BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Stabil, Pasar Waspada

Bestprofit (22/8) – Harga minyak mentah global stabil meski ketegangan geopolitik kembali meningkat. Pasar saat ini tengah menimbang dampak dari potensi terganggunya aliran minyak mentah Rusia ke India, menyusul kritik tajam dari seorang pejabat pemerintahan AS menjelang kenaikan tarif impor yang dijadwalkan akhir bulan ini.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati $63 per barel, dengan prospek kenaikan mingguan moderat. Sementara itu, Brent ditutup sedikit lebih rendah, di bawah $68 per barel. Pasar energi berada dalam posisi hati-hati, menanti kepastian arah kebijakan perdagangan antara dua negara ekonomi besar: Amerika Serikat dan India.

Bestprofit | Minyak Menguat, Stok AS Menyusut

Kritik Pedas dari AS: India dan Perdagangan Minyak Rusia

Ketegangan meningkat setelah Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras terhadap India. Ia menuduh India menghindari tanggung jawab atas “pertumpahan darah” yang terjadi akibat perang di Ukraina, dengan tetap melanjutkan pembelian minyak dari Rusia.

“India tampaknya tidak ingin mengakui perannya dalam pertumpahan darah,” kata Navarro. Ia menambahkan bahwa tarif impor AS terhadap India kemungkinan akan berlipat ganda pada 27 Agustus mendatang, sebagian besar karena ketergantungan India terhadap minyak mentah asal Rusia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ancaman Tarif Baru: Impor India Terancam Kenaikan hingga 50%

Presiden Trump, yang tengah menjalani masa kampanye untuk periode kedua, telah secara terbuka mengancam akan menaikkan tarif impor India hingga 50%, termasuk produk industri dan tekstil. Ancaman ini merupakan bagian dari pendekatan keras Trump terhadap negara-negara yang dianggap mengambil keuntungan dari surplus perdagangan dengan AS.

India menjadi sorotan karena sejak perang Rusia-Ukraina meletus, negara tersebut telah meningkatkan pembelian minyak dari Rusia — sebuah langkah yang secara ekonomi menguntungkan India karena harga diskon, namun secara politik bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS yang mengecam invasi Rusia ke Ukraina.

Meskipun demikian, India membela kebijakan energinya sebagai bagian dari kepentingan nasional dan kebutuhan domestik, terutama untuk menjaga harga energi tetap terjangkau di dalam negeri.

Permintaan Minyak India: Antara Kebutuhan dan Politik Global

Meskipun sempat menghentikan sementara impor minyak dari Rusia akibat tekanan internasional dan ketidakpastian logistik, pengilangan minyak di India telah kembali membeli minyak mentah Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi masih menjadi pertimbangan utama.

Seorang pejabat dari Moskow menyatakan bahwa aliran pasokan ke India akan tetap stabil, dan Rusia tidak melihat adanya hambatan besar dalam pengiriman selama India masih membutuhkan pasokan tersebut.

Namun, di sisi lain, Navarro menyebut lonjakan impor Rusia oleh India bukan karena kebutuhan riil, melainkan “aksi mencari untung oleh lobi Minyak Besar India.” Tuduhan ini memperkeruh suasana menjelang keputusan tarif AS.

Harga Minyak Masih Rendah Dibanding Awal Tahun

Di tengah ketegangan geopolitik ini, harga minyak global masih belum pulih sepenuhnya. Harga WTI dan Brent tercatat lebih rendah dibandingkan awal tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain:

  1. Kebijakan produksi OPEC+ yang melonggar, dengan beberapa negara anggota meningkatkan output secara agresif.

  2. Kekhawatiran terhadap permintaan global, terutama akibat ketegangan perdagangan dan perlambatan ekonomi di beberapa negara berkembang.

  3. Kebijakan perdagangan pemerintahan Trump, yang meningkatkan ketidakpastian global dan membuat investor ragu untuk mengambil posisi besar di pasar energi.

Kombinasi dari peningkatan pasokan dan penurunan ekspektasi permintaan menciptakan tekanan ganda pada harga minyak, membuatnya cenderung sideways meskipun ada faktor geopolitik yang biasanya menjadi pemicu kenaikan.

Dampak Tarif Terhadap Hubungan Ekonomi AS-India

Kenaikan tarif terhadap India bukan hanya akan berdampak pada sektor energi, tetapi juga akan memengaruhi berbagai sektor perdagangan lainnya seperti:

  • Tekstil dan garmen: India adalah salah satu eksportir terbesar ke AS.

  • Teknologi dan perangkat keras: AS mengimpor banyak komponen elektronik dari India.

  • Pertanian dan bahan makanan olahan: Tarif impor dapat memengaruhi rantai pasok global.

Jika tarif diberlakukan pada 27 Agustus sesuai jadwal, banyak pelaku pasar memperkirakan akan terjadi pembalasan dari India, termasuk kemungkinan pengenaan tarif balik terhadap produk AS seperti pertanian, teknologi, atau kendaraan.

Rusia-India: Aliansi Energi yang Kian Menguat

Meskipun mendapat tekanan dari AS dan sekutunya, India dan Rusia telah mempererat hubungan perdagangan energi mereka sejak 2022. India menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia setelah banyak negara Barat menghentikan impor karena sanksi.

Rusia, dalam rangka mencari pasar alternatif, memberikan diskon signifikan kepada India, membuat pembelian menjadi sangat ekonomis bagi kilang-kilang India. Hal ini juga membantu Rusia mempertahankan pendapatan ekspor minyak meskipun terkena embargo.

Langkah India ini dianggap pragmatis oleh sebagian pengamat internasional, namun dipandang kontroversial oleh Washington, yang menganggapnya sebagai bentuk tidak langsung mendukung agresi Rusia.

Pasar Minyak Menanti Kepastian

Dengan harga yang stabil namun rentan terhadap guncangan kebijakan, pasar minyak dunia saat ini berada dalam fase menunggu kepastian. Beberapa faktor yang menjadi perhatian utama:

  • Apakah Trump akan benar-benar menaikkan tarif terhadap India?

  • Bagaimana India akan merespons — dengan negosiasi atau tindakan balasan?

  • Apakah Rusia akan terus mempertahankan volume ekspor saat tekanan meningkat?

Para analis percaya bahwa harga minyak bisa melonjak jika terjadi gangguan besar pada rantai pasok, terutama jika India mengurangi impor atau AS memberlakukan sanksi terhadap entitas yang terkait dengan perdagangan minyak Rusia.

Namun, jika ketegangan mereda dan diplomasi kembali ditempuh, pasar mungkin akan kembali stabil atau bahkan mengalami koreksi lebih lanjut.

Kesimpulan: Politik Global Kembali Membayangi Pasar Energi

Harga minyak yang stabil saat ini mencerminkan ketidakseimbangan antara risiko geopolitik dan fundamental pasar. Di satu sisi, tekanan dari AS terhadap India dan Rusia menciptakan risiko pasokan; di sisi lain, produksi yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi menekan harga.

Dengan tenggat waktu tarif pada 27 Agustus yang semakin dekat, pelaku pasar harus bersiap menghadapi potensi volatilitas tinggi. Minyak tetap menjadi komoditas yang sangat dipengaruhi oleh dinamika politik global, dan perkembangan hubungan AS-India-Rusia akan sangat menentukan arah harga dalam jangka pendek hingga menengah.