
Harga
Perak masih melanjutkan penurunannya di sekitar $48,10/oz pada hari Rabu (22/10) seiring
Penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury yang memangkas daya tarik logam mulia tanpa imbal hasil. Komentar bernada “higher-for-longer” dari pejabat The Fed menjaga ekspektasi kebijakan tetap ketat, mendorong arus ke aset berdenominasi
Dolar dan memicu pelepasan posisi pada kompleks logam mulia. Koreksi lanjutan di
Emas turut membebani
Perak lewat hubungan korelatif, sementara selera risiko global melemah setelah
Pasar ekuitas kehilangan momentum.
Dari sisi fundamental permintaan, investor masih menimbang sinyal yang bercampur. Prospek industri Tiongkok—konsumen
Perak terbesar untuk elektronik dan panel surya—terlihat rapuh meski ada dukungan kebijakan sektor properti. Di Eropa, aktivitas manufaktur yang lesu menahan permintaan logam industri, namun tren jangka menengah tetap ditopang oleh ekspansi kapasitas energi surya, elektrifikasi kendaraan, dan kebutuhan soldering/komponen semikonduktor. Aliran dana dari ETF
Perak dilaporkan menipis dalam beberapa pekan terakhir, memperlihatkan kehati-hatian, sedangkan data posisi berjangka menunjukkan pemangkasan net-long oleh spekulan.
Ke depan, arah
Perak akan ditentukan oleh data aktivitas pabrik global, rilis inflasi AS, serta komentar The Fed.
Penguatan Dolar berisiko memperpanjang tekanan, tetapi kejutan pelemahan pada data AS atau stimulus tambahan dari Tiongkok dapat memicu short-covering. Secara teknikal, pelaku
Pasar memantau area support dekat swing-low terbaru dan rasio
Emas–
Perak; penembusan support membuka ruang koreksi lebih dalam, sementara reaksi beli di area itu bisa memantik rebound taktis. (Arl)
Sumber :
newsmaker.id