BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Wait and See Jelang Dialog AS–Iran

Bestprofit (26/2) – Harga minyak bergerak stabil menjelang pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran pada Kamis, ketika pasar menimbang dua kekuatan besar yang saling bertabrakan: ekspektasi kelebihan pasokan global tahun ini dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di dekat US$66 per barel setelah ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya, sementara Brent bertahan di bawah US$71 per barel. Kondisi ini mencerminkan sikap “wait and see” pelaku pasar menjelang agenda diplomasi yang berpotensi menentukan arah harga jangka pendek.

Di satu sisi, prospek pasokan yang melimpah menahan reli harga. Di sisi lain, ketegangan politik dan militer di kawasan penghasil minyak utama dunia membuat pelaku pasar enggan melepas posisi lindung nilai terhadap risiko lonjakan harga mendadak.

Minyak Bertahan Dekat Tertinggi 7 Bulan Jelang Dialog AS–Iran

Diplomasi di Jenewa dan Taruhan Pasar Energi

Pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Jenewa, dengan delegasi Amerika Serikat—termasuk utusan khusus Steve Witkoff—diperkirakan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan ini menjadi momen penting dalam upaya meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama terkait program nuklir Iran.

Bagi pasar energi, hasil perundingan tersebut memiliki implikasi langsung terhadap pasokan minyak global. Jika kesepakatan tercapai dan membuka jalan bagi pelonggaran sanksi, ekspor minyak Iran berpotensi meningkat signifikan. Sebaliknya, jika negosiasi gagal dan memicu eskalasi, risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah akan meningkat.

Ketidakpastian inilah yang membuat harga minyak cenderung bergerak dalam rentang sempit, dengan volatilitas yang sewaktu-waktu dapat melonjak mengikuti perkembangan berita.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Premi Risiko dan Struktur Pasar Opsi

Struktur pasar opsi minyak mencerminkan tingginya kehati-hatian investor. Minat masih condong ke posisi bullish, sementara volatilitas tersirat bertahan tinggi. Ini menandakan pelaku pasar tetap memasang “premi risiko” dalam harga, sebagai antisipasi terhadap kemungkinan gangguan pasokan.

Premi risiko biasanya muncul ketika terdapat ancaman terhadap stabilitas produksi atau distribusi minyak. Dalam konteks saat ini, penumpukan pasukan AS di kawasan Timur Tengah turut menjaga kekhawatiran eskalasi tetap tinggi. Meski belum ada gangguan nyata pada aliran minyak, pasar cenderung menghargai potensi risiko sebelum benar-benar terjadi.

Kondisi ini menciptakan paradoks: harga tidak melonjak tajam karena belum ada gangguan riil, tetapi juga sulit turun signifikan karena risiko geopolitik masih membayangi.

Sikap Tegas Washington dan Tekanan terhadap Teheran

Presiden AS Donald Trump menegaskan preferensinya pada solusi diplomatik, namun kembali memperingatkan konsekuensi jika kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan ini memperlihatkan kombinasi pendekatan negosiasi dan tekanan yang menjadi ciri kebijakan Washington terhadap Teheran.

AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas yang dituding mendukung penjualan minyak dan pasokan senjata Iran. Langkah ini menambah tekanan menjelang perundingan dan membuat sentimen geopolitik semakin dominan dalam pembentukan harga jangka pendek.

Bagi pasar minyak, sanksi tersebut dapat membatasi kemampuan Iran mengekspor minyak secara bebas. Namun dalam praktiknya, Iran kerap menemukan jalur alternatif untuk menjaga aliran ekspor tetap berjalan, sehingga dampaknya terhadap pasokan global tidak selalu langsung terasa.

Lonjakan Ekspor di Tengah Ancaman Konflik

Menariknya, kekhawatiran konflik justru mendorong beberapa produsen utama di kawasan meningkatkan ekspor. Arab Saudi diperkirakan mengekspor minyak mentah terbanyak dalam hampir tiga tahun pada bulan ini. Langkah ini bisa dilihat sebagai strategi untuk mengamankan pangsa pasar sekaligus mengantisipasi potensi gangguan distribusi di masa mendatang.

