
Laporan Latihan Militer Iran Tingkatkan Ketegangan
Ketegangan semakin terasa setelah Associated Press melaporkan bahwa Iran telah memperingatkan kapal-kapal yang beroperasi di kawasan tersebut terkait rencana latihan militer. Latihan ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu hingga Senin dan dilaporkan mencakup penembakan langsung di wilayah Selat Hormuz.
Laporan tersebut mengutip dua pejabat keamanan Pakistan, yang menyebutkan bahwa peringatan telah disampaikan kepada pihak-pihak terkait untuk menghindari risiko keselamatan. Meski latihan militer merupakan hal yang relatif rutin, lokasi dan waktu pelaksanaannya membuat pasar tidak bisa mengabaikan potensi implikasi yang lebih luas.
Show of Force atau Sinyal Eskalasi?
Pelaku pasar kini dihadapkan pada pertanyaan kunci: apakah latihan militer Iran ini sekadar “show of force” untuk menunjukkan kemampuan pertahanan, atau merupakan sinyal awal dari eskalasi yang lebih serius?
Jika latihan berlangsung tanpa insiden dan tidak mengganggu arus pelayaran, pasar mungkin akan kembali menurunkan premi risiko secara bertahap. Namun, jika muncul gangguan, salah perhitungan, atau insiden kecil sekalipun, dampaknya bisa langsung terasa pada harga minyak global.
Sikap Hati-Hati Pelaku Pasar Energi
Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan melihat. Banyak trader memilih mempertahankan posisi sambil memantau perkembangan terbaru dari Washington dan Teheran, serta laporan lapangan dari kawasan Selat Hormuz.
Volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, karena harga minyak menjadi sangat sensitif terhadap berita dan pernyataan politik. Setiap perkembangan baru berpotensi memicu pergerakan harga yang cepat dan tajam.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah. Jika ketegangan mereda dan tidak ada gangguan nyata terhadap pasokan, harga minyak berpotensi bergerak stabil atau mengalami koreksi ringan setelah reli tajam sebelumnya.
Namun, jika ancaman berubah menjadi tindakan nyata atau terjadi gangguan di Selat Hormuz, pasar kemungkinan akan kembali menaikkan premi risiko secara agresif. Dalam skenario tersebut, harga minyak dapat melonjak lebih tinggi, mengingat sensitivitas pasar terhadap keamanan pasokan global.
Dengan latar belakang ini, harga minyak saat ini mencerminkan keseimbangan rapuh antara optimisme fundamental dan kekhawatiran geopolitik. Selama ketidakpastian masih membayangi, pasar energi global akan tetap berada dalam mode waspada.















