BPF Malang

Image

Bestprofit | Sinyal Trump Redam Pasar, Minyak Turun

Bestprofit (15/1) – Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa respons AS terhadap situasi di Iran tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, kawasan yang sangat vital bagi pasokan energi global. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak mencatat reli selama lima hari berturut-turut, sehingga koreksi dipandang sebagai reaksi wajar pasar terhadap perubahan sentimen.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun ke bawah level USD 61 per barel. Sementara itu, minyak Brent—acuan global—ditutup di bawah USD 67 per barel. Pelemahan ini menjadi penurunan pertama dalam enam hari terakhir, mengakhiri tren penguatan yang sebelumnya cukup solid.

Bestprofit | Pasar Minyak Menunggu Arah Iran–AS

Reli Lima Hari Terhenti

Sebelum terkoreksi, harga minyak dunia menikmati penguatan selama lima sesi berturut-turut. Reli tersebut sebagian besar dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait Iran, serta kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Namun, seperti yang sering terjadi di pasar komoditas, reli yang didorong oleh sentimen geopolitik sangat bergantung pada perkembangan berita terbaru. Begitu muncul sinyal deeskalasi atau penurunan risiko konflik, harga cenderung cepat menyesuaikan diri. Hal inilah yang terjadi setelah pernyataan terbaru dari Presiden Trump, yang menenangkan pasar dan memicu aksi ambil untung.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pernyataan Trump Meredakan Kekhawatiran Pasar

Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan menghentikan kekerasan terhadap para demonstran. Lebih penting bagi pasar energi, pernyataan ini diartikan sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil langkah militer dalam waktu dekat.

Bagi pelaku pasar, kecilnya kemungkinan aksi militer AS berarti berkurangnya risiko gangguan produksi minyak Iran maupun gangguan pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu rute terpenting pengiriman minyak dunia, sehingga setiap ancaman terhadap keamanannya hampir selalu berdampak besar pada harga.

Dengan meredanya risiko tersebut, premi geopolitik yang sebelumnya tertanam dalam harga minyak mulai tergerus.

Risiko Gangguan Pasokan Dinilai Menurun

Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, meskipun produksinya telah dibatasi oleh sanksi internasional. Setiap potensi konflik besar yang melibatkan Iran selalu menimbulkan kekhawatiran pasar akan berkurangnya pasokan global.

Namun, setelah pernyataan Trump, pelaku pasar mulai menilai bahwa risiko gangguan pasokan dari Iran saat ini relatif lebih kecil. Selain itu, ancaman terhadap jalur pelayaran utama juga dianggap menurun, sehingga tekanan ke atas harga minyak berkurang.

Dalam kondisi seperti ini, fokus pasar dengan cepat beralih dari isu geopolitik ke faktor fundamental lain, terutama pasokan dan permintaan.

Lonjakan Stok Minyak AS Tekan Harga

Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari data pemerintah Amerika Serikat yang menunjukkan peningkatan stok minyak mentah nasional sebesar 3,4 juta barel dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak awal November dan menjadi sinyal bahwa pasokan minyak di pasar AS masih cukup melimpah.

Bertambahnya stok biasanya diartikan sebagai melemahnya permintaan atau meningkatnya produksi. Dalam kedua kasus tersebut, kondisi ini cenderung menekan harga karena pasar menilai tidak ada kekurangan pasokan dalam waktu dekat.

Data stok ini memperkuat alasan bagi investor untuk melepas sebagian posisi beli setelah reli harga yang cukup panjang.

Pasar Kembali Fokus pada Fundamental

Dengan meredanya kekhawatiran geopolitik, pasar minyak kini kembali menaruh perhatian pada faktor fundamental. Di luar isu Iran, pasar global saat ini masih dihadapkan pada kondisi pasokan yang relatif memadai, terutama dari Amerika Serikat yang terus meningkatkan produksi minyak serpih.

Selain itu, pertumbuhan permintaan global juga menjadi sorotan. Ketidakpastian ekonomi di berbagai negara membuat proyeksi permintaan energi tidak setinggi beberapa tahun sebelumnya. Kombinasi antara pasokan yang cukup dan pertumbuhan permintaan yang moderat membuat ruang kenaikan harga menjadi lebih terbatas.

Pengaruh Ketegangan Venezuela Mulai Berkurang

Sebelumnya, harga minyak juga terdorong naik akibat krisis politik di Venezuela. Negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak penting dunia, dan ketidakstabilan politiknya sempat menimbulkan kekhawatiran akan penurunan produksi dan ekspor.

Namun, seiring berjalannya waktu, dampak krisis Venezuela terhadap pasar minyak global mulai dianggap lebih terbatas. Pasar menilai bahwa gangguan pasokan dari Venezuela sebagian telah diimbangi oleh peningkatan produksi dari negara lain, termasuk AS.

Akibatnya, faktor Venezuela kini tidak lagi menjadi pendorong utama pergerakan harga seperti sebelumnya.

Dinamika Jangka Pendek Masih Volatil

Meski harga minyak mengalami penurunan, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi dalam jangka pendek. Setiap pernyataan baru dari pejabat AS atau Iran berpotensi kembali mengubah sentimen pasar secara cepat.

Selain itu, data ekonomi dan laporan persediaan minyak mingguan juga akan terus menjadi perhatian utama. Perubahan kecil dalam proyeksi pasokan atau permintaan bisa memicu pergerakan harga yang cukup signifikan, terutama setelah periode reli dan koreksi seperti saat ini.

Apakah Tren Naik Masih Berlanjut?

Pertanyaan besar bagi pelaku pasar adalah apakah penurunan ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari tren turun yang lebih panjang. Banyak analis menilai bahwa koreksi ini lebih mencerminkan penyesuaian setelah reli lima hari berturut-turut, bukan perubahan arah tren secara drastis.

Namun, tanpa katalis geopolitik yang kuat, harga minyak akan lebih bergantung pada data fundamental. Jika stok terus meningkat dan permintaan tidak menunjukkan perbaikan signifikan, tekanan ke bawah bisa berlanjut.

Sebaliknya, setiap perkembangan geopolitik baru atau gangguan pasokan tak terduga masih berpotensi mendorong harga kembali naik.

Kesimpulan: Sentimen Tenang Picu Koreksi Sehat

Penurunan harga minyak dunia saat ini mencerminkan meredanya ketegangan geopolitik setelah pernyataan Presiden Trump yang menenangkan pasar. Ditambah dengan lonjakan stok minyak AS, tekanan terhadap harga menjadi semakin kuat.

Meski demikian, koreksi ini masih tergolong wajar setelah reli lima hari berturut-turut. Pasar kini kembali fokus pada keseimbangan pasokan dan permintaan, sambil tetap waspada terhadap risiko geopolitik yang sewaktu-waktu bisa kembali memanas.