
Harga
Minyak melemah pada Rabu (17/9) setelah data yang menunjukkan kenaikan persediaan solar (diesel) AS memicu kekhawatiran terhadap permintaan, sementara Federal Reserve memangkas
suku bunga sesuai ekspektasi.
Kontrak berjangka Brent ditutup turun 52 sen, atau 0,76%, ke $68,22 per barel. West Texas Intermediate (WTI) AS turun 47 sen, atau 0,73%, ke $64,05 per barel.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan
Minyak mentah AS turun tajam pekan lalu akibat lonjakan ekspor dan penurunan impor. Namun, kenaikan stok distilat memicu kekhawatiran permintaan dan menahan kenaikan harga, kata para analis. “Tampaknya
Pasar bereaksi pada diesel, yang merupakan titik lemah dari keseluruhan kompleks,” ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
The Fed pada Rabu memangkas
suku bunga sebesar seperempat poin persentase seperti yang diperkirakan, dan mengindikasikan akan menurunkan
suku bunga secara bertahap sepanjang sisa tahun ini, seiring pembuat kebijakan merespons kekhawatiran pelemahan ekonomi.
“Ini bukan hal yang tak terduga,” kata Phil Flynn. “Saat ini
Pasar cenderung berada di tengah, memainkan kedua sisi.” Dari sisi pasokan, Kazakhstan melanjutkan pasokan
Minyak melalui pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan pada 13 September, setelah bulan lalu dihentikan karena masalah kontaminasi, kata perusahaan energi negara Kazmunaygaz pada Rabu.
Sumber: Reuters