Sementara itu, Iran dilaporkan mempercepat pengisian kapal tanker dalam beberapa hari terakhir. Aksi ini dapat diartikan sebagai upaya memaksimalkan ekspor sebelum kemungkinan pengetatan sanksi atau peningkatan ketegangan.

Data Vortexa menunjukkan bahwa aliran gabungan dari Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab berpotensi naik hampir 600.000 barel per hari dibanding periode yang sama pada Januari. Tambahan pasokan ini berpotensi membatasi ruang kenaikan harga jika tidak terjadi gangguan produksi yang nyata.

Dengan kata lain, meski risiko geopolitik meningkat, pasokan fisik di pasar global saat ini justru menunjukkan tanda-tanda kelimpahan.

Pergerakan Harga Terkini

Pada pukul 07.41 waktu Singapura, WTI kontrak April naik 0,3% menjadi US$65,64 per barel. Sementara itu, Brent kontrak April pada Rabu ditutup nyaris tidak berubah di US$70,85 per barel.

Stabilitas ini menunjukkan pasar masih menunggu kejelasan hasil pembicaraan. Trader energi cenderung menahan posisi besar hingga ada sinyal yang lebih tegas mengenai arah kebijakan dan risiko keamanan di kawasan.

Pergerakan harga yang relatif tenang juga mencerminkan keseimbangan antara sentimen bearish akibat potensi kelebihan pasokan dan sentimen bullish karena risiko geopolitik.

Kelebihan Pasokan dan Tantangan Permintaan

Selain faktor geopolitik, pasar juga mempertimbangkan prospek permintaan global. Perlambatan ekonomi di beberapa kawasan utama serta transisi energi menuju sumber terbarukan turut memengaruhi ekspektasi konsumsi minyak jangka menengah.

Jika pasokan dari negara-negara OPEC+ dan produsen non-OPEC terus meningkat tanpa diimbangi lonjakan permintaan, pasar bisa kembali menghadapi tekanan kelebihan suplai. Situasi ini akan menahan reli harga meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda.

Oleh karena itu, investor kini tidak hanya memantau hasil pembicaraan AS–Iran, tetapi juga data produksi, ekspor, dan stok minyak global dalam beberapa pekan mendatang.

Skenario Pasar: Gangguan Nyata atau Sekadar Premi Risiko?

Fokus utama pasar kini adalah apakah tensi geopolitik akan berubah menjadi gangguan pasokan yang nyata atau tetap sebatas premi risiko dalam harga. Jika terjadi insiden yang mengganggu jalur pelayaran utama atau fasilitas produksi, harga bisa melonjak cepat menembus level resistensi penting.

Sebaliknya, jika pembicaraan menghasilkan kemajuan diplomatik dan pasokan tetap lancar, harga berpotensi terkoreksi karena pasar akan menghapus sebagian premi risiko yang saat ini tersemat.

Dalam konteks ini, volatilitas kemungkinan tetap tinggi dalam jangka pendek. Pelaku pasar energi, termasuk hedge fund dan perusahaan perdagangan komoditas, akan terus menyesuaikan posisi mereka seiring munculnya informasi baru.

Kesimpulan

Harga minyak yang bergerak stabil menjelang pembicaraan nuklir AS–Iran mencerminkan tarik-menarik antara risiko geopolitik dan ekspektasi kelebihan pasokan. Di satu sisi, ketegangan di Timur Tengah dan sanksi baru terhadap Iran menjaga premi risiko tetap tinggi. Di sisi lain, peningkatan ekspor dari sejumlah produsen utama membatasi potensi kenaikan harga.

Dengan WTI bertahan di kisaran US$66 per barel dan Brent di bawah US$71 per barel, pasar untuk sementara memilih menunggu hasil diplomasi. Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah ketegangan berubah menjadi gangguan pasokan nyata atau justru mereda melalui jalur negosiasi.

Bagi investor dan pelaku industri energi, periode ini menjadi momen krusial untuk membaca sinyal pasar dan mengelola risiko di tengah dinamika geopolitik yang cepat berubah.