Bestprofit | OPEC+ Tahan Produksi, Harga Jatuh
Bestprofit (6/10) – OPEC+, aliansi antara negara-negara produsen minyak terbesar di dunia termasuk Arab Saudi dan Rusia, kembali mengambil langkah konservatif pada Oktober 2025. Untuk bulan kedua berturut-turut, kelompok ini hanya meningkatkan pasokan sebesar 137.000 barel per hari—angka yang jauh di bawah ekspektasi pasar dan para analis energi. Keputusan ini mencerminkan strategi berhati-hati di tengah kondisi pasar yang rapuh dan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan global.
Langkah Kecil di Tengah Ekspektasi Besar
Langkah OPEC+ untuk hanya menambah pasokan secara terbatas dianggap sebagai sinyal kehati-hatian ekstrem, terutama karena tekanan datang dari dua arah: menjaga harga minyak tetap stabil dan mempertahankan pangsa pasar dari pesaing non-OPEC.
Arab Saudi dan Rusia, dua kekuatan utama dalam kelompok ini, tampak memiliki pendekatan yang berbeda. Rusia condong pada strategi mempertahankan harga dengan membatasi pasokan. Sementara itu, Arab Saudi tampak lebih agresif dalam mencoba merebut kembali pangsa pasar yang sebelumnya direbut oleh negara-negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada—semua pemain besar yang bukan bagian dari OPEC+.
Namun, meski memiliki perbedaan taktik, keputusan final menunjukkan kompromi antara keduanya. Tambahan pasokan yang minim menjadi jalan tengah, meskipun datang pada saat yang kurang ideal bagi pasar global.
Bestprofit | Minyak Melemah, Fokus ke OPEC+
Pasar Minyak Global: Di Tengah Kelebihan Pasokan dan Melambatnya Permintaan
Keputusan hati-hati OPEC+ muncul saat pasar minyak global sedang bergulat dengan kelebihan pasokan (oversupply). Cadangan minyak di banyak negara mulai meningkat tajam, seiring dengan melemahnya permintaan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global, efisiensi energi yang membaik, dan transisi ke sumber energi terbarukan.
Menurut laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA), surplus besar diprediksi akan terjadi pada tahun 2026, dengan pasokan yang melebihi permintaan sebesar jutaan barel per hari. Kondisi ini berpotensi menekan harga minyak ke level yang lebih rendah jika tidak diimbangi dengan pemangkasan produksi yang signifikan.
Harga minyak jenis Brent sempat terjun ke level terendah dalam empat bulan terakhir sebelum kembali sedikit pulih ke sekitar $65 per barel. Di sisi lain, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $61 per barel. Namun, tren saat ini jelas menunjukkan tekanan menurun.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Perbedaan Strategi: Rusia vs Arab Saudi
Salah satu dinamika menarik dalam OPEC+ saat ini adalah perbedaan pendekatan antara Rusia dan Arab Saudi, dua negara dengan kepentingan dan kapasitas produksi yang berbeda.
-
Rusia ingin menjaga harga tetap tinggi untuk mendukung anggaran negaranya, yang sangat tergantung pada pendapatan dari minyak dan gas. Dengan sanksi barat yang masih membatasi akses ke pendanaan dan teknologi, Rusia tidak dalam posisi untuk mengekspansi produksi secara agresif.
-
Arab Saudi, sebaliknya, memiliki kapasitas produksi cadangan terbesar di dunia dan mampu meningkatkan atau menurunkan produksi dengan cepat. Riyadh melihat peluang untuk merebut kembali pangsa pasar dari para pesaing non-OPEC, terutama produsen shale oil di Amerika Serikat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa hanya Arab Saudi yang benar-benar memiliki kapasitas fleksibel tersebut. Negara-negara OPEC lainnya sering kali terhambat oleh keterbatasan infrastruktur, instabilitas politik, atau sanksi ekonomi. Akibatnya, strategi kolektif menjadi semakin kompleks dan rentan terhadap konflik kepentingan internal.
Produsen Non-OPEC Meningkatkan Tekanan
Di tengah kehati-hatian OPEC+, produsen non-OPEC seperti AS, Brasil, dan Kanada terus meningkatkan produksi mereka. Teknologi baru, efisiensi dalam eksplorasi, serta investasi jangka panjang di sektor hulu membuat negara-negara ini tetap kompetitif meskipun harga minyak turun.
Produksi shale oil di AS, misalnya, telah pulih ke level pra-pandemi. Para produsen di Permian Basin, salah satu ladang minyak terbesar di dunia, mampu menjaga break-even point mereka di kisaran $45–$50 per barel, jauh di bawah harga pasar saat ini. Artinya, selama harga minyak tetap di atas $60, produsen AS masih memiliki ruang untuk untung dan ekspansi.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi OPEC+: jika mereka memangkas produksi untuk menopang harga, mereka kehilangan pangsa pasar; jika mereka meningkatkan produksi, harga bisa terjun bebas akibat kelebihan pasokan.
Kekhawatiran Akan Tren Penurunan Harga
Dengan segala ketidakpastian yang ada, pasar mulai menafsirkan tindakan OPEC+ sebagai langkah defensif, bukan ofensif. Tambahan pasokan yang kecil tidak cukup untuk memengaruhi keseimbangan pasar secara signifikan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa OPEC+ belum siap melakukan intervensi besar.
Beberapa analis memperkirakan bahwa, kecuali terjadi gangguan besar seperti konflik geopolitik atau lonjakan permintaan mendadak, harga minyak berpotensi terus meluncur ke bawah. Jika tidak ada perubahan fundamental, harga Brent bisa jatuh di bawah $60 per barel dalam beberapa bulan ke depan.
Investor dan pelaku industri pun mulai lebih waspada. Banyak perusahaan minyak kini menunda investasi baru, mengurangi belanja modal (capex), dan fokus pada efisiensi operasional.
Kondisi Saat Ini: Harga Minyak Masih dalam Tekanan
Per 6 Oktober 2025, harga Brent berada di kisaran $64,34 per barel, sedangkan WTI tercatat di $61 per barel. Kedua harga ini berada jauh dari puncak tahun lalu yang sempat menembus $90 per barel.
Volatilitas masih menjadi tema utama dalam pasar minyak, di mana sentimen jangka pendek lebih dominan daripada faktor fundamental jangka panjang. Faktor-faktor seperti laporan stok mingguan AS, berita geopolitik, dan perubahan kebijakan OPEC+ dapat memicu pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat.
Kesimpulan: Pasar Menanti Langkah Nyata OPEC+
Kebijakan “main aman” yang diambil OPEC+ mencerminkan kompleksitas dinamika energi global saat ini. Di satu sisi, mereka ingin mempertahankan harga agar tetap menguntungkan. Di sisi lain, mereka tidak ingin kehilangan cengkeraman terhadap pangsa pasar yang terus dikikis oleh pesaing non-OPEC.
Namun, dengan pasokan global terus bertambah dan permintaan yang melemah, kebijakan yang terlalu hati-hati justru dapat memberi sinyal negatif ke pasar. Jika tidak ada koreksi signifikan dalam kebijakan atau terjadi gangguan besar di pasar energi, harga minyak kemungkinan akan tetap dalam tekanan hingga awal 2026.















