Dolar AS bergerak melemah dan mendekati level terendah satu minggu terhadap mata uang utama pada Rabu, karena
Pasar sudah hampir yakin The Fed akan memangkas
suku bunga 0,25 poin persen malam ini. Para trader sekarang lebih fokus ke arah omongan Jerome Powell di konferensi pers nanti.
Pasar sudah harga-in skenario dovish bukan cuma untuk hari ini, tapi juga potensi pemangkasan lagi di Desember. Artinya: kalau Powell terdengar kurang dovish dari yang diharapkan, volatilitas bisa langsung naik.
Terhadap yen Jepang,
Dolar AS turun lagi ke sekitar 151,84 yen. Penurunan ini terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberi sinyal bahwa pemerintahan Jepang yang baru sekarang lebih terbuka terhadap kenaikan
suku bunga Bank of Japan. Komentarnya di X menyebutkan bahwa memberi ruang kebijakan pada BOJ penting untuk menahan inflasi dan mengurangi gejolak kurs. Ini bikin
Pasar mulai mikir: yen mungkin nggak dibiarkan terlalu lemah terus.
Di Australia, justru kebalikannya:
Dolar Australia (Aussie) menguat. AUD naik sekitar 0,3% ke $0,6604 setelah data inflasi kuartal III keluar lebih panas dari perkiraan. Inflasi yang lebih tinggi itu bikin
Pasar ragu apakah bank sentral Australia (RBA) benar-benar akan menurunkan
suku bunga minggu depan. Jadi, sementara di AS pelonggaran jadi topik, di Australia justru kekhawatiran inflasi yang ngomong.
Secara global, pelaku
Pasar juga lagi mantau politik dan risiko perdagangan. Presiden AS Donald Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis di Korea Selatan untuk membahas kerangka kesepakatan yang bisa menahan
Tarif baru AS dan ekspor mineral langka dari China. Euro stabil di sekitar $1,1655, sementara poundsterling naik tipis ke $1,3278. Selain The Fed hari ini,
Pasar juga nunggu Bank of Japan pada Kamis dan Bank Sentral Eropa, yang diperkirakan tahan
suku bunga. Semua ini bikin
Pasar valuta asing lagi sensitif banget sama setiap kata dari bank sentral.(asd)
Sumber:
newsmaker.id