BPF Malang

Image

Bestprofit | Perundingan AS-Iran Tekan Harga Minyak

Bestprofit (22/5) – Harga minyak turun pada hari Rabu (21/5), tertekan oleh kabar dimulainya kembali perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran serta data persediaan minyak yang mengecewakan dari pemerintah AS. Ketegangan geopolitik sempat mendongkrak harga, namun prospek diplomasi dan peningkatan pasokan membuat harga berbalik melemah.

Harapan Perundingan Nuklir Tekan Harga Minyak

Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Luar Negeri Oman mengumumkan bahwa Iran dan Amerika Serikat akan memulai putaran baru perundingan nuklir pada akhir pekan ini. Harapan terhadap diplomasi antara dua negara yang selama ini bersitegang memberikan sentimen positif bagi pasokan minyak global.

Iran adalah salah satu produsen utama dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Ketegangan yang lebih rendah antara Iran dan AS akan membuka kemungkinan pencabutan sanksi dan kembalinya minyak Iran ke pasar global dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini menekan ekspektasi harga minyak karena pasokan bisa meningkat.

Harga minyak Brent ditutup turun 47 sen, atau 0,7%, menjadi $64,91 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 46 sen, atau 0,7%, menjadi $61,57 per barel.

Bestprofit | Harga Minyak Tertekan Ketidakpastian dan Permintaan China

Ketegangan Geopolitik Sempat Dongkrak Harga

Sebelumnya, harga minyak sempat naik pada awal sesi perdagangan hari Selasa, menyusul laporan dari CNN yang mengutip intelijen AS. Laporan tersebut menyebut bahwa Israel sedang bersiap untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Ketegangan seperti ini biasanya memicu lonjakan harga minyak karena kekhawatiran akan gangguan pasokan.

“Serangan terhadap Iran dapat mengganggu aliran minyak dari salah satu produsen terbesar di Timur Tengah,” ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. Namun, harapan perundingan yang diumumkan kemudian oleh Oman meredakan ketegangan dan membawa harga kembali turun.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Risiko Pemblokiran Selat Hormuz Masih Membayangi

Meskipun perundingan kembali dibuka, kekhawatiran masih ada jika konflik memburuk. Iran berpotensi menggunakan opsi strategis berupa pemblokiran Selat Hormuz—jalur vital ekspor minyak dunia.

Sekitar 20% dari pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab. Jika jalur ini terganggu, pasokan global akan terganggu secara signifikan dan harga minyak bisa melonjak tajam.

“Jika ketegangan meningkat, kita mungkin akan melihat penurunan pasokan sekitar 500.000 barel per hari,” kata Priya Walia, analis dari Rystad Energy. Namun, ia menambahkan bahwa OPEC+ dapat mengimbangi gangguan semacam itu dengan cepat.

Produksi Kazakhstan Naik, Tantang Kesepakatan OPEC+

Tekanan terhadap harga juga datang dari sisi pasokan non-OPEC. Kazakhstan dilaporkan telah meningkatkan produksi minyak sebesar 2% pada bulan Mei, menurut sumber industri.

Kenaikan ini menentang upaya OPEC+ untuk menjaga harga minyak tetap stabil melalui pengurangan produksi. OPEC+—kelompok yang terdiri dari OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia dan Kazakhstan—selama ini berupaya memangkas produksi guna menjaga keseimbangan pasar.

Langkah Kazakhstan meningkatkan produksi di tengah usaha pengendalian pasokan bisa menjadi sinyal bahwa disiplin dalam blok OPEC+ mulai melemah, yang dapat berimplikasi pada kelebihan pasokan global.

Data Persediaan AS Menekan Harga

Faktor lain yang menekan harga minyak adalah laporan mingguan dari Badan Informasi Energi AS (EIA), yang menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah, bensin, dan sulingan secara mengejutkan.

Stok minyak mentah AS naik sebesar 1,3 juta barel, sementara persediaan bensin bertambah 800.000 barel dan stok sulingan meningkat sekitar 600.000 barel. Kenaikan persediaan ini menunjukkan bahwa permintaan bahan bakar di AS tidak setinggi yang diperkirakan, meskipun memasuki musim perjalanan musim panas.

Data ini menunjukkan bahwa pasokan domestik AS masih berlimpah, yang memberi tekanan tambahan terhadap harga minyak di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan secara global.

Sanksi AS Masih Jadi Faktor Penentu

Meskipun harapan perundingan meningkat, sanksi AS terhadap Iran masih berlaku dan tetap menjadi penghalang utama bagi peningkatan ekspor minyak Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya telah memberlakukan kembali sanksi berat terhadap sektor energi Iran sebagai bagian dari kebijakan tekanan maksimum.

Beberapa putaran perundingan telah dilakukan tahun ini antara kedua negara. Namun, hasilnya belum menunjukkan kemajuan signifikan, dan pelonggaran sanksi belum terjadi. Hal ini menimbulkan ketidakpastian tentang seberapa cepat minyak Iran bisa kembali mengalir ke pasar global.

Harga Minyak Rentan terhadap Volatilitas

Pasar minyak dunia tetap sangat sensitif terhadap berita dan perkembangan geopolitik. Satu hari, harga bisa melonjak akibat potensi konflik; hari berikutnya, harga bisa anjlok karena harapan diplomasi atau data pasokan yang mengecewakan.

“Sekarang kami akan melakukan putaran perundingan perdamaian lagi untuk mengimbangi premi risiko yang sebelumnya telah kami tambahkan ke harga,” tambah Phil Flynn. Artinya, pasar akan terus mencari keseimbangan antara risiko geopolitik dan realitas pasokan-permintaan.

Prospek Pasar Minyak ke Depan

Dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan tetap berfluktuasi tergantung pada hasil perundingan nuklir AS-Iran dan data pasokan global. Jika perundingan menunjukkan hasil positif dan membuka peluang pencabutan sanksi, harga bisa turun lebih lanjut. Namun, jika ketegangan kembali meningkat, pasar bisa melihat lonjakan harga tajam.

Selain itu, langkah OPEC+ dalam mengelola produksi serta kebijakan energi dari negara-negara besar seperti Rusia, AS, dan China juga akan memainkan peran penting dalam mengarahkan tren harga ke depan.

Kesimpulan: Antara Diplomasi dan Ketegangan

Harga minyak saat ini berada dalam persimpangan antara harapan dan kekhawatiran. Di satu sisi, diplomasi antara Iran dan AS bisa meredakan pasar dan membuka keran pasokan baru. Di sisi lain, ancaman konflik dan laporan persediaan yang mengejutkan menjadi sumber tekanan berkelanjutan.

Pasar energi global berada dalam kondisi sangat dinamis, dan pelaku pasar harus bersiap menghadapi volatilitas dalam beberapa pekan mendatang. Seiring perkembangan situasi politik, kebijakan energi, dan data pasar, harga minyak akan terus mencari titik keseimbangannya.