Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada Senin (13/10), setelah perubahan nada dari Presiden AS Donald Trump menurunkan ketegangan dagang yang memanas dengan Tiongkok. Sementara itu, perkembangan politik di Prancis dan Jepang menekan kinerja euro dan yen.
Indeks
Dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,31% menjadi 99,29, pulih dari pelemahan akhir pekan lalu setelah Trump mengumumkan
Tarif 100% atas seluruh impor dari Tiongkok. Langkah tersebut mengingatkan
Pasar pada kebijakan
Tarif besar-besaran yang diumumkan Trump pada Hari Pembebasan bulan April lalu dan sempat memicu aksi jual di
Pasar saham serta kripto pada Jumat.
“Ini semacam pengulangan dari apa yang terjadi setelah Liberation Day,” kata Eugene Epstein, Kepala Perdagangan dan Produk Terstruktur di Moneycorp, New Jersey.
“Secara tradisional,
Dolar AS biasanya menguat ketika
Pasar berada dalam mode risk-off atau penuh tekanan. Namun seperti pada Hari Pembebasan, yang terjadi justru sebaliknya karena ketegangan dagang antara AS dan mitra dagangnya, dalam hal ini Tiongkok. Setiap kali ketegangan semacam itu muncul, justru orang-orang menjual
Dolar AS,” jelasnya.
Dolar AS naik 0,80% menjadi 0,804 terhadap franc Swiss, setelah sebelumnya melemah pada sesi sebelumnya.
Nada Trump Melunak
Setelah mengumumkan
Tarif 100% pada Jumat, Trump melunak pada Minggu dengan mengatakan:
“Jangan khawatir tentang Tiongkok, semuanya akan baik-baik saja! Presiden Xi yang sangat dihormati hanya mengalami momen sulit,” tulis Trump di jejaring sosial Truth Social. “Dia tidak menginginkan depresi bagi negaranya, dan saya pun tidak. Amerika Serikat ingin membantu Tiongkok, bukan menyakitinya!!!”
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin menambahkan bahwa ia yakin ketegangan tersebut dapat “diredakan,” yang turut menahan sebagian kenaikan
Dolar.
“Saya masih percaya bahwa di antara mata uang negara maju,
Dolar AS tetap menjadi aset safe haven utama tentu saja bersama franc Swiss. Pekan lalu, skenarionya masih sama: setiap kali muncul ketegangan dagang, orang menjual
Dolar. Tapi hari ini, kondisinya berbalik karena ketegangan tampaknya mulai mereda,” tambah Epstein.
Di Eropa,
Pasar cenderung mengabaikan pengumuman kabinet baru Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu pada Minggu, yang kembali menunjuk Roland Lescure sekutu dekat Presiden Emmanuel Macron sebagai Menteri Keuangan.
Euro terakhir tercatat turun 0,46% ke $1,1565 setelah sempat menguat terhadap
Dolar di sesi sebelumnya. Terhadap yen Jepang,
Dolar naik 0,77% menjadi 152,31, di tengah volume perdagangan tipis karena hari libur nasional di Jepang.
Sementara para pelaku
Pasar sering meminjam mata uang dengan imbal hasil rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi, praktik yang dikenal sebagai carry trade. Yen Jepang dan franc Swiss, yang umumnya digunakan sebagai mata uang pendanaan, yang menjadi yang paling tertekan pada hari ini.
Dolar Australia, yang biasanya menguat dalam kondisi
Pasar risk-on, naik 0,71% ke $0,615 dan menjadi salah satu mata uang utama dengan kinerja terbaik terhadap
Dolar AS pada ini. Sementara poundsterling melemah 0,21% ke $1,333, dan
Dolar AS melemah tipis 0,13% menjadi 7,1372 terhadap yuan Tiongkok di luar negeri.(yds)
Sumber: CNBC.com