
Harga
Perak diperdagangkan naik di sekitar $41,1 per ons pada perdagangan sesi AS hari Senin (8/9), setelah pekan lalu sempat menyentuh level tertinggi sejak 2011. Kenaikan harga logam mulia ini masih ditopang oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas
suku bunga. Laporan ketenagakerjaan AS yang lemah pekan lalu memperkuat keyakinan pelaku
Pasar bahwa Fed tidak akan menunda pelonggaran kebijakan moneternya, sehingga memberikan dorongan tambahan bagi harga
Perak.
Selain faktor makroekonomi, permintaan industri turut menopang reli
Perak. Lonjakan penggunaan panel surya dan teknologi ramah lingkungan membuat kebutuhan
Perak semakin meningkat, terutama di Tiongkok dan India. Analis mencatat bahwa tren energi bersih mendorong konsumsi logam ini dalam jangka panjang. Di sisi lain, investor juga terus mencermati perkembangan geopolitik, termasuk ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, yang berpotensi meningkatkan volatilitas
Pasar komoditas.
Ke depan, para analis memperkirakan harga
Perak akan menguji kembali area psikologis $41,5 per ons. Jika tembus, target berikutnya berada di sekitar $42,0. Namun, potensi koreksi teknikal tetap terbuka mengingat indikator RSI menunjukkan kondisi overbought. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan rilis data inflasi AS pekan ini, yang dapat menjadi katalis utama arah harga
Perak selanjutnya.
Sumber :
newsmaker.id