Bestprofit | Minyak Turun, OPEC+ Jadi Sorotan
Bestprofit (2/6) – Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) dan Brent kembali melemah di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan produksi oleh kelompok produsen minyak OPEC+. Para pedagang mengantisipasi bahwa pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada Sabtu mendatang akan menghasilkan keputusan untuk menambah pasokan minyak lebih besar dari yang telah diperkirakan sebelumnya.
Harga Minyak Melemah, Brent dan WTI Turun Tipis
Pada penutupan perdagangan Jumat:
-
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup turun 25 sen (0,39%) menjadi $63,90 per barel.
-
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup melemah 15 sen (0,25%) ke level $60,79 per barel, setelah sempat anjlok lebih dari $1 per barel di sesi perdagangan sebelumnya.
Selain itu, kontrak Brent bulan Juli akan berakhir hari itu, dan kontrak Agustus yang lebih likuid turun 71 sen (1,12%) ke $62,64 per barel. Dengan penurunan ini, kontrak acuan tersebut tampaknya menuju kerugian mingguan lebih dari 1%.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Kekhawatiran Produksi OPEC+ Membebani Sentimen Pasar
Pasar minyak terguncang setelah laporan Reuters menyebutkan bahwa OPEC+ tengah mempertimbangkan kenaikan produksi minyak untuk bulan Juli yang melebihi kesepakatan sebelumnya, yaitu tambahan 411.000 barel per hari (bpd) yang telah disetujui untuk bulan Mei dan Juni.
Matt Smith, analis utama dari Kpler untuk kawasan Amerika, menilai bahwa rencana tersebut dapat menimbulkan tekanan tambahan terhadap harga. “Apa yang direncanakan OPEC+ tampaknya tidak terlalu mendukung pasar minyak,” katanya.
Kekhawatiran pasar cukup beralasan mengingat meningkatnya pasokan bisa memperlemah harga jika tidak dibarengi peningkatan permintaan yang sepadan.
Surplus Global dan Proyeksi Penurunan Harga
Analis JPMorgan mencatat bahwa surplus minyak global telah melebar menjadi 2,2 juta bpd, kondisi yang bisa memaksa penyesuaian harga untuk mengembalikan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Dalam sebuah catatan yang dirilis ke klien, JPMorgan menyatakan bahwa mereka memperkirakan harga minyak akan tetap berada dalam kisaran saat ini, sebelum berpotensi turun ke level $50-an per barel pada akhir tahun 2025. Ini memperkuat pandangan bahwa pasar akan tetap berada dalam tekanan jangka menengah hingga ada perubahan signifikan dalam kebijakan produksi atau kondisi permintaan global.
Faktor Tambahan: Ancaman Tarif dari Trump
Selain faktor fundamental pasokan, pernyataan politik kembali ikut memengaruhi pasar. Kali ini, unggahan Presiden AS Donald Trump di Truth Social menjadi sorotan karena mengisyaratkan potensi perubahan kebijakan tarif terhadap Tiongkok.
Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group, mengatakan bahwa pernyataan Trump turut memperburuk sentimen pasar minyak. “Pesan Truth Social Trump tentang kegagalan Tiongkok mematuhi gencatan senjata tarif juga dikombinasikan dengan tajuk utama Reuters untuk menekan harga turun,” ujarnya.
Situasi ini menambah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, dua faktor yang sangat mempengaruhi harga minyak global.
Pengadilan Federal Pulihkan Sementara Tarif Trump
Menambah ketegangan, pengadilan banding federal AS pada Kamis (29/5) memulihkan sementara tarif impor besar yang diberlakukan oleh Presiden Trump, membatalkan keputusan pengadilan perdagangan sebelumnya yang memerintahkan penghentian segera terhadap tarif tersebut.
Dengan tarif yang diberlakukan kembali, ada potensi penurunan aktivitas perdagangan antara AS dan Tiongkok—dua negara konsumen minyak terbesar dunia—yang bisa menurunkan permintaan minyak secara global.
Penurunan Rig AS dan Implikasinya
Meskipun pasokan global cenderung meningkat dari sisi OPEC+, produksi energi dalam negeri AS justru menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan laporan mingguan dari perusahaan jasa energi Baker Hughes, jumlah rig minyak dan gas yang beroperasi di AS turun untuk minggu kelima berturut-turut, menyentuh level terendah sejak November 2021.
-
Jumlah rig minyak turun empat menjadi 461, level terendah dalam hampir empat tahun.
-
Jumlah rig gas naik satu menjadi 99.
-
Secara keseluruhan, total rig di AS turun 6% dibandingkan tahun lalu, atau sebanyak 37 rig.
Ini adalah kali pertama sejak September 2023 bahwa jumlah rig menurun lima minggu berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan bahwa produsen di AS mungkin mulai menahan investasi baru di tengah ketidakpastian pasar dan harga yang relatif tidak stabil.
Permintaan Global Masih Rapuh
Di sisi permintaan, pasar minyak global masih menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi di beberapa kawasan, termasuk Tiongkok dan Eropa, serta tren elektrifikasi kendaraan yang perlahan menggerus konsumsi bahan bakar fosil.
Meskipun data ekonomi AS cukup kuat dalam beberapa bulan terakhir, permintaan bahan bakar secara global masih belum cukup solid untuk menyerap tambahan pasokan yang besar tanpa menimbulkan surplus.
Prospek Jangka Menengah: Menunggu Keputusan OPEC+
Pasar kini menantikan hasil dari pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (31/5). Jika kelompok ini benar-benar memutuskan untuk menaikkan produksi secara signifikan, ada kemungkinan harga akan terus tertekan dalam beberapa pekan mendatang.
Namun, jika keputusan tersebut lebih moderat atau disertai dengan sinyal kesiapan untuk menyesuaikan kembali produksi bila diperlukan, maka pasar bisa merespons dengan stabilisasi harga dalam kisaran saat ini.
Kesimpulan
Penurunan harga minyak pada 30 Mei 2025 mencerminkan dinamika kompleks antara potensi kenaikan produksi OPEC+, penguatan risiko geopolitik terkait tarif AS-Tiongkok, serta penurunan produksi domestik AS yang memberi sinyal kehati-hatian dari sisi industri.
Dengan pasar minyak yang semakin dipengaruhi oleh faktor politik dan ekspektasi kebijakan produsen besar, pelaku pasar harus tetap waspada terhadap setiap sinyal yang muncul dari pertemuan OPEC+, pernyataan politisi utama dunia, serta data permintaan global yang mungkin mempengaruhi arah harga ke depan.
Meski harga saat ini cenderung melemah, semua mata kini tertuju pada Sabtu, ketika OPEC+ akan mengungkap strategi produksinya yang bisa menentukan arah pasar minyak untuk beberapa bulan ke depan.















