BPF Malang

Image

Bestprofit | USD Menguat, EUR/USD Bertahan

Bestprofit (10/2) – Pasangan mata uang EUR/USD masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah mencatat penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut. Pada sesi Asia hari Selasa (10/1), pergerakannya terlihat relatif sempit dan bertahan di sekitar level 1,1900. Level ini berada sedikit di bawah puncak tertinggi lebih dari sepekan yang sempat dicapai pada perdagangan sebelumnya.

Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see dari pelaku pasar. Setelah reli yang cukup agresif, investor cenderung menahan diri sembari menunggu katalis baru yang mampu menentukan arah lanjutan EUR/USD. Meski demikian, struktur pergerakan secara keseluruhan masih menunjukkan bias yang cenderung positif bagi euro.

Jelang Data Jobs & Inflasi, Dolar Kendur di Awal Pekan

Dolar AS Memantul, Tapi Tenaganya Terbatas

Salah satu faktor yang menahan laju EUR/USD adalah pemantulan Dolar AS dari level terendah enam hari. Pemantulan ini memberi tekanan jangka pendek terhadap euro, sehingga membatasi ruang kenaikan lanjutan.

Namun, kenaikan dolar terlihat tidak mudah berlanjut. Pelaku pasar semakin yakin bahwa The Federal Reserve masih akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali lagi tahun ini. Ekspektasi tersebut membuat setiap penguatan dolar cenderung dimanfaatkan untuk aksi jual, alih-alih membentuk tren naik yang berkelanjutan.

Selain itu, pasar global saat ini cenderung berada dalam suasana risk-on. Dalam kondisi seperti ini, minat terhadap dolar AS sebagai aset safe-haven biasanya berkurang, sehingga permintaan dolar tidak sekuat ketika pasar berada dalam mode defensif.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Jadi Penekan USD

Faktor utama yang terus membayangi pergerakan dolar adalah ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Data ekonomi AS dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tanda-tanda moderasi, baik dari sisi inflasi maupun aktivitas ekonomi.

Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan. Pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, sebuah faktor yang secara struktural melemahkan dolar AS.

Selama ekspektasi ini bertahan, USD akan kesulitan membangun momentum kenaikan yang kuat. Hal ini secara tidak langsung memberi dukungan pada EUR/USD, meskipun pergerakannya masih diselingi fase konsolidasi jangka pendek.

Sentimen Risk-On Mengurangi Daya Tarik Safe Haven

Suasana pasar global yang relatif kondusif juga berkontribusi pada lemahnya permintaan dolar. Optimisme terhadap aset berisiko membuat investor lebih berani menempatkan dana pada saham, mata uang berimbal hasil lebih tinggi, dan instrumen lain yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam kondisi risk-on seperti ini, peran dolar sebagai aset lindung nilai menjadi kurang diminati. Akibatnya, setiap upaya penguatan USD cenderung bersifat sementara dan cepat kehilangan tenaga.

Situasi ini memberi ruang bagi euro untuk tetap bertahan di level tinggi, meskipun belum mampu menembus resistance penting dalam waktu dekat.

Isu Tiongkok Tambah Tekanan pada Obligasi AS dan USD

Dari sisi sentimen global, tekanan tambahan terhadap dolar datang dari laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa regulator Tiongkok menyarankan lembaga keuangan domestik untuk membatasi kepemilikan obligasi pemerintah AS. Langkah ini didorong oleh kekhawatiran terhadap volatilitas pasar dan risiko konsentrasi aset.

Meski belum tentu langsung berdampak besar, isu ini cukup sensitif bagi pasar keuangan global. Obligasi pemerintah AS selama ini menjadi salah satu instrumen paling likuid dan banyak dipegang oleh investor global, termasuk dari Tiongkok.

Jika minat terhadap obligasi AS benar-benar berkurang, hal tersebut berpotensi menekan permintaan dolar dalam jangka menengah, sehingga menjadi faktor negatif tambahan bagi USD dan relatif mendukung EUR/USD.

ECB Dinilai Lebih Hawkish Dibanding The Fed

Berbeda dengan The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) saat ini dinilai berada pada posisi yang relatif lebih hawkish. Sejak Juni lalu, ECB memilih menahan diri setelah melakukan rangkaian pemangkasan suku bunga sebelumnya.

Keputusan tersebut didukung oleh data pertumbuhan ekonomi Eropa yang relatif cukup solid. Beberapa indikator menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi kawasan euro tidak melemah sedalam yang dikhawatirkan, sehingga urgensi stimulus tambahan menjadi berkurang.

Sikap ECB yang lebih berhati-hati ini membuat selisih kebijakan moneter antara Eropa dan AS cenderung menguntungkan euro. Selama ECB tidak memberikan sinyal pelonggaran agresif, euro berpotensi tetap memiliki daya tarik di mata investor.

Kombinasi Fundamental Mendukung Bias Naik EUR/USD

Kombinasi antara ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sikap ECB yang relatif hawkish, serta sentimen global yang cenderung risk-on menciptakan lingkungan yang cukup kondusif bagi penguatan EUR/USD.

Meski pergerakan saat ini masih tertahan dalam fase konsolidasi, arah dasar (underlying trend) dinilai masih condong ke atas. Oleh karena itu, banyak pelaku pasar melihat potensi koreksi jangka pendek sebagai peluang beli, bukan sebagai awal pembalikan tren.

Pandangan ini membuat tekanan jual pada EUR/USD cenderung terbatas, selama tidak muncul kejutan besar dari sisi data ekonomi atau kebijakan moneter.

Pasar Menanti Data Penjualan Ritel AS

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Penjualan Ritel AS. Data ini akan memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi domestik, yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Jika data penjualan ritel menunjukkan pelemahan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bisa semakin menguat, yang berpotensi menekan dolar dan mendorong EUR/USD naik. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan bisa memberi dukungan sementara bagi USD.

Namun, dampak data ini kemungkinan bersifat terbatas dibandingkan dengan rilis data yang lebih krusial di akhir pekan.

NFP dan Inflasi AS Jadi Penentu Arah Berikutnya

Sorotan utama pasar tetap tertuju pada dua data penting dari Amerika Serikat, yakni laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang tertunda dan data inflasi konsumen (CPI) yang akan dirilis pada Jumat.

Laporan NFP akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Sementara itu, data inflasi akan menjadi indikator kunci bagi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Kombinasi kedua data ini biasanya menjadi pemicu volatilitas terbesar bagi pergerakan EUR/USD. Hasil yang lebih lemah dari perkiraan dapat membuka jalan bagi euro untuk melanjutkan penguatan, sementara kejutan positif dari sisi ekonomi AS berpotensi memicu koreksi yang lebih dalam.

Kesimpulan: Konsolidasi Sehat di Tengah Bias Positif

Pergerakan EUR/USD yang cenderung sempit saat ini dapat dilihat sebagai fase konsolidasi yang sehat setelah reli kuat dua hari sebelumnya. Dolar AS memang sempat memantul, namun faktor-faktor fundamental yang membebani USD masih cukup dominan.

Dengan ECB yang relatif lebih hawkish dan The Fed yang diperkirakan melanjutkan pelonggaran kebijakan, bias jangka menengah EUR/USD masih dinilai lebih mudah ke atas. Selama tidak ada perubahan signifikan pada narasi fundamental, koreksi jangka pendek berpotensi menjadi peluang bagi pelaku pasar yang mencari posisi beli.

Arah selanjutnya kini sangat bergantung pada hasil rilis data ekonomi utama AS, yang akan menjadi penentu sentimen dan volatilitas dalam beberapa hari ke depan.