
Harga
Minyak merosot pada Kamis (11/9), ditutup sekitar 2% lebih rendah karena kekhawatiran akan potensi pelemahan permintaan di AS dan kelebihan pasokan secara luas mengimbangi ancaman terhadap produksi akibat konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina.
Kontrak berjangka Brent turun $1,12 atau 1,7% menjadi $66,37 per barel.
Minyak AS West Texas Intermediate (WTI) turun $1,30 atau 2,0% menjadi $62,37 pada penutupan.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya menyatakan pasokan
Minyak dunia tahun ini akan naik lebih cepat dari perkiraan karena rencana peningkatan produksi oleh OPEC+, organisasi negara-negara pengekspor
Minyak dan sekutunya seperti Rusia.
“Harga
Minyak turun hari ini merespons judul-judul bernada bearish dari IEA, yang menyiratkan kelebihan pasokan besar di
Pasar Minyak tahun depan,” kata analis Commerzbank Carsten Fritsch.
Pada Minggu, OPEC+ sepakat menaikkan produksi mulai Oktober. Namun dalam laporan lain, OPEC mempertahankan proyeksi pasokan dari non-OPEC dan permintaan tahun ini tanpa perubahan, dengan alasan permintaan yang stabil.
Pasar terombang-ambing antara persepsi kekurangan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan Ukraina, dan realitas kelebihan pasokan dari produksi OPEC+ yang lebih tinggi serta stok yang membengkak, ujar analis PVM Oil Associates Tamas Varga.
Ekspor
Minyak mentah Arab Saudi, pemimpin OPEC, ke China diperkirakan melonjak, kata beberapa sumber perdagangan kepada Reuters pada Kamis. Perusahaan energi milik negara Aramco akan mengirim sekitar 1,65 juta barel per hari pada Oktober, naik tajam dari alokasi 1,43 juta barel per hari pada September.
Pasar juga mempertanyakan berapa lama China dapat terus menyerap pasokan dan menjaga persediaan negara-negara OECD tetap rendah, kata analis UBS Giovanni Staunovo, seraya menambahkan investor juga mencermati potensi sanksi lanjutan yang memengaruhi
Minyak Rusia.
Di Rusia—produsen
Minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS pada 2024—pendapatan dari penjualan
Minyak mentah dan produk
Minyak pada Agustus turun ke salah satu level terendah sejak awal konflik di Ukraina, menurut IEA.
Menteri Energi AS Chris Wright dan Komisioner Eropa untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen membahas upaya membatasi perdagangan energi Rusia dalam pertemuan di Brussel. Jorgensen mengatakan tenggat yang direncanakan Uni Eropa ambisius, tetapi proses perlu dipercepat.
Sementara itu di India, operator pelabuhan swasta terbesar, Adani Group, melarang masuknya ke pelabuhannya bagi kapal tanker yang dikenai sanksi oleh negara-negara Barat, menurut tiga sumber dan dokumen yang dilihat. Langkah ini berpotensi mengganggu pasokan
Minyak Rusia untuk dua kilang India.(yds)
Sumber: Reuters