Dolar jatuh ke level terendah dalam sepekan terhadap mata uang utama lainnya pada hari Rabu (1/10), karena penutupan
Pemerintah AS mengguncang
Pasar dan mengancam akan menunda rilis data ketenagakerjaan penting, yang dianggap krusial bagi keputusan kebijakan Federal Reserve.
Penutupan dimulai hanya beberapa jam setelah Senat menolak langkah pengeluaran jangka pendek yang seharusnya membuat operasional
Pemerintah tetap berjalan hingga 21 November. Pemimpin Partai Republik di Senat, John Thune, mengatakan bahwa Senat akan menggelar pemungutan suara ulang terhadap rancangan undang-undang yang telah disetujui DPR pada hari Rabu. Sidang Senat dijadwalkan dimulai pukul 14.00 GMT.
Indeks
Dolar, yang melacak pergerakan mata uang AS terhadap enam mata uang utama, turun 0,2%. Pergerakan harga di
Pasar yang lebih luas menunjukkan tanda-tanda pembelian aset aman (safe haven), mendorong permintaan untuk mata uang dengan imbal hasil rendah seperti yen Jepang dan franc Swiss, sementara
Obligasi Pemerintah AS dan
Emas tetap stabil.
SAFE HAVEN ATAU BUKAN?
Kepala strategi valuta asing Rabobank, Jane Foley, mengatakan bahwa cukup sulit untuk memastikan apakah
Penguatan yen didorong oleh permintaan safe haven atau spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan
suku bunga.
“Ini
Pasar yang bahkan tidak yakin apakah mereka harus khawatir. Tidak tampak jelas ada pembelian besar-besaran untuk aset aman. Tapi ada sedikit bukti bahwa permintaan itu memang ada,” ujarnya.
Dolar melemah 0,5% terhadap yen, mencapai level terlemah dalam dua minggu terakhir, dan turun sekitar 0,2% terhadap franc Swiss, yang juga merupakan mata uang safe haven tradisional.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Partai Demokrat di Kongres pada hari Selasa bahwa jika
Pemerintah federal ditutup, pemerintahannya akan melakukan tindakan “yang tidak dapat diubah”, termasuk menutup program-program penting bagi lawan politiknya.
Departemen Tenaga Kerja dan Perdagangan AS mengatakan bahwa badan statistik mereka akan menghentikan rilis data jika terjadi penutupan sebagian. Termasuk di dalamnya laporan Nonfarm Payrolls yang dijadwalkan pada hari Jumat — data ini sangat diperhatikan
Pasar untuk menilai kemungkinan pemangkasan
suku bunga oleh The Fed pada akhir bulan ini.
FOKUS PADA DATA KETENAGAKERJAAN AS
Pada hari Selasa, laporan JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) memberikan hasil campuran dan menekan nilai
Dolar. Laporan itu menunjukkan bahwa lowongan kerja di AS meningkat tipis pada bulan Agustus, sementara angka perekrutan justru menurun — sejalan dengan tanda-tanda pelemahan
Pasar tenaga kerja.
Dengan tertundanya data resmi, perhatian
Pasar kini akan beralih pada indikator ekonomi dari sektor swasta. Salah satunya adalah laporan ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis pada Rabu waktu AS.
EROPA LESU
Sementara itu, euro mengabaikan hasil survei yang dirilis hari Rabu, yang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur zona euro kembali menyusut pada bulan lalu, dengan pesanan baru jatuh pada laju tercepat dalam enam bulan.
Meski begitu, euro naik 0,25% menjadi $1,1763, mendekati level tertinggi dalam seminggu. Euro sendiri telah menguat 0,2% sepanjang September dan naik 13,5% sejak awal tahun ini.(yds)
Sumber: Reuters